Dalam keterangannya pada Selasa (10/2), Petro mengatakan helikopter yang ditumpanginya gagal mendarat di wilayah pesisir Karibia Kolombia sehari sebelumnya karena adanya ancaman penembakan dari pihak tak dikenal.
“Malam tadi saya tidak bisa mendarat karena mendapat informasi bahwa helikopter yang saya tumpangi bersama putri-putri saya akan ditembak,” kata Petro, seperti dikutip oleh penyiar publik Radio Nacional de Colombia. Ia menambahkan, lampu di lokasi pendaratan bahkan tidak dinyalakan karena situasi dinilai berbahaya.
Rencana Perjalanan Presiden Kolombia Diubah Mendadak
Berbicara dalam rapat Dewan Menteri di Departemen Cordoba, wilayah utara Kolombia yang sedang dilanda hujan lebat dan banjir hingga memicu darurat kemanusiaan, Petro mengatakan rencana perjalanannya harus diubah drastis demi alasan keamanan.
“Saya berusaha menghindari dibunuh. Itu sebabnya saya tidak bisa tiba tepat waktu tadi malam, karena saya tidak bisa mendarat di lokasi yang sudah dijadwalkan. Pagi ini pun saya juga tidak bisa mendarat di tempat yang seharusnya, karena ada informasi helikopter akan ditembak,” ujarnya.
Menurut Petro, helikopter kemudian diarahkan terbang ke laut lepas selama beberapa jam. Dengan dukungan Angkatan Laut Kolombia, pesawat akhirnya mendarat di titik alternatif. Setelah itu, tim pengamanan langsung mengubah rencana pengamanan dan rute perjalanan presiden.
Radio Nacional de Colombia melaporkan bahwa kepala negara menilai rangkaian kejadian tersebut membuatnya berada dalam kondisi siaga terus-menerus. Petro juga mengaitkannya dengan sejumlah ancaman lain yang disebut sudah terjadi sejak Oktober tahun lalu.
Situasi Keamanan dan Risiko Kekerasan Politik
Pernyataan Presiden Kolombia Gustavo Petro lolos dari upaya pembunuhan muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran soal keamanan politik di negara tersebut.
Pekan lalu, dua pengawal seorang senator tewas setelah konvoi mereka diserang kelompok bersenjata di wilayah Arauca, dekat perbatasan Venezuela. Senator tersebut tidak berada di dalam kendaraan saat serangan terjadi.
Selain itu, sebuah kelompok pemantau di Kolombia melaporkan lebih dari 300 munisipalitas — sekitar sepertiga wilayah nasional — berada dalam risiko kekerasan pemilu. Situasi ini terjadi menjelang pemilu legislatif pada 8 Maret dan pemilihan presiden pada 31 Mei.