Akurat
Pemprov Sumsel

AS–Iran Sepakati Gencatan Senjata Dua Pekan, Israel: Tak Berlaku untuk Konflik dengan Hizbullah

Fitra Iskandar | 8 April 2026, 11:17 WIB
AS–Iran Sepakati Gencatan Senjata Dua Pekan, Israel:  Tak Berlaku untuk Konflik dengan Hizbullah
Ilustrasi konflik Israel Hizbullah. Foto: Ist

AKURAT.CO Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan di tengah konflik yang telah berlangsung lebih dari sebulan. Kesepakatan ini mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, namun tidak sepenuhnya meredakan ketegangan di kawasan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pihaknya mendukung keputusan Presiden Donald Trump untuk menangguhkan serangan terhadap Iran. Meski demikian, ia menegaskan kesepakatan tersebut tidak mencakup konflik Israel dengan kelompok Hezbollah di Lebanon.

Dalam pernyataan resminya, pemerintah Israel menyebut dukungan diberikan dengan syarat Iran membuka Selat Hormuz serta menghentikan seluruh serangan terhadap Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara di kawasan.

Trump sebelumnya membatalkan ancaman serangan besar terhadap Iran hanya beberapa jam sebelum batas waktu yang ia tetapkan. Keputusan itu diambil setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata sementara.

Dari pihak Iran, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi menyatakan telah menerima kesepakatan tersebut dan siap melanjutkan negosiasi dengan AS di Islamabad mulai Jumat. Namun, hingga kini belum ada kepastian waktu dimulainya gencatan senjata, sementara serangan masih dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah.

Seorang pejabat Gedung Putih menyebut Israel juga menyetujui kesepakatan tersebut, termasuk penghentian sementara pertempuran antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Proses ini dimediasi oleh Pakistan.

Baca Juga: AS Cegah Israel Serang Perbatasan Lebanon-Suriah, Tolak Libatkan Damaskus dalam Perang

Meski demikian, ketidakpastian masih membayangi setelah Iran merilis dua versi berbeda dari proposal 10 poin yang menjadi dasar negosiasi. Dalam versi bahasa Persia, terdapat frasa terkait “penerimaan pengayaan” program nuklir, namun bagian itu tidak muncul dalam versi bahasa Inggris.

Trump sebelumnya menyebut proposal tersebut “dapat dijalankan”, namun kemudian menyebutnya tidak valid tanpa memberikan penjelasan rinci. Penghentian program nuklir Iran disebut menjadi salah satu tujuan utama dalam konflik ini.

Di Teheran, demonstrasi pro-pemerintah pecah usai pengumuman gencatan senjata. Massa meneriakkan slogan anti-AS dan anti-Israel serta membakar bendera kedua negara.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan jalur pelayaran di Selat Hormuz akan dibuka di bawah pengawasan militer Iran. Ia juga mengindikasikan kemungkinan pemberlakuan biaya bagi kapal yang melintas, bersama Oman.

Selain pembukaan selat, Iran menuntut penarikan pasukan tempur AS dari kawasan, pencabutan sanksi, serta pencairan aset yang dibekukan sebagai bagian dari upaya mengakhiri perang.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sebelumnya mendorong perpanjangan tenggat waktu guna memberi ruang bagi diplomasi. Ia juga meminta Iran membuka Selat Hormuz selama periode tersebut.

Di tengah upaya diplomasi, serangan masih terus terjadi. Militer Israel dilaporkan tetap melancarkan serangan ke target di Iran, sementara Iran juga terus membalas serangan ke Israel dan negara-negara Teluk.

Korban jiwa akibat konflik ini terus bertambah. Di Iran, lebih dari 1.900 orang dilaporkan tewas, sementara di Lebanon lebih dari 1.500 orang meninggal dan lebih dari satu juta lainnya mengungsi akibat pertempuran antara Israel dan Hizbullah. Di Israel sendiri, puluhan korban jiwa dilaporkan, termasuk anggota militer.

Sumber: Koreaherald

 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.