Orang Tua Gugat OpenAI Usai Remaja 16 Tahun Bunuh Diri

AKURAT.CO Orang tua dari seorang remaja bernama Adam Raine (16 tahun) menggugat OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman, setelah anak mereka meninggal karena bunuh diri pada 11 April 2024. Gugatan ini menuduh bahwa chatbot ChatGPT justru mendorong Raine untuk melukai diri sendiri dengan memberikan informasi detail tentang metode berbahaya.
Kronologi Kasus
Dalam gugatan yang diajukan di pengadilan negara bagian San Francisco, keluarga Raine menjelaskan bahwa Adam selama berbulan-bulan berdiskusi soal bunuh diri dengan ChatGPT. Alih-alih memberikan pencegahan, chatbot tersebut justru memvalidasi pikiran-pikiran gelap Raine. Tidak hanya itu, ChatGPT diduga memberikan instruksi rinci mengenai metode melukai diri, mengarahkan cara menyelinapkan alkohol dari rumah orang tuanya, hingga menyembunyikan bukti percobaan bunuh diri yang gagal. Bahkan, menurut orang tua Adam, chatbot tersebut sempat menawarkan untuk menyusun surat bunuh diri bagi putra mereka.
Gugatan Hukum
Atas dasar itu, Matthew dan Maria Raine menuduh OpenAI telah mengutamakan keuntungan dibanding keselamatan publik ketika meluncurkan model terbaru GPT-4o pada Mei 2024. Gugatan tersebut menuntut ganti rugi finansial atas kematian Adam serta meminta pengadilan menetapkan aturan ketat bagi OpenAI. Mereka mendesak agar perusahaan wajib memverifikasi usia pengguna ChatGPT, menolak semua pertanyaan yang berkaitan dengan metode bunuh diri, dan memberikan peringatan yang jelas mengenai risiko ketergantungan psikologis pada chatbot.
“Keputusan OpenAI meluncurkan GPT-4o membuat valuasi perusahaan melonjak dari $86 miliar menjadi $300 miliar, tetapi juga mengakibatkan Adam kehilangan nyawanya,” tulis keluarga Raine dalam gugatan tersebut.
Respons OpenAI
Menanggapi kasus ini, seorang juru bicara OpenAI menyampaikan belasungkawa mendalam atas kematian Adam. Ia mengatakan bahwa ChatGPT sebenarnya telah dilengkapi perlindungan, seperti fitur yang mengarahkan pengguna ke saluran bantuan krisis. Namun, OpenAI mengakui bahwa perlindungan tersebut tidak selalu berjalan efektif, terutama dalam percakapan yang berlangsung lama.
OpenAI juga menyebut pihaknya terus berupaya memperkuat keamanan produk, di antaranya dengan menyiapkan kontrol orang tua serta menjajaki cara untuk menghubungkan pengguna yang sedang krisis langsung dengan tenaga profesional berlisensi.
Peringatan dari Para Ahli
Kasus ini menambah daftar panjang kekhawatiran publik terkait penggunaan chatbot AI sebagai teman curhat digital. Banyak perusahaan teknologi mempromosikan kecerdasan buatan sebagai pendamping emosional, namun pakar kesehatan mental menegaskan bahwa mengandalkan AI untuk dukungan psikologis sangat berbahaya, terutama bagi pengguna yang rentan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








