Akurat Logo

Ibu-Ibu Gaza Menanggung Luka Genosida, Penulis Asal Gaza: Sekarang Perang Itu Ingin Mengambil Ibuku

Lufaefi | 11 Mei 2026, 09:10 WIB
Ibu-Ibu Gaza Menanggung Luka Genosida, Penulis Asal Gaza: Sekarang Perang Itu Ingin Mengambil Ibuku
Ibu di Gaza dalam Perawatan Penyakit Gagal Ginjal (Al Jazeera)

AKURAR.CO Di banyak negara, Hari Ibu identik dengan bunga, hadiah, dan kebahagiaan keluarga. Namun di Gaza, Hari Ibu justru menjadi pengingat tentang kehilangan, penderitaan, dan ketakutan akan kematian orang-orang tercinta di tengah perang yang terus berlangsung.

Dalam sebuah tulisan emosional yang diterbitkan Al Jazeera pada 10 Mei 2026, penulis asal Gaza, Shahed Abu Al Shaikh, menceritakan perjuangan ibunya yang mengidap kanker di tengah hancurnya sistem kesehatan akibat perang.

“Pada Hari Ibu, saya tidak mengucapkan selamat kepada ibu saya. Saya hanya berdoa agar ia tetap bersama kami sedikit lebih lama,” tulis Shahed.

Ibunya, Najat, yang baru berusia 46 tahun, didiagnosis menderita kanker setelah terlambat mendapatkan pemeriksaan medis. Shahed mengungkapkan bahwa ibunya menjalani kemoterapi dalam kondisi fisik yang semakin lemah di tengah keterbatasan layanan kesehatan di Gaza.

Baca Juga: Teheran Klaim Tembak Jatuh Drone Pengintai Musuh, Asal Drone Masih Misterius

Menurut Shahed, perang telah membuat para ibu di Gaza menghadapi penderitaan berlapis. Tidak hanya kehilangan anak, suami, dan rumah, banyak perempuan juga mengalami penyakit serius tanpa akses pengobatan memadai.

“Genosida telah membawa penderitaan yang luar biasa bagi para ibu di Gaza,” tulisnya.

Laporan yang dikutip dalam artikel itu menyebut angka kematian ibu saat melahirkan meningkat hingga tiga kali lipat selama perang berlangsung. Sedikitnya 220 perempuan Palestina dilaporkan meninggal saat proses persalinan antara Januari hingga Juni 2025.

Selain itu, kelaparan dan krisis kemanusiaan disebut paling berat dirasakan perempuan hamil dan ibu menyusui. Ribuan anak mengalami malnutrisi, sementara banyak ibu harus menyaksikan anak-anak mereka meninggal akibat kelaparan dan serangan perang.

Shahed juga menggambarkan bagaimana dirinya kini harus menggantikan peran ibunya di rumah sambil menahan rasa takut kehilangan.

“Saya melihat ibu saya perlahan hancur setiap hari, dan itu juga menghancurkan saya,” tulisnya.

Ia mengatakan rumah sakit-rumah sakit di Gaza telah hancur akibat serangan, termasuk satu-satunya rumah sakit khusus kanker. Akibatnya, banyak pasien kanker dan penyakit kronis tidak bisa memperoleh perawatan maupun pemeriksaan rutin.

Dokter, kata Shahed, memperkirakan kanker yang diderita ibunya sebenarnya telah berkembang selama hampir dua tahun. Namun kondisi perang membuat deteksi dini nyaris mustahil dilakukan.

Baca Juga: Imigrasi Gagalkan 80 WNI Diduga Hendak Berangkat Haji Ilegal

Kini keluarga Shahed menunggu jadwal operasi pengangkatan payudara total bagi sang ibu. Namun terapi radiasi yang dibutuhkan tidak tersedia di Gaza sehingga ibunya membutuhkan evakuasi medis keluar wilayah tersebut.

“Ia adalah salah satu dari 20 ribu warga Palestina di Gaza yang sangat membutuhkan evakuasi,” tulis Shahed.

Di akhir tulisannya, Shahed menggambarkan penderitaan para ibu Gaza sebagai luka kemanusiaan yang sering kali tidak terlihat di balik statistik perang.

“Penderitaan mereka mungkin tidak pernah tercatat dalam statistik. Tetapi rasa sakit itu nyata dan terus hidup di Gaza,” tulisnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi