Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis: Pentingnya Psychological First Aid untuk Menjaga Kesehatan Mental

AKURAT.CO Kesehatan jiwa adalah pondasi penting bagi setiap orang untuk bisa berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial. Dengan kondisi jiwa yang sehat, seseorang mampu mengenali kemampuannya, mengatasi tekanan hidup, bekerja secara produktif, hingga memberi kontribusi positif bagi lingkungannya. Namun, kenyataannya masalah kesehatan mental masih menjadi beban besar di banyak negara, termasuk Indonesia.
Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2022 mencatat 1 dari 8 orang di seluruh dunia mengalami masalah kesehatan jiwa. Di Indonesia sendiri, angka gangguan jiwa terus meningkat akibat berbagai faktor biologis, psikologis, dan sosial, termasuk keanekaragaman penduduk yang memicu tantangan tersendiri. Kondisi ini berdampak pada penurunan produktivitas dan menambah beban negara dalam jangka panjang.
Fakta Terkini Kesehatan Jiwa di Indonesia
Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan 2% penduduk usia 15 tahun ke atas mengalami masalah kesehatan jiwa dan 1,4% mengalami depresi, dengan prevalensi tertinggi pada kelompok usia 15–24 tahun. Sementara itu, kasus rumah tangga dengan anggota keluarga yang mengalami skizofrenia atau psikosis tercatat sebesar 4 permil.
Masalah lain yang turut memperburuk kondisi kesehatan mental di Indonesia adalah penyalahgunaan narkoba. Survei nasional BNN 2023 melaporkan angka prevalensi penyalahguna narkoba setahun pakai mencapai 1,81%, yang kini tidak hanya terjadi di kota besar tetapi juga merambah ke kota kecil dan berbagai lapisan masyarakat.
Kondisi mental remaja juga memerlukan perhatian serius. Indonesia – National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 mengungkapkan bahwa kecemasan menjadi masalah paling banyak dialami remaja usia 10–17 tahun dengan prevalensi 26,7%. Gangguan cemas bahkan menjadi gangguan jiwa tertinggi pada kelompok ini dengan angka 3,7%. Hampir dua pertiga remaja yang mengalami masalah kesehatan jiwa juga melaporkan hambatan dalam keluarga (64,7%), hubungan dengan teman sebaya (41,1%), dan aktivitas sekolah (39,3%).
Perundungan (bullying) turut memperparah situasi. Asesmen Nasional 2021 yang dilakukan Kemendikbudristek menemukan bahwa 24,4% peserta didik berpotensi mengalami perundungan di sekolah dalam setahun terakhir, mulai dari kekerasan fisik hingga perusakan barang. Di sisi lain, kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri masih menjadi fenomena gunung es yang banyak tidak dilaporkan karena stigma dan minimnya literasi kesehatan jiwa.
Luka Psikologis yang Sering Terabaikan
Kurangnya literasi kesehatan mental di masyarakat membuat banyak orang belum memahami cara menghadapi stres atau kejadian berat dalam hidup. Kondisi ini bisa memicu luka psikologis, yaitu perasaan tidak nyaman yang berlebihan dan mengganggu aktivitas sehari-hari akibat peristiwa yang dianggap sebagai krisis.
Krisis yang dimaksud dapat berupa kejadian penuh tekanan seperti bencana alam, kehilangan orang terdekat, kekerasan, atau situasi yang dianggap luar biasa dan menakutkan. Jika tidak segera ditangani, luka psikologis berpotensi berkembang menjadi gangguan jiwa yang lebih serius.
Psychological First Aid: Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis
Untuk mencegah luka psikologis berkembang menjadi gangguan mental, dibutuhkan pertolongan pertama pada luka psikologis (P3LP) atau psychological first aid (PFA). Konsep ini mirip dengan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), namun fokusnya pada kondisi psikis.
Psychological first aid adalah serangkaian tindakan yang bertujuan memberikan dukungan mental dasar kepada seseorang yang menghadapi peristiwa traumatis. Kejadian traumatis bisa berupa bencana alam, kekerasan seksual, kecelakaan, hingga kematian orang tercinta. Tujuan utama PFA adalah memberikan ketenangan, rasa aman, keterhubungan, dan harapan bagi penyintas agar gejala stres tidak semakin memburuk.
Meski berkaitan dengan dunia psikologi, PFA bukanlah terapi atau pengobatan mental. Siapa pun yang memahami prinsip dasarnya dan memiliki kondisi fisik serta mental yang stabil dapat memberikan pertolongan ini. Bahkan orang yang mengalami cedera serius dan tidak mampu mengurus diri sendiri pun bisa mendapatkan PFA.
Prinsip Utama Psychological First Aid
Dalam buku Psychological First Aid: Guide for Field Workers yang diterbitkan WHO, terdapat tiga prinsip utama dalam pelaksanaan PFA, yaitu Look, Listen, dan Link.
-
Look (Amati)
Langkah pertama adalah mengamati situasi dan lingkungan sekitar. Carilah orang-orang yang terlihat paling membutuhkan bantuan, seperti anak-anak, remaja, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, atau mereka yang berisiko mengalami kekerasan dan diskriminasi. Pengamatan ini penting untuk menilai siapa yang perlu mendapatkan pertolongan segera. -
Listen (Dengar)
Menjadi pendengar aktif adalah inti dari PFA. Terkadang, penyintas terlalu takut atau bingung untuk bercerita. Pemberi PFA dapat memulai percakapan dengan lembut, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memahami kebutuhan emosional yang mereka rasakan. -
Link (Hubungkan)
Setelah memahami situasi, langkah selanjutnya adalah membantu penyintas memenuhi kebutuhan dasar dan mendapatkan dukungan lebih lanjut. Ini bisa berupa menghubungkan mereka dengan layanan kesehatan, anggota keluarga, atau penyedia bantuan yang relevan.
Tata Cara Memberikan Psychological First Aid
Pelaksanaan PFA memerlukan pendekatan yang terstruktur namun tetap fleksibel sesuai situasi. Berikut langkah-langkah yang dianjurkan:
-
Membangun komunikasi
Jangan memaksa penyintas untuk bercerita. Hadirkan diri Anda secara tenang, tanyakan kebutuhan mereka, dan gunakan bahasa tubuh yang menunjukkan kepedulian. Komunikasi yang baik akan membuat penyintas merasa nyaman dan terbuka. -
Mempelajari situasi
Sebelum memberikan pertolongan, pahami kondisi lapangan. Cari tahu apa yang sedang terjadi, di mana lokasi bantuan medis atau makanan, serta apakah ada potensi krisis susulan seperti gempa lanjutan atau banjir. Informasi ini penting agar pertolongan bisa diberikan dengan aman. -
Melaksanakan PFA sesuai prinsip
Terapkan prinsip Look, Listen, Link. Amati orang yang paling membutuhkan, dengarkan keluhan mereka, dan bantu menghubungkan dengan layanan atau sumber daya yang relevan.
Pentingnya Literasi Kesehatan Jiwa
Keterbatasan akses layanan kesehatan mental, minimnya literasi masyarakat, serta stigma terhadap gangguan jiwa membuat banyak kasus terlambat ditangani. Padahal, edukasi mengenai psychological first aid dapat membantu orang sehat tetap sehat dan mencegah kelompok berisiko jatuh ke dalam gangguan jiwa yang lebih parah.
Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang PFA tidak hanya bermanfaat bagi korban bencana atau kekerasan, tetapi juga untuk kehidupan sehari-hari. Pertolongan pertama psikologis bisa menjadi langkah awal dalam menjaga kesehatan mental bersama, sekaligus menumbuhkan solidaritas sosial.
Kesimpulan
Psychological first aid adalah bentuk dukungan sederhana namun vital untuk membantu seseorang melewati peristiwa traumatis. Dengan memahami cara mengamati, mendengarkan, dan menghubungkan, siapa pun bisa berperan sebagai penolong pertama bagi orang lain. Memahami prinsip ini berarti kita turut menjaga kesehatan mental masyarakat secara lebih luas.
Kalau kamu tertarik dengan informasi kesehatan jiwa dan tips menjaga mental tetap sehat, terus ikuti update terbaru di situs ini untuk wawasan yang lebih lengkap.
Baca Juga: Sisi Lain dari Kebiasaan Menyenangkan Orang Lain, Menurut Psikologi
Baca Juga: Tes Psikologi: Pilih Kartu dan Temukan dalam 30 Detik Apa Kelemahan Terbesar Anda
FAQ
1. Apa itu psychological first aid (PFA)?
Psychological first aid atau pertolongan pertama psikologis adalah dukungan awal yang diberikan kepada seseorang yang mengalami peristiwa traumatis, seperti bencana alam, kekerasan, atau kehilangan orang terdekat. Tujuannya untuk menenangkan, memberi rasa aman, dan mencegah stres berkembang menjadi gangguan mental yang lebih serius.
2. Siapa saja yang boleh memberikan psychological first aid?
Siapa pun bisa memberikan PFA selama memiliki kondisi fisik dan mental yang stabil serta memahami prinsip dasarnya. PFA tidak hanya dilakukan oleh tenaga medis atau psikolog, tetapi juga bisa dilakukan oleh relawan, teman, keluarga, atau masyarakat umum yang berada di lokasi kejadian.
3. Apakah psychological first aid sama dengan terapi psikologis?
Tidak. PFA bukan terapi atau pengobatan gangguan mental. PFA hanya berupa pertolongan awal untuk mengurangi reaksi stres dan membantu penyintas mendapatkan dukungan lanjutan jika dibutuhkan. Jika gejala berlanjut atau memburuk, tetap diperlukan bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater.
4. Kapan psychological first aid diperlukan?
PFA diperlukan segera setelah seseorang mengalami kejadian traumatis, misalnya bencana alam, kecelakaan, kekerasan, atau kehilangan mendadak. Pertolongan cepat dapat membantu mencegah dampak psikologis jangka panjang.
5. Apa saja prinsip utama psychological first aid?
Menurut pedoman WHO, PFA memiliki tiga prinsip utama:
-
Look (Amati): Mengamati lingkungan dan mengidentifikasi orang yang paling membutuhkan pertolongan.
-
Listen (Dengar): Menjadi pendengar aktif untuk memahami perasaan dan kebutuhan penyintas.
-
Link (Hubungkan): Menghubungkan penyintas dengan layanan atau sumber daya yang dapat memenuhi kebutuhan dasar dan dukungan lebih lanjut.
6. Apakah psychological first aid hanya untuk korban bencana?
Tidak. PFA dapat diberikan pada siapa saja yang mengalami peristiwa penuh tekanan, termasuk korban kekerasan, kecelakaan, kehilangan orang tercinta, atau situasi krisis lainnya yang menimbulkan luka psikologis.
7. Bagaimana cara memulai psychological first aid?
Langkah awal adalah memastikan keamanan diri dan lingkungan, lalu membangun komunikasi secara lembut tanpa memaksa penyintas untuk bercerita. Dengarkan dengan empati, berikan informasi yang menenangkan, dan bantu mereka menemukan layanan medis, makanan, atau dukungan profesional bila diperlukan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









