Akurat Logo

Trump Batalkan Serangan Baru ke Iran, Klaim Kesepakatan Damai Segera Tercapai

Fitra Iskandar | 12 Juni 2026, 08:40 WIB
Trump Batalkan Serangan Baru ke Iran, Klaim Kesepakatan Damai Segera Tercapai
Presiden AS Donald Trump. Foto: Economist/Samuel Corum/CNP via Zuma/Eyevine

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pembatalan rencana serangan militer baru terhadap Iran setelah mengklaim tercapainya kemajuan signifikan dalam proses negosiasi untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Kamis, hanya beberapa jam setelah dirinya mengancam akan meningkatkan tekanan terhadap Teheran, termasuk dengan mengambil alih sektor minyak Iran sebagai bagian dari strategi menghadapi konflik yang terus memanas.

Dalam acara di Ruang Oval Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa pihaknya telah mencapai terobosan besar dalam upaya perdamaian.

"Kami baru saja mencapai penyelesaian besar terkait perang dengan Iran," kata Trump, seraya menambahkan bahwa kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata yang mulai berlaku pada April diperkirakan akan difinalisasi dalam beberapa hari ke depan.

Gencatan Senjata Diperpanjang

Perpanjangan gencatan senjata dinilai penting karena memberikan waktu tambahan bagi Washington dan Teheran untuk menyelesaikan perundingan mengenai program nuklir Iran, yang menjadi salah satu akar utama konflik antara kedua negara.

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump berulang kali menyatakan bahwa kesepakatan damai sudah hampir tercapai. Namun hingga kini belum ada pengumuman resmi yang benar-benar mengakhiri konflik.

Dari pihak Iran, juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei mengatakan proses mediasi masih berlangsung dan belum ada kesepakatan final yang disetujui kedua belah pihak.

Menurut Baghaei, rancangan perjanjian pada dasarnya telah hampir selesai. Namun ia menilai perubahan sikap dan pernyataan yang saling bertentangan dari Amerika Serikat menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi.

Dari Ancaman Serangan ke Diplomasi

Sebelumnya pada Kamis pagi, Trump sempat mengancam akan menyerang Iran dengan kekuatan yang lebih besar dan mengambil "kendali penuh" atas industri minyak serta gas negara tersebut.

Namun beberapa jam kemudian, nada pernyataannya berubah. Trump menyebut sejumlah poin penting dalam negosiasi telah disetujui oleh pimpinan tertinggi Iran sehingga membuka peluang baru bagi tercapainya kesepakatan damai.

Perubahan sikap yang cepat tersebut kembali menyoroti pendekatan Trump yang kerap beralih dari ancaman militer menuju jalur diplomasi dalam menangani konflik dengan Iran.

Program Nuklir dan Selat Hormuz Jadi Isu Utama

Meski optimisme mulai muncul, sejumlah persoalan besar masih menjadi ganjalan dalam perundingan.

Amerika Serikat dan Israel menilai program nuklir Iran berpotensi digunakan untuk mengembangkan senjata atom. Sementara Teheran menegaskan seluruh aktivitas nuklirnya ditujukan untuk tujuan damai dan kebutuhan energi.

Selain isu nuklir, kendali Iran atas Selat Hormuz juga menjadi perhatian utama. Jalur pelayaran strategis tersebut merupakan salah satu rute terpenting bagi perdagangan minyak dan gas dunia.

Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan itu selama beberapa bulan terakhir telah memengaruhi pasokan energi global dan memicu kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara.

Konflik Masih Memanas

Meskipun pembicaraan damai terus berlangsung, situasi di lapangan masih jauh dari stabil.

Dalam beberapa hari terakhir, serangan balasan antara Amerika Serikat dan Iran kembali terjadi setelah Washington menuduh Teheran bertanggung jawab atas jatuhnya sebuah helikopter tempur Amerika di dekat Selat Hormuz.

Ketegangan juga meluas ke sektor maritim. Militer Amerika Serikat mengaku telah menonaktifkan sejumlah kapal yang dituduh melanggar blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Salah satu insiden yang menuai perhatian internasional adalah tewasnya tiga pelaut asal India setelah kapal tanker yang mereka tumpangi terkena serangan Amerika Serikat. Insiden tersebut memicu protes diplomatik dari New Delhi.

Di sisi lain, Organisasi Maritim Internasional (IMO) yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa turut mengecam serangan terhadap kapal komersial tersebut dan menyerukan perlindungan terhadap keselamatan pelayaran sipil.

Meski peluang perdamaian mulai terlihat, para pengamat menilai konflik AS-Iran masih berada pada titik yang rapuh. Kesepakatan final akan sangat menentukan apakah Timur Tengah dapat menghindari perang yang lebih luas atau justru kembali terjerumus ke dalam eskalasi baru.

Sumber: Economist

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.