Kasus PMS AS Turun, Sifilis Bayi Tetap Naik 2024

AKURAT.CO Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan bahwa kasus penyakit menular seksual (PMS) di Amerika Serikat menurun sepanjang 2024. Namun, peningkatan sifilis kongenital—penularan dari ibu hamil ke bayi—tetap menjadi ancaman serius.
Penurunan Kasus pada Orang Dewasa
Menurut data sementara CDC, sepanjang 2024 tercatat sekitar 1,5 juta kasus klamidia, 543 ribu kasus gonore, dan lebih dari 190 ribu kasus sifilis primer serta sekunder, yang merupakan tahap paling menular dari penyakit ini. Angka-angka tersebut menunjukkan tren penurunan dibanding tahun 2023, dengan total lebih dari 2,2 juta kasus PMS, atau turun sekitar 9 persen dari tahun sebelumnya.
Para pakar menyebut penurunan ini terkait beberapa faktor. Dr. Jeffrey Klausner, peneliti penyakit menular dari University of Southern California, menjelaskan bahwa anak muda kini cenderung memiliki lebih sedikit pasangan baru. Selain itu, penggunaan antibiotik doxycycline sebagai semacam “pil pencegahan setelah berhubungan seks” di kalangan pria gay, biseksual, dan perempuan transgender juga membantu menekan penyebaran sifilis. CDC mencatat, kasus sifilis primer dan sekunder bahkan menurun hingga 22 persen pada 2024.
Sifilis pada Bayi Terus Meningkat
Berbeda dengan tren pada orang dewasa, sifilis bawaan pada bayi justru terus meningkat. Kasusnya naik tajam dari sekitar 300 bayi pada 2012 menjadi hampir 4.000 bayi pada 2024. Meski kenaikannya tahun lalu relatif kecil—kurang dari 2 persen dibanding 2023—angka ini tetap mengkhawatirkan.
Infeksi sifilis pada bayi dapat menimbulkan dampak serius, mulai dari kematian hingga masalah kesehatan seumur hidup seperti tuli, buta, dan kelainan tulang. Elizabeth Finley, Direktur Interim National Coalition of STD Directors, menegaskan bahwa tren ini menunjukkan upaya perlindungan terhadap ibu hamil dan bayi masih belum memadai. “Kenaikan sifilis kongenital adalah sinyal bahwa kita belum melakukan cukup banyak untuk melindungi mereka,” ujarnya.
Tantangan Pemeriksaan Kehamilan
Salah satu penyebab utama tingginya kasus sifilis pada bayi adalah rendahnya tingkat pemeriksaan selama kehamilan. Berdasarkan studi CDC terbaru, hanya sekitar 80 persen ibu hamil di Amerika Serikat yang menjalani tes sifilis. Rendahnya cakupan skrining ini membuka celah bagi penularan penyakit dari ibu ke bayi yang seharusnya bisa dicegah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







