Akurat
Pemprov Sumsel

Laporan Sudan Witness Ungkap Pemboman Brutal: Serangan Udara Sudan Tewaskan 1.700 Warga Sipil

Kumoro Damarjati | 9 Desember 2025, 14:59 WIB
Laporan Sudan Witness Ungkap Pemboman Brutal: Serangan Udara Sudan Tewaskan 1.700 Warga Sipil


AKURAT.CO Serangan udara Sudan kembali menjadi sorotan setelah laporan terbaru mengungkap bahwa setidaknya 1.700 warga sipil tewas akibat serangan udara Sudan yang menyasar permukiman penduduk, sekolah, pasar, dan kamp pengungsian. Temuan ini berasal dari penyelidikan mendalam yang dilakukan Sudan Witness Project dalam konteks perang saudara Sudan yang semakin brutal sejak April 2023.

Dalam laporan tersebut, Sudan Witness menyebutkan bahwa serangan udara Sudan dilakukan menggunakan bom tanpa kendali yang dijatuhkan di wilayah padat penduduk. Analisis proyek itu menunjukkan bahwa Angkatan Bersenjata Sudan atau Sudanese Armed Forces (SAF) menjadi satu-satunya pihak dalam konflik yang memiliki kemampuan operasional pesawat jet tempur.

Temuan utama Sudan Witness memperlihatkan pola serangan yang konsisten terhadap lokasi yang seharusnya aman, termasuk fasilitas kesehatan, sekolah, dan pasar di wilayah yang luas — memperkuat bukti bahwa serangan udara Sudan bukan hanya operasi militer, melainkan tindakan yang telah menyebabkan dampak kemanusiaan besar terhadap warga sipil.

Temuan Terbesar Mengenai Serangan Udara Sudan

Sudan Witness Project, di bawah Center for Information Resilience (CIR), menyatakan bahwa dataset yang dikumpulkan merupakan yang terbesar yang pernah ada mengenai serangan udara Sudan. Laporan ini menganalisis 384 serangan udara antara April 2023 hingga Juli 2025.

Dari jumlah tersebut, lebih dari 1.120 orang terluka, dan angka ini dinilai konservatif karena hanya mencatat jumlah korban terendah yang dilaporkan. Serangan udara terbanyak tercatat mengenai kawasan permukiman sebanyak 135 kasus, serta 35 serangan ke pasar dan fasilitas komersial di saat tempat-tempat tersebut ramai pengunjung.

Sebanyak 19 serangan dilakukan terhadap fasilitas publik seperti rumah sakit, sekolah, serta kamp pengungsian, termasuk kawasan yang dihuni kelompok rentan.

SAF Bantah Targetkan Sipil

Militer Sudan atau SAF tidak memberikan komentar kepada BBC yang ikut mengungkap laporan ini. Namun sebelumnya mereka menegaskan bahwa serangan udara tersebut hanya menyasar markas kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) yang dianggap sebagai target militer sah.

Meski begitu, berbagai bukti lapangan menunjukkan indikasi kuat bahwa bom-bom tersebut mengenai kawasan sipil. Bahkan, menurut laporan, RSF tidak memiliki jet tempur dan hanya mengandalkan drone, yang dikeluarkan dari data penelitian untuk memastikan akurasi temuan.

Menurut Mark Snoeck, penanggung jawab proyek ini, kedua belah pihak telah melakukan pelanggaran, namun SAF harus dimintai pertanggungjawaban karena skala korban yang ditimbulkan serangan udaranya.

Dampak Serangan Udara Sudan di Wilayah Darfur dan Kordofan

Banyak serangan udara Sudan terjadi di wilayah Darfur yang berada di bawah kendali RSF. Salah satu kasus tragis terjadi di pasar Hamrat al-Sheikh di Kordofan, ketika 30 orang meninggal dan 100 terluka akibat bom yang dijatuhkan langsung ke pasar yang sedang ramai.

Serangan lain terjadi pada Agustus 2024 ketika sebuah rumah sakit di El-Daein terkena bom, menewaskan 16 warga sipil, termasuk anak-anak dan tenaga medis.

Bahkan kelompok sekutu SAF turut mengecam serangan tersebut karena wilayah itu dikenal sebagai pusat populasi sipil, bukan basis militer.

Bukti Digital dan Analisis Satelit

Sudan Witness menggunakan metode verifikasi berbasis open-source intelligence (OSINT) termasuk citra satelit, video, dan foto yang diunggah di media sosial. Dalam salah satu temuan, mereka menemukan bom SH-250 yang belum meledak di kamp Zamzam, Darfur Utara — sebuah bom buatan industri senjata Sudan.

Snoeck menyebut temuan ini sebagai salah satu yang paling mengganggu:
“Mengapa menjatuhkan bom tak terkendali di kamp pengungsian?”

Perang Sudan Semakin Mengarah ke Serangan Drone

Selain serangan udara Sudan, laporan mencatat pergeseran pola perang menuju penggunaan drone oleh kedua pihak. Namun menurut analis militer, senjata udara ini semakin banyak menjadikan warga sipil sebagai target — bukan fasilitas militer.

Konflik Sudan kini memasuki fase di mana kekuasaan lebih banyak dipertahankan melalui teror udara, dan bukan strategi militer konvensional.

Seruan Internasional untuk Akuntabilitas

Pemerintah Inggris melalui kantor luar negerinya menyebut temuan ini jelas menunjukkan “pengabaian tak dapat diterima terhadap keselamatan warga Sudan.” Semua pihak dalam perang, tanpa kecuali, harus dimintai pertanggungjawaban.

Laporan lengkap Sudan Witness dijadwalkan dipublikasikan pada 10 Desember.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.