Iran Balas Ancaman Trump, Siap Targetkan Infrastruktur AS di Teluk
AKURAT.CO Iran merespons keras ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan akan “menghancurkan” pembangkit listrik jika Teheran tidak membuka penuh Selat Hormuz dalam 48 jam.
Teheran menegaskan akan menargetkan infrastruktur Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk fasilitas energi, jika ultimatum tersebut benar-benar dijalankan. Ancaman Trump itu disampaikan hanya sehari setelah ia menyebut kemungkinan meredakan konflik.
Melalui platform Truth Social, Trump mengatakan AS akan memulai dengan menghancurkan pembangkit listrik terbesar Iran.
“Jika Iran tidak membuka sepenuhnya, tanpa ancaman, Selat Hormuz dalam 48 jam, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar,” tulis Trump.
Serangan terhadap fasilitas utama berpotensi memicu pemadaman listrik luas yang dapat melumpuhkan sektor vital, mulai dari kilang, terminal ekspor, hingga pusat komando militer.
Menanggapi hal itu, Iran menyatakan akan menyerang seluruh infrastruktur energi, teknologi informasi, dan fasilitas desalinasi milik AS di kawasan tersebut.
Baca Juga: Iran Klaim Tembak Jatuh Jet Tempur F-15 di Dekat Pulau Hormuz
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengecam ancaman Trump sebagai tindakan putus asa.
“Ilusi menghapus Iran dari peta menunjukkan keputusasaan menghadapi bangsa yang memiliki sejarah besar,” tulisnya di platform X.
Ia menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka bagi semua pihak, kecuali mereka yang melanggar kedaulatan Iran, serta menyatakan negaranya siap menghadapi ancaman di medan konflik.
Data pelacakan kapal menunjukkan sejumlah kapal, termasuk berbendera India dan sebuah tanker minyak Pakistan, masih dapat melintas dengan aman di Selat Hormuz.
Pasokan Minyak Australia Terganggu
Di sisi lain, dampak konflik mulai terasa pada pasokan energi global. Sebanyak enam pengiriman minyak ke Australia dilaporkan dibatalkan, menyoroti kerentanan negara tersebut terhadap gangguan pasokan.
Menteri Energi Australia Chris Bowen menyatakan pembatalan tersebut dapat memicu gangguan pasokan, meski tidak sampai menyebabkan kelangkaan bahan bakar secara nasional.
“Kami mengetahui ada enam kapal yang dibatalkan. Sebagian sudah digantikan oleh importir dan kilang dengan sumber lain,” ujarnya.
Ia menambahkan, rata-rata lebih dari 80 pengiriman bahan bakar masuk ke Australia setiap bulan, sehingga pembatalan sejumlah kecil pengiriman masih bisa diantisipasi.
Pakar dari Swinburne University, Hussein Dia, menilai pembatalan enam tanker belum berdampak pada krisis nasional, namun menunjukkan ketergantungan tinggi Australia terhadap impor energi, yang mencapai 80–90 persen kebutuhan bahan bakar cair.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







