Tak Gentar! Iran Tantang Balik AS Setelah Trump Ultimatum Buka Selat Hormuz

AKURAT.CO Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengultimatum Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Trump sebelumnya memperingatkan bahwa jaringan listrik Iran akan dihancurkan apabila Teheran tidak membuka sepenuhnya jalur pelayaran strategis tersebut. Batas waktu yang ditetapkan disebut jatuh pada Senin malam waktu setempat.
Menanggapi ultimatum itu, Garda Revolusi Iran menyatakan siap membalas setiap ancaman dengan respons setimpal.
“Kami bertekad untuk menanggapi ancaman apa pun pada tingkat yang sama seperti yang diciptakannya dalam hal pencegahan. Jika Anda menekan listrik, kami akan membalas serupa,” demikian pernyataan resmi Garda Revolusi Iran yang dikutip Reuters, Senin (23/3/2026).
Baca Juga: Eks Bos CIA: Trump di Posisi Sulit dalam Perang Iran
Garda juga membantah tudingan bahwa pihaknya berniat menyerang fasilitas desalinasi air di kawasan Teluk.
Dalam pernyataannya disebutkan, “Kebohongan ... Amerika Serikat. Presiden telah mengklaim bahwa Garda Revolusi bermaksud untuk menyerang pabrik desalinasi air dan menyebabkan kesulitan bagi orang-orang dari negara-negara di kawasan itu.”
Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global dan gas alam cair dunia, akan tetap ditutup selama infrastruktur energinya masih menjadi sasaran.
“Selat Hormuz akan sepenuhnya ditutup dan tidak akan dibuka sampai pembangkit listrik kami yang hancur dibangun kembali,” bunyi pernyataan lanjutan Garda Revolusi.
Penutupan jalur tersebut telah memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran krisis energi global terburuk sejak dekade 1970-an. Pasar Asia dilaporkan dibuka dengan pergerakan volatil di tengah ketidakpastian pasokan.
Sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu, lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas. Serangan tidak hanya menyasar target militer, tetapi juga infrastruktur energi strategis.
Militer Israel menyatakan telah meluncurkan gelombang serangan besar yang menargetkan infrastruktur Iran di Teheran. Di sisi lain, sirene serangan udara dilaporkan berbunyi di sejumlah wilayah Israel, termasuk Tel Aviv dan Tepi Barat, menyusul peluncuran rudal dari Iran.
Baca Juga: Biaya Perang Membengkak, Israel Disebut Gunakan Amunisi Lama untuk Lawan Iran
Sementara itu, kepemimpinan Iran kini berada di tangan Mojtaba Khamenei yang menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, setelah gelombang serangan awal perang.
Ancaman terhadap jaringan listrik juga menimbulkan kekhawatiran di negara-negara Teluk. Fasilitas desalinasi air di kawasan tersebut sangat bergantung pada pasokan listrik untuk memenuhi kebutuhan air minum, termasuk di Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Situasi hingga kini masih berkembang, dengan risiko gangguan energi global dan dampak ekonomi yang semakin meluas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










