Ukraina Tuduh Rusia Serang Infrastruktur Energi: Suhu Minus 20 Derajat, Jutaan Warga Sipil Tanpa Listrik, Pemanas dan Pasokan Air

AKURAT.CO Perwakilan Tetap Ukraina untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Andrii Melnyk, menuduh Rusia melakukan kejahatan perang baru terhadap warga sipil dalam pidatonya di Dewan Keamanan PBB, Senin (20/4/2026).
Dalam pernyataannya, Melnyk menyebut serangan terbaru Rusia tidak hanya menargetkan warga sipil, tetapi juga mencerminkan upaya Moskow menutupi kelemahan militer dan ekonomi melalui eskalasi kekuatan.
Ia turut mengapresiasi sejumlah negara, termasuk Denmark, Prancis, Yunani, Latvia, Liberia, dan Inggris, yang mendukung permintaan darurat Ukraina untuk menggelar pertemuan tersebut.
“Kami memuji peran utama PBB dalam memberikan bantuan kemanusiaan kepada para korban,” ujar Melnyk.
Serangan Saat Suhu Ekstrem
Melnyk menuduh Rusia sengaja melancarkan serangan besar terhadap infrastruktur energi Ukraina pada awal Januari, saat suhu turun hingga minus 15 derajat Celsius.
“Akibat serangan brutal ini, jutaan warga sipil, termasuk keluarga saya di Kyiv, harus hidup berhari-hari tanpa listrik, tanpa pemanas, dan tanpa pasokan air, saat suhu malam mendekati minus 20 derajat,” katanya.
Menurutnya, serangan tersebut merupakan bagian dari strategi untuk melemahkan perlawanan warga sipil dengan cara memutus akses terhadap kebutuhan dasar.
Serangan Meluas ke Sejumlah Kota
Ia menyebut gelombang serangan juga menghantam sejumlah kota lain, termasuk Dnipro, Zaporizhzhia, Kryvyi Rih, dan Odesa.
“Gelombang teror baru ini menunjukkan tekad Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengabaikan upaya diplomatik dan melanjutkan perang,” ujar Melnyk.
Bandingkan dengan Perang Dunia II
Melnyk juga membandingkan situasi saat ini dengan Perang Dunia II. Ia menyebut konflik yang berlangsung telah melampaui durasi perang antara Nazi Jerman dan Uni Soviet, yang berlangsung selama 1.418 hari.
“Perbandingan dengan Perang Dunia II semakin sulit diabaikan, baik dari sisi durasi maupun tingkat kehancuran dan penderitaan manusia,” katanya.
Ia menambahkan bahwa tingkat kejahatan sistematis yang dilakukan Rusia telah mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Desak Dewan Keamanan Bertindak
Dalam forum tersebut, Melnyk mendesak Dewan Keamanan PBB untuk tidak lagi menganggap invasi Rusia sebagai konflik biasa.
“Setiap hari Dewan Keamanan gagal bertindak, korban terus bertambah,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan penggunaan sistem rudal baru oleh Rusia, yang disebut “Oreshnik”, dalam serangan ke wilayah Lviv yang dekat dengan perbatasan Uni Eropa dan NATO.
Menurutnya, penggunaan rudal balistik hipersonik jarak menengah itu menandai eskalasi baru dalam konflik yang telah berlangsung sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina pada 2022.
Hingga kini, Rusia belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut.
Sumber:Kyivpost
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








