Nikaragua Bebaskan Puluhan Tahanan di Tengah Tekanan Pemerintah AS

AKURAT.CO Pemerintah Nikaragua mengumumkan telah membebaskan puluhan tahanan dari sistem penjara nasional pada Sabtu (10/1). Pembebasan ini dilakukan setelah mendapatkan tekanan kuat dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dalam pernyataan resmi, pemerintah Presiden Daniel Ortega menyebut bahwa “puluhan orang yang berada di dalam sistem penjara nasional sudah kembali ke rumah masing-masing bersama keluarga”. Namun jumlah pasti tahanan yang dibebaskan belum dijelaskan, termasuk apakah mereka ditahan atas tuduhan politik.
Kebijakan ini dilakukan di tengah meningkatnya kritik terhadap catatan hak asasi manusia Nikaragua dan penindasan yang berkepanjangan terhadap pemimpin oposisi serta aktivis. Pemerintah AS sebelumnya meminta agar lebih dari 60 tahanan politik dibebaskan sebagai bagian dari upaya memperbaiki situasi HAM di negara tersebut.
Terkait Situasi Venezuela
Langkah Nikaragua menyusul perkembangan serupa di Venezuela, di mana pemerintah juga mulai melepaskan sejumlah tahanan politik setelah tekanan dari Washington. Observers menilai kedua kejadian ini menunjukkan tekanan diplomatik yang meningkat dari AS terhadap pemerintahan sayap kiri di Amerika Latin.
Tahanan Politik yang Dibebaskan
Organisasi hak asasi manusia yang memantau tahanan politik di Nikaragua mengidentifikasi setidaknya 19 orang yang telah dibebaskan pada Sabtu, termasuk mantan wali kota Oscar Gadea dan pendeta evangelis Rudy Palacios beserta beberapa anggota keluarganya. Palacios sendiri ditangkap setelah mengkritik pemerintah terkait pelanggaran HAM dan mendukung demonstran yang menuntut pengunduran diri Ortega pada 2018.
Protes besar pada 2018 itu direspons dengan tindakan keras oleh rezim Ortega, yang menyebabkan setidaknya 350 orang tewas dan ratusan lainnya ditahan.
Reaksi AS dan Oposisi
Pada Jumat, Kedutaan Besar AS di Nikaragua memuji langkah pemerintah Venezuela dalam membebaskan tahanan oposisi, dan menyerukan pemerintah Ortega untuk melakukan hal serupa. “Di Nikaragua, lebih dari 60 orang masih ditahan secara tidak adil atau hilang, termasuk pendeta, pekerja keagamaan, orang sakit, dan lansia. Perdamaian hanya mungkin dengan kebebasan!,” bunyi unggahan kedutaan di media sosial.
Koalisi kelompok oposisi Liberales Nicaragua menyambut baik pembebasan tersebut. Mereka menilai keputusan itu merupakan hasil dari tekanan politik pemerintah AS terhadap rezim Ortega serta langkah strategi politik yang dipicu oleh perkembangan di Venezuela.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







