Akurat
Pemprov Sumsel

Dari Ancaman “Pemusnahan” ke Gencatan Senjata 14 Hari: Perubahan Sikap Trump terhadap Iran

Fitra Iskandar | 8 April 2026, 15:16 WIB
Dari Ancaman “Pemusnahan” ke Gencatan Senjata 14 Hari: Perubahan Sikap Trump terhadap Iran
Presiden AS Donald Trump. Foto: Ist

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dalam kurun satu hari, mengubah sikapnya dari mengancam Iran dengan kehancuran total menjadi menyetujui rencana gencatan senjata selama 14 hari.

Trump menyebut proposal Iran “dapat dijalankan” dan diyakini menjadi jalan menuju pengakhiran konflik yang telah berlangsung hampir enam pekan.

Perubahan sikap tersebut terjadi di tengah upaya intensif sejumlah pihak untuk meredam eskalasi, dengan Pakistan berperan sebagai mediator utama. Dua pejabat yang mengetahui proses tersebut menyebut China juga turut berperan secara tidak langsung dalam mendorong tercapainya jalur menuju gencatan senjata.

Trump menyampaikan keputusan itu melalui media sosial, sekitar 90 menit sebelum tenggat waktu yang ia tetapkan bagi Teheran untuk membuka Selat Hormuz atau Iran akan menghadapi serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur penting lainnya.

Baca Juga: Trump Ancam Penjarakan Jurnalis yang Bocorkan Operasi Penyelamatan Pilot Jet Tempur yang Ditembak Jatuh Iran

Ia menyatakan bahwa tujuan militer telah tercapai dan proses menuju kesepakatan damai jangka panjang dengan Iran serta stabilitas di Timur Tengah telah berjalan jauh.

Gedung Putih menyebut Trump dijadwalkan bertemu Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, pada Rabu ini, dengan isu gencatan senjata dan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi agenda utama pembahasan.

Menjelang tenggat waktu, sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat mengkritik ancaman Trump sebagai kegagalan moral. Sementara itu, Paus Leo XIV memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil akan melanggar hukum internasional dan menyebut pernyataan Trump tidak dapat diterima.

Sejumlah analis menilai keputusan Trump kemungkinan dipengaruhi risiko eskalasi konflik yang dapat menyeret Amerika Serikat ke dalam perang berkepanjangan, sesuatu yang sebelumnya ia janjikan untuk dihindari.

Penguasaan Selat Hormuz Berisiko Tinggi

Selama konflik berlangsung, Trump kerap menyatakan keyakinannya bahwa tekanan militer dapat memaksa Iran menyerah. Namun, para ahli menilai Iran memiliki rekam jejak panjang dalam bertahan meski berada dalam tekanan besar.

Selat Hormuz, jalur strategis antara Iran dan Oman yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, menjadi titik krusial dalam konflik ini. Meski militer AS dinilai mampu menguasai wilayah tersebut dengan cepat, pengamanan jangka panjang dinilai membutuhkan operasi berisiko tinggi dan sumber daya besar.

Direktur eksekutif Battle Research Group, Ben Connable, menyebut pengamanan selat itu dapat memerlukan hingga tiga divisi infanteri AS atau sekitar 30.000 hingga 45.000 personel, serta komitmen jangka panjang.

Rencana gencatan senjata juga mencakup skema baru yang memungkinkan Iran dan Oman mengenakan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Dana tersebut disebut akan digunakan Iran untuk rekonstruksi, meski belum jelas peruntukan bagi Oman.

Selama ini, selat tersebut dianggap sebagai jalur perairan internasional dan tidak dikenakan biaya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.