Festival Musik Inggris Minta Maaf Setelah 'Sabotase' Penampilan Band Irlandia yang Kibarkan Bendera Palestina

AKURAT.CO Festival musik Victorious di Portsmouth, Inggris menjadi sentral kontroversi, setelah panitia menyabotase penampilan sebuah band Irlandia dengan mematikan mikrofon. Pangkalnya, band tersebut mengibarkan bendera Palestina. Insiden ini memicu protes luas dan membuat pihak festival akhirnya meminta maaf serta berjanji memberikan “sumbangan substansial” untuk bantuan kemanusiaan Palestina.
Kronologi Kejadian
Band folk Irlandia Mary Wallopers memulai penampilan mereka pada Sabtu (24/8) dengan memasang bendera Palestina berukuran besar di atas pengeras suara. Salah satu vokalis, Andrew Hendy, bahkan membuka konser dengan teriakan, “Bebaskan Palestina, dan persetan dengan Israel,” yang langsung disambut tepuk tangan meriah penonton.
Namun, tindakan tersebut melanggar aturan festival yang melarang pengibaran bendera oleh artis. Staf festival segera menurunkan bendera, dan ketika band menolak untuk menghentikan aksinya, mikrofon mereka dimatikan. Meski begitu, Hendy masih memimpin nyanyian “Bebaskan Palestina” dengan bantuan banjo yang masih terhubung ke sistem suara.
Panitia Festival Meminta Maaf
Awalnya, pihak festival mengeluarkan pernyataan bahwa Mary Wallopers menggunakan nyanyian dengan “konteks diskriminatif.” Namun setelah video insiden menyebar dan sejumlah band lain memutuskan mundur sebagai bentuk solidaritas, panitia festival mengubah sikapnya.
Dalam pernyataan terbaru, Victorious Festival menyampaikan permintaan maaf resmi.
“Kami tidak menangani kebijakan ini secara sensitif sejak awal, sehingga menempatkan band dan tim kami dalam situasi sulit yang seharusnya tidak terjadi. Kami ingin meminta maaf dengan tulus kepada semua pihak yang terlibat,” tulis penyelenggara.
Mereka juga menegaskan mendukung kebebasan berekspresi para artis selama sesuai hukum dan semangat inklusif festival.
Band Lain Bereaksi
Insiden ini mendapat perhatian dari musisi lain. Ezra Koenig, vokalis Vampire Weekend yang beragama Yahudi, menilai Mary Wallopers layak mendapatkan permintaan maaf.
“Jika seseorang dihukum hanya karena mengibarkan bendera, itu salah. Penderitaan rakyat Palestina layak mendapat simpati kita semua,” ujarnya.
Selain itu, sejumlah band turut membantu Mary Wallopers melanjutkan penampilan mereka.
Kasus di festival Victorious bukan yang pertama di Eropa. Beberapa bulan terakhir, isu solidaritas Palestina kerap muncul di panggung musik internasional.
Di Glastonbury Festival, vokalis Bob Vylan memimpin nyanyian “Matilah IDF” hingga visanya ke AS dibatalkan. Fontaines D.C. di Spanyol memproyeksikan pesan “Israel sedang melakukan genosida”. Sementara itu, Kneecap di Coachella, AS, menampilkan tulisan “F–k Israel” dan menghadapi kasus hukum di Inggris setelah mengibarkan bendera Hizbullah.
Mary Wallopers sendiri baru-baru ini juga memimpin nyanyian “Bebaskan Palestina” saat tampil di Paris, meski mendapat tekanan dari pihak festival setempat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









