Akurat Logo

Trump Disebut Tergoda Ego dalam Kesepakatan Damai Iran, Pakar: Ia Ingin Mengalahkan Warisan Obama

Fitra Iskandar | 16 Juni 2026, 09:06 WIB
Trump Disebut Tergoda Ego dalam Kesepakatan Damai Iran, Pakar: Ia Ingin Mengalahkan Warisan Obama
Seseorang mengenakan topeng berwajah mirip Donald Trump. Foto: Unsplash

AKURAT.CO Kesepakatan yang sedang dirancang Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri konflik dengan Iran kembali menuai sorotan. Sejumlah analis menilai keputusan Trump menerima kerangka perdamaian dengan Teheran tidak lepas dari faktor politik dan keinginan pribadi untuk menunjukkan bahwa dirinya mampu menghasilkan perjanjian yang dianggap lebih baik dibandingkan kesepakatan nuklir era Presiden Barack Obama.

Pandangan tersebut disampaikan analis politik Iran, Trita Parsi, dalam diskusi bersama pembawa acara MSNBC, Chris Hayes. Keduanya menilai Trump berhasil diyakinkan oleh para pemimpin Timur Tengah bahwa kesepakatan terbaru dengan Iran dapat dipasarkan sebagai pencapaian diplomatik yang melampaui Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), perjanjian nuklir yang ditandatangani pada masa pemerintahan Obama.

Menurut Hayes, pendekatan yang digunakan untuk meyakinkan Trump relatif sederhana, yakni dengan menekankan bahwa kesepakatan baru akan terlihat lebih unggul dibandingkan warisan diplomatik Obama.

"Sebelum perang dimulai, Menteri Luar Negeri Oman bahkan muncul di berbagai program televisi AS dan berulang kali menyampaikan bahwa kesepakatan ini lebih baik daripada kesepakatan Obama," ujar Hayes.

Ia menilai tolok ukur keberhasilan yang digunakan Trump dalam isu Iran lebih banyak berkaitan dengan citra politik dan kepuasan pribadi dibandingkan pencapaian kebijakan luar negeri yang substantif.

Trump Ingin Ciptakan Narasinya Sendiri

Trita Parsi menilai Trump memiliki kemampuan untuk membangun narasi politiknya sendiri terkait hasil negosiasi dengan Iran.

Menurutnya, Presiden AS itu kemungkinan akan mempresentasikan kesepakatan tersebut sebagai kemenangan besar bagi Amerika Serikat, terlepas dari bagaimana detail sebenarnya dipersepsikan oleh para pakar kebijakan luar negeri.

"Trump akan menciptakan realitas versinya sendiri mengenai kesepakatan ini," kata Parsi.

Meski demikian, ia mengakui ada beberapa elemen dalam kerangka kesepakatan yang disebut lebih ketat dibandingkan JCPOA.

Ada Ketentuan yang Dinilai Lebih Keras dari Kesepakatan Obama

Parsi menjelaskan bahwa dalam kesepakatan nuklir era Obama, Iran masih diperbolehkan menyimpan hingga 300 kilogram uranium yang diperkaya rendah di dalam negeri.

Jumlah tersebut berada jauh di bawah ambang yang dibutuhkan untuk memproduksi senjata nuklir, yang diperkirakan memerlukan sekitar 1.200 kilogram uranium.

Dalam skema baru yang disebut sedang dibahas pemerintahan Trump, Iran dikabarkan tidak akan diizinkan menyimpan stok uranium sama sekali.

Setiap uranium yang diproduksi harus segera diubah menjadi batang bahan bakar nuklir sehingga tidak dapat digunakan untuk mempercepat pengembangan senjata nuklir.

Menurut Parsi, ketentuan tersebut secara teknis lebih ketat dibandingkan perjanjian sebelumnya.

Kritik: Perang Tidak Perlu Terjadi

Meski mengakui adanya beberapa poin yang lebih kuat dalam kerangka baru, Parsi mempertanyakan apakah perang yang berlangsung selama berbulan-bulan benar-benar diperlukan untuk mencapai hasil tersebut.

Ia berpendapat bahwa sebagian besar tujuan yang kini diklaim sebagai keberhasilan diplomasi sebenarnya sudah dapat dicapai sebelum konflik bersenjata pecah.

"Apakah semua ini layak dibayar dengan perang? Sama sekali tidak. Banyak hal yang sekarang dibahas sebenarnya sudah berhasil dicapai sebelum perang terjadi," ujarnya.

Kesepakatan AS-Iran Masih Menuai Perdebatan

Kesepakatan damai antara Washington dan Teheran saat ini masih berada dalam tahap awal dan rincian lengkapnya belum dipublikasikan secara resmi.

Trump sebelumnya mengumumkan bahwa kedua negara telah menyepakati memorandum of understanding (MoU) untuk mengakhiri perang yang berlangsung hampir empat bulan dan membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran yang sangat penting bagi perdagangan energi global.

Namun sejumlah kalangan di Amerika Serikat, termasuk kelompok konservatif pendukung Trump dan sekutu dekat Israel, masih mempertanyakan apakah kesepakatan tersebut benar-benar menguntungkan Washington atau justru memberikan konsesi besar kepada Iran.

Perdebatan mengenai isi perjanjian diperkirakan akan semakin intens menjelang penandatanganan resmi yang dijadwalkan dalam beberapa hari mendatang.

Sumber: Rawstory

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.