Akurat Logo

Hizbullah Tolak Gencatan Senjata Sepihak, Tegaskan Israel Harus Berhenti Serang Lebanon

Fitra Iskandar | 2 Juni 2026, 11:02 WIB
Hizbullah Tolak Gencatan Senjata Sepihak, Tegaskan Israel Harus Berhenti Serang Lebanon
Hizbullah Tolak Gencatan Senjata Sepihak. Foto: Unsplash

AKURAT.CO Hizbullah menegaskan tidak akan menerima gencatan senjata yang hanya menguntungkan satu pihak, meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Israel dan kelompok tersebut telah sepakat menghentikan serangan satu sama lain.

Pernyataan tegas itu disampaikan anggota parlemen Hizbullah Hassan Fadlallah pada Senin (1/6/2026), di tengah meningkatnya upaya diplomatik internasional untuk meredakan konflik yang telah menewaskan ribuan orang di Lebanon.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi Al-Manar yang berafiliasi dengan Hizbullah, Fadlallah mengatakan bahwa tidak akan ada kembali ke situasi sebelum pecahnya perang pada 2 Maret 2026.

Menurutnya, posisi resmi Lebanon saat ini adalah mendorong gencatan senjata menyeluruh yang mencakup penghentian seluruh operasi militer di darat, laut, dan udara.

"Gencatan senjata harus bersifat komprehensif dan menjadi langkah menuju penarikan pasukan Israel serta kembalinya warga yang mengungsi ke desa-desa mereka," kata Fadlallah.

Hizbullah Minta Komitmen Jelas dari Israel

Fadlallah menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus disertai komitmen yang jelas dan eksplisit dari Israel untuk menghentikan serangan.

Selain itu, ia juga menuntut penghentian penghancuran rumah-rumah warga di Lebanon selatan yang selama berbulan-bulan menjadi wilayah pertempuran antara militer Israel dan Hizbullah.

Menurutnya, Hizbullah siap mematuhi kesepakatan apa pun selama Israel juga menjalankan kewajiban yang sama.

"Kami tidak akan menerima gencatan senjata yang diterapkan hanya oleh satu pihak," tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Hizbullah belum sepenuhnya menerima klaim gencatan senjata yang diumumkan Washington.

Klaim Trump Picu Tanda Tanya

Sebelumnya, Donald Trump menyatakan bahwa Israel dan Hizbullah telah sepakat menghentikan aksi saling serang setelah komunikasi yang dilakukan melalui perantara.

Trump mengaku telah menerima jaminan dari kedua pihak bahwa seluruh aksi penembakan dan serangan akan dihentikan.

Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi yang menunjukkan adanya kesepakatan final yang mengikat seluruh pihak di lapangan.

Di sisi lain, Israel masih melanjutkan operasi militernya di sejumlah wilayah Lebanon meskipun sebelumnya telah diberlakukan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 17 April dan kemudian diperpanjang selama 45 hari melalui mediasi tidak langsung yang difasilitasi Amerika Serikat.

Iran Disebut Berperan dalam Perubahan Situasi

Dalam pernyataannya, Fadlallah juga menyinggung peran Iran dalam perkembangan terbaru konflik tersebut.

Ia mengatakan tekanan yang diberikan Teheran, termasuk ancaman untuk menghentikan perundingan diplomatik yang sedang berlangsung, turut memengaruhi arah perkembangan situasi di kawasan.

Pernyataan itu muncul di tengah ketegangan yang masih berlangsung antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, yang hingga kini belum mencapai kesepakatan permanen untuk mengakhiri konflik regional.

Ribuan Orang Tewas di Lebanon

Menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon, lebih dari 3.400 orang telah tewas sejak konflik terbaru pecah pada awal Maret lalu.

Korban terdiri dari warga sipil maupun kombatan, sementara ratusan ribu warga lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat serangan udara dan operasi militer yang terus berlangsung.

Meski berbagai upaya diplomatik terus dilakukan, pernyataan terbaru Hizbullah menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian di Lebanon masih penuh tantangan dan sangat bergantung pada kesediaan seluruh pihak untuk menjalankan komitmen yang setara dalam setiap kesepakatan gencatan senjata.

Sumber: AA

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.