Akurat
Pemprov Sumsel

Pendaki Everest yang Selamat Ceritakan Perjuangan Melawan Hipotermia ketika Badai Salju

Kumoro Damarjati | 6 Oktober 2025, 21:32 WIB
Pendaki Everest yang Selamat Ceritakan Perjuangan Melawan Hipotermia ketika Badai Salju

 

AKURAT.CO Ratusan pendaki dilaporkan terjebak badai salju besar yang melanda lereng timur Gunung Everest di wilayah Tibet, Tiongkok, pada akhir pekan lalu. Setidaknya satu orang tewas, sementara tim penyelamat masih berupaya mengevakuasi lebih dari 200 pendaki lainnya.

Badai salju yang terjadi sejak Jumat malam (3/10/2025) datang secara mendadak dan semakin memburuk sepanjang akhir pekan. Cuaca ekstrem itu membuat jalan pendakian tertutup salju tebal dan banyak tenda roboh. Wilayah terdampak berada di ketinggian sekitar 4.900 meter di atas permukaan laut, lokasi populer bagi pendaki yang ingin menikmati panorama Himalaya.

Menurut laporan media pemerintah Tiongkok, hingga Senin (6/10/2025), sekitar 350 orang telah berhasil dievakuasi ke kota kecil Qudang, sementara ratusan lainnya masih menunggu bantuan. Penduduk desa dan relawan turut dikerahkan untuk membantu membersihkan jalur yang tertimbun salju dan membuka akses bagi tim penyelamat.

Pendaki Alami Hipotermia di Tengah Badai

Beberapa pendaki menceritakan pengalaman mereka menghadapi badai tersebut. Salah satunya Dong Shuchang, fotografer alam berusia 27 tahun, yang mengaku hampir tidak tidur selama badai berlangsung karena khawatir tertimbun salju.

“Petir dan hujan salju turun tanpa henti. Jas hujan kami tidak mampu menahan dingin, semua orang basah kuyup,” ujarnya kepada media lokal. Ia bersama kelompoknya yang beranggotakan 20 orang terpaksa mundur setelah mencapai ketinggian 4.600 meter.

Dong mengatakan beberapa rekannya menunjukkan gejala hipotermia—kondisi berbahaya ketika suhu tubuh turun drastis akibat dingin ekstrem. “Kami sudah beberapa kali ke Himalaya, tapi belum pernah menghadapi cuaca seperti ini,” tambahnya.

Pendaki lain, Chen Geshuang, mengungkapkan hal serupa. Menurutnya, salju setebal satu meter membuat perjalanan pulang sangat berat. “Kami semua pendaki berpengalaman, tetapi badai ini luar biasa. Saya sangat beruntung bisa keluar dengan selamat,” katanya.

Evakuasi Terhambat Cuaca dan Medan Berat

Tim penyelamat melaporkan kondisi di lapangan sangat sulit. Salju tebal membuat perjalanan lambat, sementara jarak pandang sangat terbatas. Salah satu pendaki yang dihubungi oleh BBC menyebut suaminya masih berusaha turun perlahan karena jalur tertutup salju tebal.

“Bahkan bagi tim penyelamat, ini tidak mudah. Mereka harus membersihkan salju untuk membuat jalan,” ujar perempuan itu. Ia mengaku suaminya hampir tidak tidur semalaman karena takut tenda mereka tertimbun salju.

Pendaki lain, Eric Wen, mengatakan tiga orang dalam kelompoknya menderita hipotermia meskipun sudah mengenakan pakaian pelindung. “Kami harus membersihkan salju setiap sepuluh menit agar tenda tidak roboh,” katanya kepada Reuters.

Libur Nasional Berujung Bencana

Badai salju ini terjadi bertepatan dengan libur panjang Golden Week, periode puncak wisata di Tiongkok ketika ribuan orang melakukan perjalanan dan aktivitas luar ruang. Biasanya, Oktober menjadi bulan favorit untuk mendaki di kawasan Himalaya karena cuacanya cerah dan stabil.

Namun, tahun ini kondisi cuaca di Asia Selatan dan Timur dilaporkan sangat ekstrem. Di Nepal, hujan deras dan banjir menewaskan sedikitnya 47 orang serta merusak sejumlah jalan dan jembatan. Sementara itu di pantai timur Tiongkok, Topan Matmo memaksa sekitar 150.000 orang mengungsi dari rumah mereka.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.