Analis Soroti Perubahan Strategi Tekanan China ke Jepang, dari Sekadar Protes Diplomatik ke Unjuk Kekuatan Militer

AKURAT.CO Ketegangan antara China dan Japan meningkat di kawasan Selat Taiwan dan Laut China Timur, seiring indikasi pergeseran strategi Beijing yang kini lebih terfokus menekan Tokyo.
China Tingkatkan Tekanan Militer ke Jepang
Analis menilai China mulai mengalihkan pendekatan dari sekadar protes diplomatik menjadi demonstrasi kekuatan militer yang lebih langsung terhadap Jepang, bukan lagi berfokus utama pada Amerika Serikat.
Ketegangan terbaru dipicu saat kapal perusak Pasukan Bela Diri Maritim Jepang, JS Ikazuchi, melintasi Selat Taiwan pada Jumat dalam perjalanan menuju latihan gabungan Balikatan 2026 di Filipina.
Menanggapi hal itu, Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat China mengerahkan jet tempur siluman J-20 dan drone serang CH-4 untuk membayangi kapal tersebut. Rekaman pemantauan kemudian dirilis melalui China Central Television.
Sumber militer yang dikutip media China menyebut langkah ini sebagai sinyal “penargetan dalam jangkauan serangan” terhadap kapal Jepang.
Aktivitas di Laut China Timur dan Senkaku
Tekanan China juga terlihat di sekitar wilayah sengketa Kepulauan Senkaku di Laut China Timur. Kapal penjaga pantai China meningkatkan patroli, sementara Beijing melanjutkan pembangunan struktur lepas pantai ke-23 di dekat garis tengah laut.
Analis menilai fasilitas tersebut berpotensi menjadi pos pemantauan untuk melacak pergerakan Pasukan Bela Diri Jepang.
Tekanan Ekonomi Ikut Diperkuat
Selain aspek militer, China juga meningkatkan tekanan ekonomi. Pembatasan ekspor terhadap material penggunaan ganda, termasuk logam tanah jarang dan paduan khusus, dinilai menyasar rantai pasok pertahanan Jepang, khususnya untuk sistem pertahanan rudal.
Jepang Perluas Peran Militer
Di sisi lain, Jepang di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Sanae Takaichi meningkatkan postur militernya.
Tokyo mengerahkan sekitar 1.400 personel, termasuk unit tempur, dalam latihan Balikatan 2026—menjadi partisipasi terbesar Jepang sekaligus pertama kalinya mengirim pasukan dalam skala penuh.
Pengerahan tersebut mencakup kapal perang, pesawat, serta unit rudal anti-kapal Type 88 yang ditempatkan di Luzon utara, dengan rencana latihan tembak langsung hingga ke arah Laut China Selatan.
Langkah ini dinilai sebagai upaya Jepang mengoperasionalkan kemampuan “serangan balasan” di luar wilayahnya.
Penguatan di Pulau Terluar
Jepang juga mempercepat penguatan pertahanan di gugusan pulau barat daya, termasuk penempatan sistem rudal permukaan-ke-udara jarak menengah di Pulau Yonaguni, yang menempatkan sebagian wilayah daratan China dalam jangkauan operasional.
Sebagai respons, China mengirim gugus tugas angkatan laut yang dipimpin kapal perusak berpeluru kendali Type 052D ke perairan dekat pulau-pulau barat daya Jepang, termasuk jalur strategis seperti Kanal Yokoate.
Risiko Konflik dan Dampak Kawasan
Pejabat China menuduh Jepang menghidupkan kembali militerisme dan melakukan unjuk kekuatan di kawasan yang dianggap sensitif.
Analis keamanan menilai fokus China terhadap Jepang merupakan strategi untuk menguji aliansi AS-Jepang secara tidak langsung, dengan menekan pihak yang dianggap lebih rentan.
“Kami melihat upaya untuk memicu kekhawatiran domestik di Jepang terkait dampak ekonomi dan melemahkan dukungan terhadap kebijakan keamanannya,” kata Joo Eun-sik, kepala lembaga pemikir keamanan Korea Selatan.
Para pengamat memperingatkan eskalasi ini bukan sekadar ketegangan sementara, melainkan bagian dari perubahan struktur keamanan kawasan yang lebih luas, dengan potensi dampak terhadap kebijakan pertahanan dan rantai pasok negara-negara di Asia Timur.
Sumber: Miamiherald
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





