98 Anak Diduga Tewas Akibat Campak, Bangladesh Gelar Vaksinasi Darurat

AKURAT.CO Pemerintah Bangladesh menduga sedikitnya 98 anak meninggal dunia akibat campak dalam tiga pekan terakhir. Lonjakan kasus tersebut mendorong pemerintah meluncurkan program vaksinasi darurat di 18 distrik berisiko tinggi. Kampanye ini direncanakan diperluas ke seluruh wilayah negara mulai 3 Mei.
Campak merupakan penyakit menular yang menyebar melalui droplet saat penderita batuk atau bersin. Penyakit ini paling sering menyerang anak-anak dan dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, kebutaan, hingga ensefalitis.
Data Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga Bangladesh mencatat jumlah anak usia enam bulan hingga lima tahun dengan gejala campak meningkat menjadi 6.476 kasus pada 2026. Dari jumlah tersebut, 826 kasus telah terkonfirmasi, dengan 16 kematian yang dipastikan terkait penyakit tersebut.
Direktur Pengendalian Penyakit Menular Bangladesh, Halimur Rashid, menyatakan jumlah kasus dan kematian tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Secara wilayah, Divisi Dhaka mencatat jumlah kasus suspek tertinggi sebanyak 2.394 kasus, disusul Rajshahi 1.243 kasus dan Chattogram 717 kasus. Sementara itu, Divisi Rangpur melaporkan jumlah terendah dengan 119 kasus.
Baca Juga: Ketua Partai Pemenang Pemilu Serukan Persatuan Nasional Setelah Bangladesh Porak-Poranda
Menurut World Health Organization (WHO), hingga 28 Maret, sedikitnya 56 dari 64 distrik di Bangladesh telah melaporkan kasus campak.
Sebagian besar kematian terjadi pada anak-anak yang belum mendapatkan vaksin. Pejabat kesehatan dan para ahli menyebut lonjakan kasus dipicu oleh kesenjangan cakupan imunisasi.
Program vaksinasi darurat yang dimulai Minggu difokuskan pada anak-anak yang belum menerima imunisasi rutin dan kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi berat.
Data resmi menunjukkan cakupan vaksinasi dalam program imunisasi rutin Bangladesh menurun dalam dua tahun terakhir. Pemerintah biasanya menggelar kampanye imunisasi tambahan setiap empat tahun untuk menjangkau anak-anak yang terlewat.
Kampanye terakhir dilaksanakan pada 2020. Namun, program serupa pada 2024 tidak dapat digelar akibat ketidakstabilan politik, termasuk gelombang protes besar yang berujung pada jatuhnya pemerintahan Sheikh Hasina.
Selain itu, vaksinasi rutin tahun lalu juga sempat terganggu setidaknya tiga kali akibat aksi mogok tenaga kesehatan di wilayah pedesaan.
Sumber: Scroll
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









