Pemerintah AS Beli Enam Pesawat Boeing 737 untuk Percepatan Deportasi Imigran

AKURAT.CO Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) resmi melakukan pembelian enam pesawat deportasi setelah menandatangani kontrak untuk mengakuisisi enam unit Boeing 737. Pembelian enam pesawat deportasi oleh DHS ini akan memungkinkan pemerintah AS mengoperasikan armada sendiri untuk penerbangan pemulangan imigran.
Langkah pembelian enam pesawat deportasi oleh DHS tersebut merupakan bagian dari anggaran imigrasi besar yang sebelumnya disetujui Kongres. Menurut Washington Post, pendanaan armada baru ini berasal dari paket belanja senilai US$170 miliar yang dialokasikan untuk rencana pengendalian imigrasi Presiden Donald Trump. Selama ini, ICE menggunakan pesawat carter untuk deportasi, namun pembelian ini memungkinkan penerbangan dilakukan secara mandiri. Pada akhir Oktober, DHS melaporkan telah mendeportasi hampir 600.000 orang sepanjang tahun ini.
Juru bicara DHS, Tricia McLaughlin, menyatakan langkah tersebut akan menghemat biaya dengan meningkatkan efisiensi pola penerbangan ICE. Ia menyebut potensi penghematan pajak sebesar US$279 juta, meski tidak merinci perhitungannya. McLaughlin juga menegaskan bahwa pemerintahan Trump berkomitmen mempercepat deportasi terhadap imigran ilegal yang memiliki catatan kriminal.
Laporan terpisah dari Wall Street Journal pada November menyebut Menteri Keamanan Dalam Negeri, Kristi Noem, sebelumnya mengarahkan ICE untuk membeli 10 pesawat dari Spirit Airlines. Namun pesawat tersebut dimiliki pihak lain dan tidak dilengkapi mesin sehingga transaksi tidak dapat dilanjutkan.
Kontrak terbaru DHS dilakukan dengan Daedalus Aviation, perusahaan berbasis di Virginia yang berdiri pada Februari 2024. Situs perusahaan itu menyatakan mereka menyediakan layanan penerbangan komersial dan carter, termasuk operasi yang disesuaikan untuk kebutuhan khusus setiap misi.
John Sandweg, mantan penjabat Direktur ICE pada era Presiden Barack Obama, menilai pembelian tersebut menunjukkan besarnya anggaran ICE, namun belum tentu lebih efisien. Ia menyatakan bahwa sebagian besar tujuan deportasi sebenarnya bisa dipenuhi melalui layanan charter yang sudah tersedia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








