Mengapa Jet Tempur NATO Gagal Menembak Drone Rusia? Ini Penjelasan Militer Rumania

AKURAT.CO Otoritas Rumania mengonfirmasi bahwa sebuah drone Geran-2 milik Rusia menghantam sebuah gedung apartemen di Kota Galati. Insiden ini memicu pertanyaan publik mengenai mengapa jet tempur NATO yang diterjunkan ke lokasi gagal melakukan pencegatan.
Penyelidikan gabungan masih berlangsung dengan melibatkan Kementerian Pertahanan Nasional, Kementerian Dalam Negeri, serta badan intelijen Rumania untuk mengungkap kronologi lengkap insiden yang terjadi pada malam hari tersebut.
Dalam konferensi pers di markas Kementerian Pertahanan Rumania, Brigadir Jenderal Gheorghe Maxim menjelaskan bahwa pilot jet tempur F-16 yang diterbangkan ke area kejadian telah memperoleh izin penuh untuk menghadapi ancaman udara selama masa siaga.
Namun, menurut Maxim, karakteristik drone yang berukuran kecil, terbang rendah, dan bergerak relatif lambat justru membuat proses identifikasi serta pengambilan keputusan menjadi sangat sulit dalam waktu yang sangat singkat.
"Dalam kasus drone kecil yang terbang pada ketinggian rendah dan kecepatan relatif lambat, waktu yang tersedia untuk mengidentifikasi, menilai, mengklasifikasikan ancaman, serta memutuskan tindakan sangat terbatas," ujarnya.
Militer Rumania mengungkapkan bahwa mereka hanya memiliki sekitar empat menit untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan memutuskan apakah drone tersebut harus ditembak jatuh.
Selain keterbatasan waktu, faktor keselamatan warga sipil juga menjadi pertimbangan utama. Drone itu terbang di atas kawasan perkotaan yang padat penduduk, sehingga setiap upaya pencegatan berisiko menimbulkan dampak yang lebih besar.
Menurut Maxim, serpihan hasil tembakan atau tabrakan di udara dapat menyebabkan kerusakan yang sama besar, bahkan lebih parah dibandingkan serangan drone itu sendiri.
"Kami saat itu tidak mengetahui apakah drone membawa bahan peledak aktif atau hanya berfungsi sebagai umpan. Semua data masih dianalisis untuk memastikan urutan kejadian secara akurat. Pada akhirnya tidak ada peluang yang benar-benar aman untuk melakukan intersepsi," katanya.
Insiden ini kembali menyoroti tantangan besar yang dihadapi negara-negara NATO dalam menghadapi ancaman drone modern yang berbiaya murah namun sulit dideteksi.
Sebelumnya, seorang jenderal senior Angkatan Udara Amerika Serikat juga mengakui di hadapan Kongres AS bahwa militer Amerika masih belum memiliki sistem pertahanan yang sepenuhnya memadai untuk melindungi pangkalan udaranya dari serangan drone.
Hingga kini, Departemen Pertahanan Amerika Serikat masih mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi ancaman pesawat nirawak yang semakin berkembang dan digunakan secara luas dalam berbagai konflik modern, termasuk perang Rusia-Ukraina.
Sumber: PBS
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






