Akurat Logo

Presiden Myanmar Min Aung Hlaing Kunjungi Thailand, ASEAN Bersiap Buka Babak Baru Hubungan?

Fitra Iskandar | 6 Agustus 2026, 09:48 WIB
Presiden Myanmar Min Aung Hlaing Kunjungi Thailand, ASEAN Bersiap Buka Babak Baru Hubungan?
Ilustrasi bendera Myanmar - Pixabay

AKURAT.CO Presiden Myanmar Min Aung Hlaing dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Thailand pada Kamis (6/8/2026). Lawatan ini menjadi bagian dari upaya Bangkok mendorong keterlibatan kembali Myanmar dengan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) setelah bertahun-tahun terisolasi akibat kudeta militer 2021.

Dalam kunjungan tersebut, Min Aung Hlaing akan bertemu Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul sebelum menghadiri Forum Bisnis Thailand–Myanmar, yang diperkirakan berfokus pada peningkatan perdagangan dan investasi antara kedua negara.

Kunjungan ke Thailand merupakan lawatan luar negeri keempat Min Aung Hlaing sejak menjabat sebagai presiden Myanmar pada April lalu, setelah sebelumnya mengunjungi China, India, dan Laos.

Thailand Dorong Dialog, Bukan Legitimasi

Pemerintah Thailand menegaskan pendekatannya terhadap Myanmar adalah "calibrated re-engagement" atau keterlibatan kembali yang dilakukan secara terukur.

Anutin mengatakan kebijakan tersebut bertujuan menjaga jalur komunikasi tetap terbuka sekaligus mendorong Myanmar memenuhi komitmennya terhadap Konsensus Lima Poin ASEAN, yang selama ini menjadi syarat utama normalisasi hubungan Naypyidaw dengan negara-negara anggota ASEAN.

Sejak kudeta militer yang dipimpin Min Aung Hlaing pada 2021 terhadap pemerintahan terpilih pimpinan Aung San Suu Kyi, para pemimpin Myanmar tidak lagi diundang menghadiri pertemuan tingkat tinggi ASEAN.

Kudeta tersebut memicu perang saudara berkepanjangan yang menurut berbagai perkiraan telah menewaskan sekitar 100.000 orang dan menyebabkan krisis kemanusiaan di Myanmar.

Meski Min Aung Hlaing berkali-kali menyatakan perdamaian menjadi prioritas pemerintahannya, berbagai lembaga pemantau konflik melaporkan militer Myanmar justru meningkatkan serangan terhadap warga sipil, termasuk melalui intensifikasi serangan udara dalam beberapa bulan terakhir.

Thailand Diminta Berhati-hati

Sejumlah pengamat menilai langkah Thailand dapat memperkuat posisinya sebagai penghubung antara Myanmar dan ASEAN. Namun, Bangkok juga diingatkan agar tidak menimbulkan kesan memberikan legitimasi politik kepada Min Aung Hlaing sebelum ada kemajuan nyata dalam proses perdamaian.

Pakar Asia Tenggara dari Universitas Thammasat, Dulyapak Preecharush, mengatakan Thailand berpotensi memainkan peran penting dalam membuka kembali dialog antara Myanmar dan ASEAN.

Namun, menurutnya, terdapat batas yang sangat tipis antara membangun komunikasi dan memberikan pengakuan terhadap legitimasi pemerintahan militer Myanmar.

Di sisi lain, pemerintah Myanmar awal pekan ini mengizinkan Aung San Suu Kyi, yang masih ditahan sejak kudeta 2021, bertemu dengan perwakilan Komite Internasional Palang Merah (ICRC). Pertemuan tersebut menjadi yang pertama setelah bertahun-tahun muncul ketidakpastian mengenai kondisi kesehatan dan keberadaan peraih Nobel Perdamaian itu.

Pengamat menilai langkah tersebut dapat menjadi sinyal positif yang mendukung argumentasi Thailand untuk melanjutkan pendekatan diplomatik dengan Naypyidaw.

Kerja Sama Ekonomi Jadi Fokus

Selain isu politik, kunjungan Min Aung Hlaing juga diperkirakan akan menitikberatkan pada penguatan hubungan ekonomi kedua negara.

Thailand merupakan salah satu investor asing terbesar di Myanmar bersama Singapura dan China. Investasi Thailand tersebar di berbagai sektor, mulai dari perbankan, perhotelan, hingga manufaktur.

Sektor energi masih menjadi bidang kerja sama terbesar. Perusahaan energi Thailand PTT Exploration and Production (PTTEP) mengoperasikan dua ladang gas lepas pantai utama Myanmar, yaitu Yadana dan Zawtika, yang berperan penting dalam pasokan energi kawasan.

Meski demikian, nilai perdagangan kedua negara mengalami penurunan sejak pandemi Covid-19 dan kudeta militer 2021. Ekspor Thailand ke Myanmar menyusut tajam akibat pembatasan devisa yang diterapkan pemerintah Myanmar serta terganggunya aktivitas perdagangan di wilayah perbatasan karena konflik bersenjata.

Ketua Thai-Myanmar Business Council, Kich Aungvitulsatit, menilai kunjungan Min Aung Hlaing lebih bersifat simbolis sebagai bentuk niat baik dibandingkan membawa dampak ekonomi yang signifikan dalam waktu dekat.

Menurutnya, perbaikan hubungan dagang tetap bergantung pada stabilitas keamanan dan kondisi politik Myanmar yang hingga kini masih belum menunjukkan tanda-tanda membaik.

Sumber: Reuters

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.