Ibu-Ibu Gaza Menanggung Luka Genosida, Penulis Asal Gaza: Sekarang Perang Itu Ingin Mengambil Ibuku

AKURAR.CO Di banyak negara, Hari Ibu identik dengan bunga, hadiah, dan kebahagiaan keluarga. Namun di Gaza, Hari Ibu justru menjadi pengingat tentang kehilangan, penderitaan, dan ketakutan akan kematian orang-orang tercinta di tengah perang yang terus berlangsung.
Dalam sebuah tulisan emosional yang diterbitkan Al Jazeera pada 10 Mei 2026, penulis asal Gaza, Shahed Abu Al Shaikh, menceritakan perjuangan ibunya yang mengidap kanker di tengah hancurnya sistem kesehatan akibat perang.
“Pada Hari Ibu, saya tidak mengucapkan selamat kepada ibu saya. Saya hanya berdoa agar ia tetap bersama kami sedikit lebih lama,” tulis Shahed.
Ibunya, Najat, yang baru berusia 46 tahun, didiagnosis menderita kanker setelah terlambat mendapatkan pemeriksaan medis. Shahed mengungkapkan bahwa ibunya menjalani kemoterapi dalam kondisi fisik yang semakin lemah di tengah keterbatasan layanan kesehatan di Gaza.
Baca Juga: Teheran Klaim Tembak Jatuh Drone Pengintai Musuh, Asal Drone Masih Misterius
Menurut Shahed, perang telah membuat para ibu di Gaza menghadapi penderitaan berlapis. Tidak hanya kehilangan anak, suami, dan rumah, banyak perempuan juga mengalami penyakit serius tanpa akses pengobatan memadai.
“Genosida telah membawa penderitaan yang luar biasa bagi para ibu di Gaza,” tulisnya.
Laporan yang dikutip dalam artikel itu menyebut angka kematian ibu saat melahirkan meningkat hingga tiga kali lipat selama perang berlangsung. Sedikitnya 220 perempuan Palestina dilaporkan meninggal saat proses persalinan antara Januari hingga Juni 2025.
Selain itu, kelaparan dan krisis kemanusiaan disebut paling berat dirasakan perempuan hamil dan ibu menyusui. Ribuan anak mengalami malnutrisi, sementara banyak ibu harus menyaksikan anak-anak mereka meninggal akibat kelaparan dan serangan perang.
Shahed juga menggambarkan bagaimana dirinya kini harus menggantikan peran ibunya di rumah sambil menahan rasa takut kehilangan.
“Saya melihat ibu saya perlahan hancur setiap hari, dan itu juga menghancurkan saya,” tulisnya.
Ia mengatakan rumah sakit-rumah sakit di Gaza telah hancur akibat serangan, termasuk satu-satunya rumah sakit khusus kanker. Akibatnya, banyak pasien kanker dan penyakit kronis tidak bisa memperoleh perawatan maupun pemeriksaan rutin.
Dokter, kata Shahed, memperkirakan kanker yang diderita ibunya sebenarnya telah berkembang selama hampir dua tahun. Namun kondisi perang membuat deteksi dini nyaris mustahil dilakukan.
Baca Juga: Imigrasi Gagalkan 80 WNI Diduga Hendak Berangkat Haji Ilegal
Kini keluarga Shahed menunggu jadwal operasi pengangkatan payudara total bagi sang ibu. Namun terapi radiasi yang dibutuhkan tidak tersedia di Gaza sehingga ibunya membutuhkan evakuasi medis keluar wilayah tersebut.
“Ia adalah salah satu dari 20 ribu warga Palestina di Gaza yang sangat membutuhkan evakuasi,” tulis Shahed.
Di akhir tulisannya, Shahed menggambarkan penderitaan para ibu Gaza sebagai luka kemanusiaan yang sering kali tidak terlihat di balik statistik perang.
“Penderitaan mereka mungkin tidak pernah tercatat dalam statistik. Tetapi rasa sakit itu nyata dan terus hidup di Gaza,” tulisnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









