Trump Dilaporkan Tolak Usulan Putin Soal Pemindahan Uranium Iran ke Rusia

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak usulan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memindahkan stok uranium yang telah diperkaya milik Iran ke Rusia.
Laporan media Axios menyebutkan usulan tersebut merupakan bagian dari rencana Moskow untuk memediasi krisis nuklir Iran. Namun, Gedung Putih memilih pendekatan yang berbeda.
Menurut Axios, Putin menyampaikan gagasan tersebut dalam percakapan telepon dengan Trump. Dalam proposal itu, Teheran diminta memindahkan bahan nuklirnya ke Rusia untuk disimpan, sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi terhadap Iran.
Moskow berpendapat langkah tersebut dapat mencegah Iran dengan cepat mengembangkan senjata nuklir.
Meski demikian, Trump bersama para penasihatnya menilai rencana itu tidak tepat. Pemerintahan AS khawatir mekanisme tersebut akan memberi Rusia pengaruh terlalu besar dalam proses penyelesaian krisis nuklir Iran dan tidak menjamin pembongkaran penuh program nuklir Teheran.
Sebagai gantinya, Washington memilih melanjutkan kebijakan “tekanan maksimum” dengan tuntutan langsung kepada pemerintah Iran.
Baca Juga: Ancaman Nuklir Belum Berakhir, Stok Uranium Iran Diduga Selamat dari Serangan AS-Israel
Tim Trump menegaskan bahwa setiap kesepakatan baru harus lebih ketat dibanding perjanjian sebelumnya. Kesepakatan itu tidak hanya harus membatasi pengembangan nuklir Iran, tetapi juga mencakup dukungan Teheran terhadap kelompok yang dituduh terlibat terorisme serta program rudal balistiknya.
Trump sendiri berulang kali mengkritik kesepakatan nuklir Iran sebelumnya dan menyebutnya sebagai “kesepakatan terburuk dalam sejarah.” Pemerintah AS terus memperketat sanksi ekonomi guna memaksa Teheran memberikan konsesi tanpa bergantung pada mekanisme logistik Rusia.
Awal Krisis Nuklir Iran
Krisis nuklir Iran bermula pada 2002 setelah laporan intelijen mengungkap keberadaan fasilitas nuklir rahasia di Natanz dan Arak.
Di bawah tekanan Inggris, Prancis, dan Jerman, Iran sempat menghentikan sementara pengayaan uranium pada 2003. Namun dua tahun kemudian program tersebut kembali dilanjutkan.
Langkah itu kemudian memicu serangkaian resolusi dari United Nations Security Council serta penerapan sanksi ekonomi ketat terhadap Iran.
Sumber: militarnyi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









