Konflik Roblox dan YouTuber: Terkait Predator Anak, Roblox Dicap Munafik

AKURAT.CO Roblox, salah satu platform game online terbesar di dunia, kini menjadi sorotan publik setelah terlibat konflik panas dengan seorang YouTuber bernama Schlep, yang dikenal aktif membongkar dugaan predator anak di dalam platform game tersebut. Tagar boikot Roblox pun menggema di media sosial.
Kasus ini memicu perdebatan luas soal keamanan anak di internet, tindakan main hakim sendiri (vigilante), dan tuduhan bahwa Roblox bersikap munafik dalam menangani predator anak.
Awal Mula Konflik Roblox vs YouTuber Schelp: Pemblokiran Akun dan Gugatan Hukum
CEO Roblox, David Baszucki, menjadi pusat kemarahan netizen setelah perusahaan menghapus seluruh akun Roblox milik Schlep dan mengirimkan surat perintah pemblokiran akun.
Dalam dokumen hukum yang diunggah ke platform X, pengacara Roblox menuding Schlep melanggar aturan dengan melakukan simulasi membahayakan anak dan menyebarkan informasi pribadi, yang dinilai melewati jalur moderasi resmi.
Schlep, seorang pemburu predator independen dengan lebih dari 767 ribu subscriber YouTube, mengklaim bahwa investigasinya telah membantu menangkap sedikitnya enam orang yang mencoba merayu anak di bawah umur di Roblox. Ia menuduh perusahaan mengabaikan bukti predator anak yang sudah ia laporkan.
Dalam videonya, Schlep mengungkap bahwa misinya berawal dari pengalaman pribadi: saat kecil ia pernah dirayu di platform tersebut, hingga membuatnya mencoba bunuh diri.
Ia juga menyebut bahwa CEO Roblox memblokirnya di X, menambah tensi konflik ini.
Tagar #FreeSchlep dan #BoycottRoblox pun viral, didukung YouTuber besar seperti MoistCr1TiKal dan JiDeon. Petisi untuk memaksa Baszucki mundur telah ditandatangani lebih dari 48 ribu orang.
Konflik Roblox dan YouTuber Meluas ke Politik
Kontroversi ini sampai ke ranah politik. Ro Khanna, anggota Kongres AS, meluncurkan petisi daring untuk menuntut Roblox memperkuat perlindungan anak. Senator Ted Cruz juga dihubungi Schlep agar kasus ini mendapat perhatian legislatif, meski belum ada konfirmasi tanggapan.
Merespons gelombang kritik, Roblox merilis pernyataan bahwa mereka melarang kelompok vigilante karena justru menciptakan lingkungan yang tidak aman.
Menurut perusahaan, metode main hakim sendiri sering melibatkan penyamaran sebagai anak di bawah umur untuk memancing percakapan seksual di luar platform. Roblox menegaskan bahwa jalur pelaporan resmi lebih aman daripada tindakan independen.
Roblox memiliki lebih dari 111 juta pengguna aktif harian, mayoritas anak-anak dan remaja, menjadikannya target empuk predator online.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








