JK Berduka atas Tewasnya Ali Khamenei, Kritik Serangan AS-Israel di Tengah Perundingan

AKURAT.CO Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), menyampaikan duka dan keprihatinannya atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Menurut JK, serangan tersebut terjadi pada momentum yang tidak semestinya, mengingat Iran dan Amerika Serikat diketahui tengah menjalani proses perundingan.
“Dalam bulan suci Ramadan ini, kita merasa sangat prihatin begitu banyak perang di dunia, khususnya yang menyangkut dunia Islam. Kemarin kita mengetahui bagaimana Amerika dan Israel menyerang Iran, padahal Iran dan Amerika sedang berunding,” kata JK kepada wartawan di Jakarta, Minggu (1/3/2026).
JK mempertanyakan etika serangan yang dilakukan saat jalur diplomasi masih berjalan.
“Dari segi etik, kalau sedang berunding seharusnya tidak menyerang. Ini keadaan yang bagi kita semua sangat memprihatinkan, karena ada gejala Amerika menyerang pihak-pihak yang tidak sesuai dengan pandangannya,” ujarnya.
Soroti Dinamika Internal Iran
Selain menanggapi aspek geopolitik, JK juga menyinggung situasi politik di dalam negeri Iran pascakematian Khamenei.
Ia menilai terdapat tiga kelompok besar yang selama ini mewarnai dinamika politik di negara tersebut.
“Di Iran ada tiga kelompok. Pertama, kelompok pemerintah. Kedua, kelompok reformis yang menginginkan perubahan setelah 39 tahun pemerintahan, yang kita tahu sempat terjadi banyak demonstrasi sebulan lalu. Ketiga, kelompok monarki lama Pahlavi,” jelasnya.
Baca Juga: Pemerintah Harus Mitigasi Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Jemaah Umrah
Menurut JK, dua kelompok terakhir berpotensi melihat situasi ini sebagai peluang. Meski demikian, ia tetap menyayangkan terjadinya pembunuhan terhadap seorang pemimpin negara.
“Namun demikian, dengan terbunuhnya Ali Khamenei tentu sesuatu yang sangat kita sayangkan. Kita bersedih dan berduka,” tegasnya.
Di tengah eskalasi konflik yang terus meningkat, JK menilai Indonesia memiliki tanggung jawab moral sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim untuk menyerukan penghentian perang.
“Indonesia tentu sebagai negara yang mayoritas Islam, apalagi di bulan Ramadan ini, berupaya setidak-tidaknya menyerukan dan mendoakan agar perang ini segera berhenti. Karena untuk benar-benar mendamaikan itu sulit sekali dan mungkin tidak bisa kita lakukan secara langsung,” pungkasnya.
Pernyataan JK tersebut menambah daftar tokoh nasional yang menyuarakan keprihatinan atas konflik yang dinilai berpotensi memperluas ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026










