Akurat Logo

Intelijen Israel Bantah Klaim Netanyahu, Program Nuklir Iran Disebut Belum Hancur Total

Fitra Iskandar | 5 Juli 2026, 16:27 WIB
Intelijen Israel Bantah Klaim Netanyahu, Program Nuklir Iran Disebut Belum Hancur Total
PM Israel Benjamin Netanyahu. Foto: AI Generated

AKURAT.CO Klaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa program nuklir Iran telah "dihancurkan sepenuhnya" usai perang 12 hari pada Juni 2025 ternyata tidak mendapat dukungan dari badan intelijen negaranya sendiri.

Laporan harian Yedioth Ahronoth mengungkap, sejumlah lembaga intelijen Israel menolak permintaan kantor Netanyahu untuk mengesahkan penilaian tersebut karena dianggap tidak sesuai dengan fakta di lapangan dan belum didukung bukti yang memadai.

Penolakan itu terjadi hanya beberapa jam setelah gencatan senjata mengakhiri konflik singkat antara Israel dan Iran pada Juni lalu.

Intelijen Tolak Tanda Tangan Dokumen

Menurut laporan tersebut, kantor Netanyahu meminta aparat keamanan dan intelijen mengeluarkan dokumen resmi yang menyatakan seluruh fasilitas nuklir Iran telah dihancurkan.

Namun, para pejabat intelijen menilai kesimpulan itu terlalu dini.

"Ada satu masalah kecil dengan pernyataan itu. Pernyataan tersebut sama sekali tidak benar," tulis Yedioth Ahronoth.

Seorang pejabat senior intelijen bahkan disebut menolak menandatangani dokumen tersebut.

"Saya tidak bisa menandatangani ini," katanya kepada atasannya.

Ia beralasan lembaganya belum memiliki informasi yang cukup untuk memastikan seluruh infrastruktur nuklir Iran benar-benar hancur. Menurutnya, mengesahkan laporan yang belum dapat diverifikasi justru akan merusak kredibilitas intelijen Israel.

Serangan Disebut Hanya Memperlambat Program Nuklir Iran

Berdasarkan penilaian awal dari citra satelit, fasilitas nuklir Iran memang mengalami kerusakan besar akibat serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat.

Namun, kerusakan tersebut dinilai belum menghancurkan seluruh program nuklir Iran.

Laporan menyebut sejumlah ilmuwan dan pejabat di Komisi Energi Atom Israel juga menolak menandatangani dokumen yang menyebut fasilitas pengayaan uranium Fordow telah musnah sepenuhnya.

Sebagai jalan tengah, akhirnya disusun dokumen yang menyatakan serangan berhasil merusak infrastruktur penting di Fordow dan membuat fasilitas pengayaan uranium tidak dapat beroperasi untuk sementara waktu.

Dokumen itu juga menyebut serangan gabungan Israel-AS diperkirakan memundurkan program pengembangan senjata nuklir Iran selama bertahun-tahun, tetapi tidak menyatakan program tersebut telah dihancurkan sepenuhnya.

Iran Masih Punya Bahan Nuklir

Para ilmuwan Israel juga memasukkan catatan penting dalam dokumen tersebut.

Mereka menilai keberhasilan operasi militer hanya akan bertahan jika Iran tidak kembali memperoleh akses terhadap bahan nuklir yang masih dimilikinya.

Menurut laporan itu, Iran diperkirakan masih menyimpan sekitar 440 kilogram material fisil yang dinilai cukup untuk menghasilkan sekitar 11 senjata nuklir apabila diproses lebih lanjut.

Karena itu, para ahli menolak menyebut program nuklir Iran telah berakhir.

Berawal dari Klaim Trump

Kontroversi ini bermula setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran telah menghancurkan program nuklir Teheran.

Netanyahu kemudian mengadopsi narasi serupa dengan menyatakan dua ancaman eksistensial Israel—yakni program nuklir dan rudal balistik Iran—telah berhasil dilenyapkan.

Namun, laporan terbaru menunjukkan penilaian tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan analisis profesional komunitas intelijen Israel.

Hingga laporan itu dipublikasikan, baik kantor Perdana Menteri Israel maupun badan intelijen Israel belum memberikan tanggapan resmi.

Sumber: Yenisafak

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.