Rusia Peringatkan Prancis Soal Rencana Kirim 2 Ribu Tentara ke Ukraina

AKURAT.CO Rusia menilai rencana Prancis mengirim pasukan ke Ukraina sebagai langkah berbahaya yang dapat memperburuk konflik di Eropa Timur. Peringatan itu disampaikan langsung oleh juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menanggapi laporan intelijen Rusia yang menyebut Paris tengah menyiapkan sekitar 2.000 tentara untuk dikirim ke medan perang.
“Ini mengkhawatirkan,” kata Peskov dalam konferensi pers di Moskow, seperti dikutip dari Anadolu, Rabu (29/10/2025).
Laporan Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) sebelumnya mengklaim bahwa Prancis tengah mempersiapkan pasukan dalam jumlah besar untuk dikerahkan ke Ukraina. Namun hingga kini, pemerintah Prancis belum memberikan komentar resmi terkait tuduhan tersebut.
Prancis sendiri, bersama Inggris, diketahui memimpin “koalisi sukarela” yang disebut akan menyiapkan pengerahan pasukan setelah perang Ukraina berakhir.
Kremlin Salahkan Kyiv Soal Mandeknya Negosiasi
Dalam kesempatan yang sama, Peskov juga menyoroti kebuntuan diplomasi antara Moskow dan Kyiv. Ia menuding Ukraina menolak melanjutkan proses negosiasi untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak Februari 2022.
“Jeda dalam pembicaraan terjadi karena Kyiv menolak merespons proposal Moskow mengenai kerja sama politik, militer, dan kemanusiaan,” ujarnya.
Menurut Kremlin, keengganan Kyiv menunjukkan tidak adanya komitmen dari pihak Ukraina untuk mencari solusi damai.
Rusia Kecam Pernyataan Polandia
Peskov turut mengkritik keras pernyataan Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, yang sebelumnya menyatakan Ukraina memiliki hak untuk menyerang infrastruktur Rusia di seluruh Eropa.
Ia menyebut pernyataan itu sebagai bentuk pembenaran terhadap tindakan teroris. “Pemimpin Eropa seharusnya berpikir dua kali, mengapa mereka memerlukan aliansi dengan Polandia yang membenarkan serangan teroris,” tegasnya.
Peringatan Ekonomi untuk Negara-Negara Eropa
Kremlin juga mengingatkan konsekuensi ekonomi bagi negara-negara Uni Eropa jika terus mendukung Ukraina secara militer dan finansial. Peskov menilai, sikap tersebut akan berdampak langsung terhadap beban masyarakat Eropa.
“Jika mereka terus menjalin hubungan seperti sekarang dengan rezim Kyiv, rakyat Eropa harus siap membayar lebih banyak dan untuk waktu yang lebih lama,” kata Peskov.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







