Akurat Logo

Iran Klaim Serang Target Militer AS Usai Pemakaman Khamenei, Ketegangan Timur Tengah Kembali Memanas

Lufaefi | 10 Juli 2026, 08:22 WIB
Iran Klaim Serang Target Militer AS Usai Pemakaman Khamenei, Ketegangan Timur Tengah Kembali Memanas
Ilustrasi Iran Balik Serang Pangkalan Militer AS (istimewa)

AKURAT.CO Konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Iran mengklaim melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, hanya beberapa jam setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Jumat (10/7/2026).

Pemerintah Iran menyebut serangan tersebut sebagai aksi balasan atas operasi militer Amerika Serikat yang sebelumnya menghantam sejumlah wilayah di Iran. Dalam pernyataannya, Teheran mengklaim telah menargetkan sistem pertahanan udara Patriot milik AS di Kuwait, fasilitas peringatan dini di Qatar, depot bahan bakar Angkatan Darat AS di Bahrain, serta Pangkalan Udara Azraq di Yordania.

Garda Revolusi Iran memperingatkan Amerika Serikat agar tidak kembali melakukan intervensi militer. Menurut mereka, setiap tindakan lanjutan dari Washington akan dibalas dengan serangan yang lebih besar.

"Intervensi AS lebih lanjut akan memicu tanggapan yang menghancurkan," demikian pernyataan Garda Revolusi Iran.

Baca Juga: Trump Bantah Ganti Air Force One karena Ancaman Keamanan, Singgung Ancaman Iran saat Pulang dari KTT NATO

Prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei sendiri berlangsung di Kota Mashhad dan dihadiri ribuan pelayat. Sejumlah massa membawa spanduk bernada anti-Amerika Serikat, termasuk seruan balas dendam atas kematian pemimpin tertinggi Iran tersebut.

Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan udara pada 28 Februari 2026 yang merupakan bagian dari operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel. Peristiwa itu kemudian memicu konflik bersenjata yang berlangsung selama beberapa pekan sebelum sempat mereda melalui gencatan senjata.

Di sisi lain, seorang pejabat Amerika Serikat membantah adanya serangan baru yang dilakukan Washington dalam beberapa jam terakhir. Namun sebelumnya, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi telah menyerang sekitar 90 target militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara, fasilitas pengawasan pantai, serta lokasi penyimpanan rudal dan pesawat nirawak.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan operasi tersebut merupakan respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal Amerika di kawasan.

"Ini sebagai pembalasan atas pemboman kapal kemarin oleh Iran. Jika terjadi lagi, akan jauh lebih buruk," tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya.

Sementara itu, media Iran melaporkan serangkaian ledakan terjadi di sejumlah wilayah selatan negara tersebut, termasuk di sekitar Bushehr yang menjadi lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir. Seorang pejabat setempat menyebut sebuah proyektil menghantam area perimeter fasilitas itu, meski belum ada laporan mengenai kerusakan pada instalasi utama.

Iran juga mengklaim telah meluncurkan 10 rudal balistik ke Pangkalan Azraq di Yordania yang digunakan militer Amerika Serikat sebagai salah satu pusat operasinya di Timur Tengah.

Pemerintah Kuwait menyatakan berhasil mencegat satu rudal jelajah, tiga rudal balistik, dan sepuluh drone yang memasuki wilayah udaranya. Meski demikian, satu orang dilaporkan mengalami luka akibat pecahan proyektil. Sementara itu, pemerintah Yordania menyebut delapan rudal berhasil dicegat tanpa menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan.

Baca Juga: Trump Sebut Iran sebagai Republik Islam Jepang Saat KTT NATO

Di tengah meningkatnya eskalasi, Iran mengumumkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz mulai kembali pulih hingga sekitar 50 persen dibandingkan kondisi sebelum konflik. Namun, Teheran menegaskan bahwa kapal-kapal hanya diperbolehkan melintas melalui jalur yang telah ditetapkan oleh otoritas Iran.

Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa pembukaan penuh Selat Hormuz akan bergantung pada keputusan Iran, bukan tekanan dari Amerika Serikat.

Sementara itu, Qatar, Turki, dan Oman kembali menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Ketiga negara mengingatkan bahwa eskalasi militer yang terus berlanjut berpotensi memperluas konflik dan mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah maupun perekonomian global.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi