Akurat Logo

18 Tentara AS Tewas dalam Perang dengan Iran, Prajurit Hilang di Yordania Kini Diduga Meninggal

Fitra Iskandar | 22 Juli 2026, 08:55 WIB
18 Tentara AS Tewas dalam Perang dengan Iran, Prajurit Hilang di Yordania Kini Diduga Meninggal
Ilustrasi. Foto: Pixabay

AKURAT.CO Jumlah tentara Amerika Serikat (AS) yang tewas sejak perang dengan Iran dimulai kini mencapai 18 orang. Pentagon menyatakan seorang prajurit yang sebelumnya dilaporkan hilang setelah serangan rudal balistik dan drone Iran di sebuah pangkalan militer AS di Yordania kini diyakini telah meninggal dunia.

Prajurit tersebut adalah Sersan Angel S. Rampersad, 28 tahun, asal New York.

Rampersad sebelumnya masuk dalam daftar personel militer AS yang hilang setelah serangan Iran pada Jumat. Pentagon kini menyebut statusnya sebagai "Duty Status–Whereabouts Unknown", atau status tugas dengan keberadaan yang belum diketahui, namun menyatakan ia diyakini telah meninggal dunia.

Sebelumnya, militer AS mengonfirmasi dua prajurit lainnya tewas dalam serangan yang sama di Yordania. Mereka adalah Letnan Satu Tyler James Feehan, 25 tahun, asal Ewa Beach, Hawaii, dan Prajurit Isabella Gonzales, 19 tahun, asal Carrollton, Texas.

Menurut pernyataan United States Central Command (CENTCOM), ketiga prajurit tersebut dikerahkan untuk mendukung misi militer AS melawan kelompok ISIS.

Kematian Feehan dan Gonzales disebut sebagai korban tewas pertama pasukan AS akibat serangan langsung Iran sejak perang kembali berkobar.

Setelah serangan tersebut, CENTCOM awalnya mengumumkan dua tentara tewas dan satu lainnya hilang. Sehari kemudian, pasukan menemukan jasad yang belum teridentifikasi. Proses pemeriksaan dilakukan untuk memastikan identitas korban.

Pentagon kemudian menyatakan Rampersad diyakini merupakan prajurit yang sebelumnya dilaporkan hilang. Ia diketahui bertugas di unit yang sama dengan Gonzales, yakni 10th Army Air and Missile Defense Command yang berbasis di Ansbach, Jerman.

Tentara AS Lainnya Tewas di Irak

Selain tiga prajurit yang menjadi korban serangan di Yordania, seorang tentara AS lainnya juga tewas dalam insiden di Irak.

Ia adalah Sersan Michael Emmanuel Swinton, 30 tahun, seorang ayah asal North Carolina yang telah menjalani hampir satu dekade masa dinas militer.

Swinton tewas pada Minggu di sebuah pangkalan udara di Erbil, Irak, saat militer melakukan peledakan terkendali terhadap sebuah drone Iran yang sebelumnya berhasil dijatuhkan.

Angkatan Darat AS masih melakukan penyelidikan terkait kondisi yang menyebabkan kematian Swinton.

Swinton bergabung dengan militer AS pada 2017. Ia ditugaskan di 55th Air Defense Artillery Regiment, bagian dari 108th Air Defense Artillery Brigade yang bermarkas di Fort Bragg, North Carolina.

Atas pengabdiannya, Swinton akan dianugerahi Bronze Star, Purple Heart, dan Combat Action Badge. Ia juga akan mendapatkan kenaikan pangkat secara anumerta menjadi staf sersan.

Swinton meninggalkan seorang istri dan dua anak yang masih kecil, masing-masing berusia enam dan empat tahun.

"I will never recover from this," tulis istrinya, Mia Gonzalez-Swinton, dalam unggahan di media sosial. Ia mengatakan keluarganya telah memiliki banyak rencana untuk dilakukan bersama setelah Swinton kembali dari tugas.

Ibunya, Christel Swinton Andujar, mengatakan istri dan anak-anak merupakan pusat kehidupan putranya.

Sementara itu, Brigadir Jenderal John L. Dawber, komandan Army Air and Missile Defense Command, mengenang Swinton sebagai seorang bintara berpengalaman yang sangat bangga terhadap pekerjaan dan orang-orang di sekitarnya.

Perang AS-Iran Meluas ke Timur Tengah

Konflik antara AS dan Iran kini memasuki hari ke-10. Pertempuran semakin meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah, dengan kedua pihak terus melancarkan serangan.

Iran juga menyerang sejumlah negara sekutu AS di kawasan yang menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika.

Pemerintah Iran menyatakan serangan AS dalam tiga pekan terakhir telah menewaskan sedikitnya 50 orang dan menyebabkan lebih dari 500 orang terluka.

Serangan kedua pihak juga dilaporkan menyasar infrastruktur sipil yang digunakan jutaan orang. Sejumlah pekerja kapal, pekerja asing, dan warga sipil di negara-negara Teluk, Israel, serta Lebanon turut menjadi korban.

Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan baru bagi warga negaranya. Pemerintah AS memperingatkan bahwa Iran dan kelompok yang mendukungnya berpotensi menargetkan kepentingan AS di luar negeri maupun lokasi yang berkaitan dengan Amerika dan warga negaranya.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan perang diperlukan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

Namun, Trump kini menghadapi tekanan politik untuk mengakhiri konflik dan mencegah perang Timur Tengah berkembang menjadi konflik berkepanjangan.

Eskalasi perang juga berdampak pada pasar energi dan turut mendorong kenaikan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir.

Dengan Rampersad kini diyakini telah meninggal dunia dan Swinton dipastikan tewas di Irak, jumlah korban militer AS terus bertambah. Perkembangan ini menjadi tanda semakin besarnya dampak perang AS-Iran terhadap pasukan Amerika yang ditempatkan di berbagai wilayah Timur Tengah.

Sumber: Indiatoday

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.