Militer AS Fokus ke Timur Tengah, Jepang dan Taiwan Ketar-Ketir China dan Korea Utara Memanfaatkan Situasi

AKURAT.CO Keterlibatan militer Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran memicu kekhawatiran di kawasan Asia Timur. Jepang dan Taiwan menilai fokus Washington ke Timur Tengah berpotensi mengurangi kekuatan militer AS di Asia, terutama di tengah meningkatnya ketegangan dengan China dan ancaman Korea Utara.
Para anggota parlemen Jepang menggelar pertemuan tertutup di kantor partai berkuasa di Tokyo pada Senin (2/3/2026). Dalam rapat tersebut, mereka meminta penjelasan pemerintah mengenai rencana evakuasi warga, cadangan energi nasional, serta kemungkinan dampak konflik Iran terhadap kehadiran militer AS di kawasan Asia.
Seorang politikus Jepang yang hadir dalam pertemuan itu mengatakan, pemerintah telah meminta jaminan kepada Washington agar tidak mengalihkan kapal perang maupun sistem rudal dari Asia ke Timur Tengah.
Kekhawatiran ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir pekan lalu. Trump menyebut operasi militer tersebut bisa berlangsung empat hingga lima pekan, namun tidak menutup kemungkinan diperpanjang.
Bagi Jepang dan Korea Selatan, kehadiran militer AS sangat penting untuk menyeimbangkan kekuatan China dan menghadapi ancaman Korea Utara yang memiliki senjata nuklir. Taiwan juga mencermati situasi ini karena wilayah tersebut terus mendapat tekanan dari Beijing.
Anggota parlemen Taiwan Chen Kuan-ting mengatakan pihaknya berharap operasi militer AS berlangsung singkat dan terbatas. Ia menilai konflik yang berkepanjangan dapat mengganggu stabilitas dan perdamaian di kawasan Indo-Pasifik.
“Kami berharap operasi ini berlangsung cepat dan terbatas, sehingga sumber daya militer AS bisa segera kembali difokuskan ke Asia,” kata Chen Kuan-ting, anggota parlemen dari partai berkuasa Taiwan yang duduk di Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan.
China sendiri menegaskan Taiwan adalah urusan dalam negeri Beijing. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyatakan negaranya menentang penggunaan kekuatan yang melanggar kedaulatan negara lain.
Dari sisi militer, laporan lembaga pemikir Center for Strategic and International Studies menyebut sekitar 40 persen kapal Angkatan Laut AS yang siap operasi saat ini berada di Timur Tengah. Armada tersebut termasuk kapal induk Abraham Lincoln dan sejumlah kapal perusak rudal.
Sementara itu, satu-satunya kapal induk AS yang ditempatkan di Asia, USS George Washington, sedang menjalani perawatan di pangkalannya di Yokosuka, Jepang.
Analis pertahanan, Bryan Clark, menilai Angkatan Laut AS saat ini menghadapi keterbatasan armada. Jika konflik Iran berlarut-larut, ada kemungkinan Washington mengurangi kekuatan lautnya di Asia untuk memperkuat operasi di Timur Tengah.
Selain armada laut, konflik juga berdampak pada stok amunisi AS. Militer AS telah meminta perusahaan pertahanan meningkatkan produksi, namun proses penambahan cadangan diperkirakan memerlukan waktu bertahun-tahun.
Situasi ini turut berdampak pada Jepang. Negara tersebut dilaporkan mengalami keterlambatan pengiriman ratusan rudal Tomahawk yang dipesan dari Amerika Serikat. Pengamat menilai jadwal pengiriman bisa semakin mundur jika prioritas produksi dialihkan untuk kebutuhan perang di Timur Tengah.
Kondisi ini menjadi sorotan karena sebelumnya pemerintah AS menetapkan Indo-Pasifik sebagai prioritas utama strategi keamanannya, termasuk mencegah potensi konflik di Taiwan. Namun dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, sekutu AS di Asia kini mempertanyakan apakah komitmen militer Washington di kawasan tetap terjaga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









