Akurat Logo

Aurat March Pakistan Diizinkan Digelar, Tapi Peserta Dilarang Bawa Isu LGBTQ dan “Pakaian Tak Pantas”

Fitra Iskandar | 11 Mei 2026, 20:01 WIB
Aurat March Pakistan Diizinkan Digelar, Tapi Peserta Dilarang Bawa Isu LGBTQ dan “Pakaian Tak Pantas”
Ilustrasi Aurat March. Foto: Global Voice

AKURAT.CO Pemerintah Provinsi Sindh, Pakistan, akhirnya memberikan izin terbatas untuk pelaksanaan Aurat March Karachi yang digelar di Karachi pada Minggu. Namun izin tersebut disertai 28 syarat ketat yang memicu kontroversi di kalangan aktivis perempuan.

Dalam surat izin resmi atau no-objection certificate (NOC), otoritas setempat membatasi berbagai hal, termasuk larangan membawa konten terkait LGBTQ, penggunaan “pakaian tidak pantas”, hingga pelarangan slogan, spanduk, maupun pidato yang dianggap anti-negara atau anti-agama.

Aksi tahunan yang memperjuangkan hak-hak perempuan itu dijadwalkan berlangsung di Beach View Park, Clifton, Karachi, mulai pukul 15.30 hingga 19.30 waktu setempat.

Aurat March sendiri telah menjadi agenda tahunan di kota-kota besar Pakistan sejak 2018 untuk memperingati Hari Perempuan Internasional. Tahun ini, pelaksanaan di Karachi ditunda dari jadwal biasanya pada 8 Maret karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan.

Penyelenggara kemudian memindahkan aksi ke 10 Mei yang tahun ini juga bertepatan dengan Hari Ibu di Pakistan.

Ketegangan antara aktivis dan aparat keamanan sempat memanas beberapa hari sebelum aksi berlangsung. Polisi Karachi sebelumnya membubarkan konferensi pers penyelenggara Aurat March di depan Karachi Press Club dan menahan sejumlah aktivis perempuan serta aktivis transgender.

Di antara yang sempat ditahan adalah Sheema Kermani, Muneeza Ahmed, Safina Javed, serta aktivis transgender Shahzadi Rai.

Laporan media lokal menyebut Sheema Kermani bahkan sempat ditarik keluar dari kendaraannya oleh polisi wanita sebelum dibawa menggunakan mobil aparat.

Insiden tersebut memicu kritik keras terhadap tindakan kepolisian dan tuduhan penahanan ilegal terhadap para aktivis. Pemerintah Sindh kemudian menangguhkan sejumlah pejabat yang dianggap bertanggung jawab atas penanganan aksi tersebut, termasuk seorang perwira polisi senior.

Meski izin akhirnya diterbitkan, pihak Aurat March Karachi menegaskan mereka tidak pernah menandatangani ataupun menyetujui seluruh syarat dalam NOC tersebut.

“Kami tidak menandatangani persyaratan itu. Izin tersebut diberikan sepihak oleh pemerintah sebagai aturan terhadap aksi publik,” tulis Aurat March Karachi dalam pernyataannya.

Penyelenggara juga menolak pembatasan terkait pakaian dan larangan isu LGBTQ. Mereka menegaskan slogan terkenal “Mera Jism, Meri Marzi” atau “Tubuhku, Pilihanku” tetap menjadi tuntutan utama gerakan tersebut.

Tahun ini, Aurat March mengangkat tema trauma lintas generasi dan konsep “Good Daughters” yang menyoroti tekanan sosial terhadap perempuan untuk memenuhi standar ideal dalam keluarga dan masyarakat.

Aurat March selama ini menjadi salah satu gerakan paling kontroversial di Pakistan karena dianggap berada di persimpangan isu hak perempuan, nilai agama, budaya konservatif, dan kebebasan berekspresi.

Pendukung aksi menilai Aurat March penting untuk menyuarakan isu kekerasan berbasis gender, diskriminasi kerja, hak tubuh perempuan, hingga kebebasan berpendapat. Namun para pengkritiknya menuding sejumlah slogan dan ekspresi dalam aksi tersebut bertentangan dengan norma budaya dan agama Pakistan.

Sumber: Jerusalem Post

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.