Akurat Logo

Meski Dikritik soal Gaza, Penjualan Senjata Israel Justru Pecahkan Rekor, Ini Analisis Para Pakar

Fitra Iskandar | 1 Juli 2026, 14:44 WIB
Meski Dikritik soal Gaza, Penjualan Senjata Israel Justru Pecahkan Rekor, Ini Analisis Para Pakar
Penjualan Senjata Israel Justru Pecahkan Rekor. Foto: missile threat

AKURAT.CO Gelombang kritik internasional terhadap operasi militer Israel di Gaza, Lebanon, dan Tepi Barat tampaknya belum menggoyahkan bisnis pertahanan negara tersebut. Di tengah tekanan politik dan seruan embargo dari berbagai pihak, ekspor persenjataan Israel justru mencatat rekor tertinggi dalam sejarah.

Data terbaru menunjukkan Israel kini semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu eksportir senjata terbesar di dunia. Sejumlah analis menilai, lonjakan penjualan itu bukan sekadar mendatangkan keuntungan ekonomi, tetapi juga memperkuat pengaruh diplomatik Israel melalui hubungan pertahanan jangka panjang dengan negara-negara pembeli.

Berdasarkan data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Israel menjadi eksportir senjata terbesar ketujuh di dunia untuk periode 2021–2025, melampaui Inggris. Sepanjang 2025, nilai ekspor persenjataan Israel mencapai sekitar USD 19,2 miliar, naik signifikan dibandingkan USD 14,8 miliar pada tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut juga tercermin dari pesatnya perkembangan industri pertahanan di dalam negeri. Jumlah perusahaan rintisan atau startup di sektor militer hampir dua kali lipat dalam waktu kurang dari setahun, dari sekitar 160 perusahaan pada pertengahan 2024 menjadi lebih dari 300 perusahaan pada April 2025. Sebagian besar produksi industri pertahanan Israel memang ditujukan untuk pasar internasional, dengan porsi ekspor mencapai sekitar 75 hingga 80 persen dari total produksi.

Menurut sejumlah pakar, penjualan senjata memberikan manfaat yang jauh lebih besar daripada sekadar pemasukan devisa. Seth Binder dari American Committee for Middle East Rights menilai kontrak pengadaan persenjataan umumnya berlangsung dalam jangka panjang, mulai dari proses negosiasi, pengiriman, hingga perawatan sistem yang bisa memakan waktu bertahun-tahun. Kondisi itu menciptakan hubungan strategis yang erat antara Israel dan negara pembeli.

Pandangan serupa disampaikan Presiden U.S./Middle East Project, Daniel Levy. Menurutnya, ketika sebuah negara telah mengandalkan sistem pertahanan Israel, pemerintah negara tersebut akan menghadapi dilema jika muncul tekanan politik untuk menjatuhkan sanksi atau embargo terhadap Israel. Mengakhiri kerja sama bukan hanya keputusan diplomatik, tetapi juga dapat memengaruhi kesiapan sistem pertahanan nasional mereka.

Fenomena itu terlihat jelas di Eropa. Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap situasi keamanan kawasan dan ancaman dari Rusia, sejumlah negara Eropa tetap memilih membeli sistem pertahanan buatan Israel meskipun kritik terhadap operasi militer Israel terus bermunculan.

Jerman, misalnya, menandatangani kontrak bernilai miliaran euro untuk pembelian sistem pertahanan rudal Arrow-3, drone Heron, dan rudal antitank Spike. Yunani juga menggelontorkan sekitar USD 740 juta untuk membeli sistem artileri roket PULS, sementara Rumania baru saja menyepakati kontrak sistem pertahanan udara Spyder senilai sekitar USD 2,3 miliar dan berencana mengembangkan sistem pertahanan udara yang mengadopsi konsep Iron Dome.

Peningkatan kerja sama pertahanan juga terjadi di luar Uni Eropa. Nilai impor senjata dan amunisi Inggris dari Israel melonjak tajam dalam lima tahun terakhir. Para pejabat industri pertahanan Israel bahkan memperkirakan permintaan dari negara-negara Eropa akan terus meningkat, terutama untuk sistem pertahanan udara dan rudal.

Menurut para analis, hubungan serupa juga berkembang dengan negara-negara yang menandatangani Abraham Accords. Dalam dua tahun terakhir, ekspor senjata Israel ke negara-negara tersebut dilaporkan meningkat hingga lima kali lipat. Meski popularitas Israel di mata publik beberapa negara menurun akibat konflik di Timur Tengah, hubungan pertahanan dinilai tetap berjalan karena telah menjadi investasi strategis jangka panjang.

Di balik pertumbuhan industri pertahanan Israel, para pengamat juga menyoroti besarnya dukungan Amerika Serikat. Selama bertahun-tahun, Washington memberikan bantuan militer melalui program Foreign Military Financing (FMF) yang memungkinkan Israel memperoleh peralatan militer, pelatihan, hingga dukungan pembiayaan. Sejumlah sistem persenjataan Israel juga dikembangkan bersama Amerika Serikat.

Salah satu contoh paling menonjol adalah sistem pertahanan rudal Arrow-3 yang dikembangkan melalui kerja sama kedua negara. Karena keterlibatan Washington dalam pengembangannya, setiap ekspor sistem tersebut memerlukan persetujuan pemerintah Amerika Serikat.

Sejumlah rancangan kebijakan yang saat ini sedang dibahas di Kongres Amerika Serikat bahkan diperkirakan akan semakin mempererat integrasi industri pertahanan kedua negara. Jika disahkan, perusahaan-perusahaan pertahanan Israel berpeluang memperoleh akses yang lebih besar ke rantai pasok militer Amerika Serikat sekaligus memperluas pasar ekspor mereka.

Di tengah terus berlanjutnya konflik di Timur Tengah, perkembangan ini menunjukkan bahwa industri pertahanan Israel tidak hanya bertahan dari tekanan internasional, tetapi justru mengalami pertumbuhan yang signifikan. Bagi para analis, kekuatan ekspor senjata kini menjadi salah satu instrumen penting yang memperkuat posisi strategis Israel dalam hubungan internasional, bahkan ketika kebijakan militernya masih menjadi sorotan dan menuai kritik di berbagai belahan dunia.

 Sumber: Responsiblestatecraft

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.