Akurat
Pemprov Sumsel

Dampak Konflik AS Iran terhadap Ekonomi Indonesia: Harga Minyak Naik, Risiko Inflasi Menguat

Idham Nur Indrajaya | 11 Maret 2026, 21:25 WIB
Dampak Konflik AS Iran terhadap Ekonomi Indonesia: Harga Minyak Naik, Risiko Inflasi Menguat
Dampak konflik AS Iran terhadap ekonomi Indonesia mulai terasa. Harga minyak naik, risiko inflasi meningkat, dan APBN berpotensi tertekan. Ilustrasi Gemini AI

AKURAT.CO Ketika konflik geopolitik memanas, pasar energi biasanya menjadi sektor pertama yang terkena dampak. Ketegangan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran global, terutama setelah harga minyak dunia melonjak hingga di atas US$100 per barel.

Situasi ini membuat banyak pihak mulai menyoroti dampak konflik AS Iran terhadap ekonomi Indonesia. Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian besar kebutuhan minyaknya, lonjakan harga energi global bisa memicu berbagai efek domino—mulai dari potensi kenaikan harga BBM, tekanan inflasi, hingga meningkatnya beban subsidi dalam APBN.

Bagi masyarakat, dampaknya bisa terasa langsung dalam bentuk harga barang yang lebih mahal, biaya transportasi naik, dan daya beli yang melemah.


Dampak Konflik AS–Iran terhadap Ekonomi Indonesia

Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran dapat memengaruhi ekonomi Indonesia melalui beberapa jalur utama.

Dampak utama konflik geopolitik terhadap ekonomi Indonesia antara lain:

  • kenaikan harga minyak dunia

  • tekanan inflasi domestik

  • potensi kenaikan harga BBM

  • membengkaknya subsidi energi

  • tekanan terhadap nilai tukar rupiah

  • risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi

Jika konflik di Timur Tengah berlangsung lama, tekanan terhadap ekonomi global dan domestik berpotensi semakin besar.


Lonjakan Harga Minyak Dunia Akibat Konflik Timur Tengah

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah sering kali berdampak langsung pada pasar energi global. Ketika risiko konflik meningkat, pasar biasanya merespons dengan lonjakan harga minyak.

Research Director Prasasti Center for Policy Studies, Gundy Cahyadi, mengatakan harga minyak yang kembali naik hingga di atas US$100 per barel menjadi sinyal tekanan baru bagi ekonomi dunia.

“Pada awal tahun, prospek ekonomi Indonesia sebenarnya masih relatif positif dengan proyeksi pertumbuhan berada di kisaran 5,0–5,3 persen. Namun konflik antara Amerika Serikat dan Iran mulai mengubah proyeksi tersebut,” ujar Gundy melalui hasil riset yang diterima AKURAT.CO, dikutip Rabu, 11 Maret 2026.

Kenaikan harga minyak dunia menjadi tantangan besar bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia. Biaya energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya produksi industri serta memperbesar biaya logistik.

Akibatnya, tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa meningkat.


Risiko Inflasi dan Kenaikan Harga BBM di Dalam Negeri

Lonjakan harga minyak global hampir selalu diikuti tekanan terhadap harga bahan bakar domestik.

Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menjelaskan pemerintah menghadapi dilema kebijakan ketika harga minyak dunia naik.

“Ketika harga minyak dunia meningkat, pemerintah pada dasarnya menghadapi dua pilihan: menahan kenaikan harga BBM melalui subsidi yang lebih besar atau membiarkan harga domestik naik dengan konsekuensi meningkatnya inflasi,” kata Piter.

Jika pemerintah memilih mempertahankan harga BBM, maka subsidi energi dalam APBN akan meningkat.

Namun jika harga BBM dinaikkan, dampaknya bisa langsung terasa di masyarakat, seperti:

  • biaya transportasi meningkat

  • ongkos logistik naik

  • harga bahan pokok ikut terdorong

Inilah alasan mengapa inflasi akibat harga minyak sering menjadi kekhawatiran utama dalam situasi konflik geopolitik.


Tekanan terhadap APBN dan Defisit Fiskal

Lonjakan harga energi juga berpotensi memberi tekanan besar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurut simulasi pemerintah, jika harga minyak rata-rata mencapai sekitar US$92 per barel, maka defisit APBN 2026 berpotensi melebar hingga 3,6–3,7 persen terhadap PDB.

Angka tersebut melampaui batas defisit fiskal yang ditetapkan sebesar 3 persen.

Gundy menilai kondisi ini menuntut pengelolaan fiskal yang lebih hati-hati.

“Kondisi ini menuntut pengelolaan fiskal yang lebih hati-hati, terutama jika harga energi global tetap tinggi,” ujarnya.

Dalam kondisi seperti ini, pemerintah perlu menyeimbangkan antara menjaga stabilitas harga energi dan mempertahankan kesehatan fiskal.


Ketahanan Energi Indonesia yang Masih Rentan

Kerentanan Indonesia terhadap lonjakan harga minyak dunia juga terlihat dari sisi ketahanan energi.

Cadangan minyak strategis Indonesia saat ini diperkirakan hanya cukup untuk sekitar 23–26 hari. Angka tersebut jauh di bawah standar yang direkomendasikan oleh International Energy Agency (IEA), yaitu 90 hari impor bersih.

Artinya, ketika terjadi gangguan pasokan atau lonjakan harga global, ruang manuver Indonesia relatif terbatas.

Kondisi ini membuat dampak geopolitik terhadap ekonomi menjadi lebih terasa dibandingkan negara yang memiliki cadangan energi besar.


Efek Domino Konflik Geopolitik terhadap Ekonomi Domestik

Konflik internasional sering kali tampak jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun dalam praktiknya, dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat.

Jika harga minyak dunia terus naik, beberapa skenario yang mungkin terjadi antara lain:

  • biaya transportasi meningkat

  • tarif logistik naik

  • harga makanan dan kebutuhan pokok ikut terdorong

  • inflasi meningkat

  • daya beli masyarakat melemah

Efek domino ini menunjukkan bagaimana ekonomi global dan konflik Timur Tengah dapat memengaruhi kondisi ekonomi domestik.


Pemerintah Perlu Memprioritaskan Belanja Negara

Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, pemerintah dinilai perlu memperkuat disiplin fiskal dan memperjelas prioritas anggaran.

Menurut Piter Abdullah, setiap rupiah belanja negara harus diarahkan pada program yang memberikan dampak ekonomi paling besar.

“Pemerintah perlu memastikan setiap rupiah belanja negara benar-benar diarahkan pada program yang memberikan dampak ekonomi paling besar,” ujarnya.

Tekanan eksternal seperti volatilitas pasar global, lonjakan harga energi, dan potensi perlambatan ekonomi membuat kebijakan fiskal tidak lagi bisa dijalankan secara business as usual.


Apa Risiko Terbesar bagi Ekonomi Indonesia?

Jika konflik Amerika Serikat dan Iran berlangsung lama, beberapa risiko utama bagi ekonomi Indonesia antara lain:

  • pertumbuhan ekonomi berpotensi turun di bawah 5 persen

  • inflasi meningkat akibat harga energi

  • subsidi BBM membengkak

  • defisit APBN melebar

  • nilai tukar rupiah tertekan

Kondisi ini menegaskan bahwa stabilitas ekonomi domestik tidak bisa dilepaskan dari dinamika geopolitik global.


Penutup: Konflik Global dan Ketahanan Ekonomi Indonesia

Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah kembali mengingatkan betapa eratnya hubungan antara politik global dan stabilitas ekonomi.

Bagi Indonesia, dampak konflik AS Iran terhadap ekonomi Indonesia bukan hanya soal harga minyak, tetapi juga menyangkut inflasi, subsidi energi, stabilitas fiskal, hingga daya beli masyarakat.

Ketergantungan terhadap energi impor membuat ekonomi domestik rentan terhadap gejolak global. Karena itu, penguatan ketahanan energi nasional dan pengelolaan fiskal yang disiplin menjadi kunci penting menghadapi ketidakpastian dunia.

Perkembangan konflik geopolitik global akan terus memengaruhi dinamika ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Menarik untuk melihat bagaimana kebijakan pemerintah merespons tekanan ini dalam beberapa waktu ke depan.


Baca Juga: AS Hadapi Krisis Logistik di Tengah Perang Iran, Sekutu Disebut Tolak Permintaan Trump

Baca Juga: Media Amerika Beberkan Salah Perhitungan Trump dan Para Penasehatnya dalam Perang Melawan Iran

FAQ

1. Mengapa konflik Amerika Serikat dan Iran bisa mempengaruhi ekonomi Indonesia?

Konflik Amerika Serikat dan Iran berpotensi mengganggu stabilitas kawasan Timur Tengah yang merupakan pusat produksi minyak dunia. Ketika konflik meningkat, pasar energi biasanya merespons dengan kenaikan harga minyak global. Karena Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan minyaknya, kenaikan harga minyak dunia dapat memicu tekanan inflasi, meningkatkan biaya energi, serta memengaruhi stabilitas ekonomi nasional.

2. Apa hubungan konflik Timur Tengah dengan kenaikan harga minyak dunia?

Sebagian besar produksi dan jalur distribusi minyak dunia berada di kawasan Timur Tengah. Ketika konflik Timur Tengah meningkat, investor dan pasar energi khawatir terhadap potensi gangguan pasokan minyak. Kekhawatiran ini mendorong lonjakan harga minyak hingga bisa menembus US$100 per barel, yang kemudian berdampak pada biaya energi global dan ekonomi negara pengimpor minyak seperti Indonesia.

3. Apakah konflik AS–Iran bisa menyebabkan harga BBM di Indonesia naik?

Potensi kenaikan harga BBM Indonesia sangat bergantung pada kebijakan pemerintah. Jika harga minyak dunia terus naik, pemerintah memiliki dua pilihan: menaikkan harga BBM domestik atau menambah subsidi energi agar harga tetap stabil. Jika subsidi tidak diperbesar, kenaikan harga minyak global biasanya akan mendorong penyesuaian harga BBM di dalam negeri.

4. Bagaimana kenaikan harga minyak memicu inflasi di Indonesia?

Inflasi akibat harga minyak biasanya terjadi melalui efek langsung dan tidak langsung. Secara langsung, kenaikan harga energi meningkatkan biaya bahan bakar. Secara tidak langsung, biaya transportasi, distribusi barang, dan logistik juga ikut naik. Akibatnya, harga berbagai kebutuhan sehari-hari seperti makanan dan barang konsumsi dapat meningkat, yang kemudian mendorong inflasi nasional.

5. Apa dampak harga minyak dunia terhadap APBN Indonesia?

Lonjakan harga minyak dunia dapat memperbesar beban subsidi energi dalam APBN. Jika pemerintah menahan kenaikan harga BBM untuk menjaga daya beli masyarakat, subsidi yang harus dibayar negara akan meningkat. Dalam skenario tertentu, kenaikan harga minyak juga berpotensi memperlebar defisit APBN, terutama jika harga minyak bertahan tinggi dalam jangka waktu lama.

6. Apakah konflik geopolitik bisa menekan nilai tukar rupiah?

Ya, dampak geopolitik terhadap ekonomi sering kali memicu volatilitas di pasar keuangan global. Ketika konflik meningkat, investor cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Kondisi ini dapat menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, terutama jika kenaikan harga energi juga memperbesar kebutuhan impor minyak Indonesia.

7. Apakah konflik AS–Iran bisa menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia?

Jika konflik berlangsung lama dan harga energi global terus meningkat, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi melambat. Biaya produksi yang lebih tinggi, tekanan inflasi, dan melemahnya daya beli masyarakat dapat menghambat aktivitas ekonomi. Dalam skenario tertentu, tekanan ini bahkan bisa membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia turun di bawah 5 persen jika tidak diimbangi dengan kebijakan fiskal dan energi yang tepat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.