Akurat Logo

AS dan Iran Disebut Makin Dekat ke Kesepakatan Nuklir, Trump Ultimatum Teheran soal Uranium

Fitra Iskandar | 7 Mei 2026, 10:01 WIB
AS dan Iran Disebut Makin Dekat ke Kesepakatan Nuklir, Trump Ultimatum Teheran soal Uranium
Presiden AS Donald Trump. Foto: AA

AKURAT.CO Upaya diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan bergerak cepat dalam 24 jam terakhir. Washington dan Teheran disebut semakin terbuka terhadap peluang tercapainya kesepakatan nuklir baru yang dapat meredakan ketegangan di Timur Tengah.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump dikabarkan menuntut Iran menyerahkan seluruh cadangan uranium yang diperkaya serta menghentikan aktivitas pengayaan uranium di fasilitas bawah tanah. Gedung Putih juga memperingatkan opsi militer tetap terbuka jika negosiasi gagal mencapai hasil.

Baca Juga: Trump Klaim Raja Charles III Dukung Larangan Nuklir Iran, Istana Buckingham Buka Suara

Menurut sumber diplomatik, Pakistan kini memainkan peran penting sebagai mediator komunikasi tidak langsung antara Washington dan Teheran. Pemerintah Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, mengonfirmasi proposal tertulis dari AS sedang dikaji secara internal sebelum diberikan tanggapan resmi melalui Islamabad.

Pemerintah AS menegaskan syarat utama kesepakatan adalah pemindahan fisik stok uranium Iran ke pengawasan Amerika Serikat serta penghentian total operasi di fasilitas pengayaan bawah tanah yang selama ini dicurigai mampu memproduksi material tingkat senjata nuklir.

Trump bahkan menyampaikan ultimatum keras bahwa tindakan militer bisa dilakukan jika Iran menolak kerangka perjanjian yang diajukan. Pemerintah AS juga membantah rumor yang menyebut Washington bersedia menerima aktivitas pengayaan uranium Iran dalam batas tertentu.

Di sisi lain, Iran meminta agar isu nuklir diselesaikan secara menyeluruh, bukan melalui konsesi parsial. Salah satu perbedaan utama dalam negosiasi adalah durasi penghentian aktivitas nuklir Iran.

Iran disebut mengusulkan moratorium selama lima tahun, sementara pihak AS menginginkan pembatasan hingga 20 tahun dengan pengawasan ketat. Perbedaan itu masih menjadi hambatan besar dalam pembicaraan kedua negara.

Draf awal kesepakatan dilaporkan mencakup dua tahap utama. Tahap pertama berupa deklarasi penghentian ketegangan dan pembukaan masa negosiasi intensif selama 30 hari untuk menyusun kesepakatan teknis yang lebih rinci.

Baca Juga: Pejabat AS Ungkap Trump Tidak Senang Proposal Iran Tidak Membahas Program Nuklir

Tahap berikutnya akan membahas pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, pencabutan bertahap sanksi ekonomi terhadap Iran, hingga pelepasan aset keuangan Iran yang dibekukan di luar negeri.

Kota Jenewa dan Islamabad disebut sedang dipertimbangkan sebagai lokasi pertemuan langsung kedua pihak. Kesepakatan itu juga diperkirakan mencakup pengurangan ketegangan militer di Selat Hormuz, termasuk pelonggaran pembatasan pelayaran oleh Iran dan pengurangan operasi blokade laut AS.

Perkembangan negosiasi ini menjadi perhatian dunia karena menyangkut stabilitas keamanan Timur Tengah dan pasar energi global. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.

Jika diplomasi berhasil, kesepakatan baru dapat mengubah peta geopolitik kawasan. Namun jika gagal, risiko konflik militer besar di Timur Tengah diperkirakan kembali meningkat.

Sumber: Yeni Safak

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.