Sisi Lain Perang: Meski Gencatan Senjata, Warga Iran Masih Tertekan dan Cemas

AKURAT.CO Di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih pascagencatan senjata, keseharian warga di Iran masih jauh dari kata normal. Bagi banyak keluarga, terutama orang tua bekerja, ritme hidup kini berjalan dalam tekanan dan penyesuaian yang tidak mudah.
Mahnaz Ataei, seorang manajer keuangan di Teheran, harus membawa anaknya yang berusia tujuh tahun ke kantor. Di sela pekerjaannya, ia mengawasi kelas daring sang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Sekolah-sekolah di Iran telah ditutup sejak pecahnya perang dengan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Hingga kini, belum ada kepastian kapan pembelajaran tatap muka akan kembali dibuka. Meski ketakutan akan serangan udara mulai mereda setelah gencatan senjata, kehidupan sehari-hari belum sepenuhnya pulih.
Situasi ini mengingatkan pada masa penutupan sekolah saat pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu, yang kembali membebani orang tua dengan anak usia kecil.
“Produktivitas saya menurun karena harus membagi perhatian antara pekerjaan dan anak,” kata Ataei. “Yang paling sulit adalah menjaga keseimbangan, sambil terus khawatir apakah dia benar-benar memahami pelajaran.”
Konflik tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 3.000 orang di Iran, termasuk lebih dari 165 korban dalam satu serangan di sekolah dasar. Gencatan senjata yang berlaku saat ini dijadwalkan berakhir awal pekan depan, sementara perbedaan antara Washington dan Teheran, termasuk soal uranium yang diperkaya, masih belum terselesaikan.
Di sisi lain, banyak keluarga sempat meninggalkan ibu kota demi menghindari serangan. Namun, rasa aman yang diperoleh harus dibayar dengan kehidupan yang serba terbatas dan tidak menentu.
Roya Amiri, seorang ibu rumah tangga, memilih kembali ke Teheran setelah sempat mengungsi bersama dua anaknya. Mereka tinggal bersama kerabat dalam satu rumah yang dihuni hingga 15 orang.
“Saya merasa seperti menggantung, tidak di mana-mana,” ujarnya.
Kondisi tempat tinggal yang padat memicu ketegangan, terutama bagi anak-anak yang kehilangan rutinitas. Selain itu, kebutuhan kesehatan pun menjadi tantangan, termasuk bagi anak Amiri yang memiliki penyakit pernapasan dan kesulitan mendapatkan obat.
Meski ancaman konflik masih membayangi, Amiri merasa kembali ke rumah sendiri adalah pilihan terbaik.
“Saya lelah hidup berdesakan. Saya ingin kembali ke rumah dan rutinitas saya. Saya merindukan Teheran,” katanya.
Cerita serupa dialami Reza Jafari, yang membawa keluarganya ke rumah kerabat demi menghindari suara ledakan yang menakutkan anak-anaknya. Meski sempat merasa hangat karena berkumpul dengan keluarga besar, ia mengakui tekanan tetap terasa, terutama bagi orang dewasa.
“Anak-anak justru lebih cepat beradaptasi. Tapi bagi kami, kurang tidur, kehilangan privasi, dan tekanan ekonomi menjadi tantangan,” ujarnya.
Sementara itu, pasangan Padideh Teymourian dan Amir Ramezani harus mengatur ulang kehidupan mereka demi mengikuti jadwal sekolah daring anak mereka yang berusia enam tahun. Keduanya bergantian mendampingi sang anak belajar, sambil tetap berusaha menjalankan pekerjaan.
Jam kerja yang berubah, waktu bersama keluarga yang berkurang, hingga tekanan finansial menjadi konsekuensi yang harus mereka hadapi.
“Hidup terasa berjalan sangat cepat. Hari berganti malam tanpa terasa. Kami hanya berusaha melewati waktu sampai keadaan kembali normal,” kata Ramezani.
Sumber: Telegraphindia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








