AKURAT.CO Di tengah derasnya teknologi dan konektivitas, rasa kesendirian bisa jadi sangat menakutkan bukan sekadar karena kurangnya sinyal, tapi karena autophobia, yakni fobia spesifik yang membuat seseorang takut ekstrem akan berada sendiri, bahkan di tempat yang dianggap aman sekalipun.
Baca Juga: Tes Psikologi: Pilih Gedung Favoritmu dan Temukan Fobia Terbesarmu dalam 40 Detik
Apa Itu Autophobia?
Autophobia (atau monophobia) adalah kondisi kecemasan di mana seseorang merasa takut dan cemas secara tidak proporsional saat sendiri. Meskipun sadar bahwa situasi aman, gejala tetap muncul saat sendirian.
Rasa takutnya mencakup skenario seperti ditinggal, merasa tidak dicintai, atau terpapar bahaya tak terlihat.
Gejala Autophobia
Beberapa tanda autophobia:
-
Kekhawatiran berlebih bahwa akan ditinggal sendiri atau berada sendirian tanpa dukungan.
-
Muncul berbagai bayangan atau kemungkinan buruk saat sendiri.
-
Gejala fisik: jantung berdebar, keringat dingin, gemetar, nyeri dada, pusing.
-
Keinginan mendesak untuk keluar dari tempat sendiri jika ketakutan muncul.
Tak jarang autophobia muncul meskipun ada orang di sekitar, karena rasa takutnya lebih ke “sendirian dalam keramaian” atau “sendirian secara emosional.”
Penyebab
Belum ada satu penyebab tunggal, tapi beberapa faktor yang sering terlibat:
-
Pengalaman masa kecil seperti kehilangan orang tua, ditinggal sendirian, atau merasa diabaikan.
-
Paparan pada situasi trauma atau stres tanpa dukungan emosional.
-
Faktor psikologis lainnya seperti kecenderungan stres atau gangguan kecemasan yang sudah ada.
Diagnosa & Penanganan
Untuk memastikan diagnosis, profesional kesehatan mental akan menggunakan pedoman seperti DSM-5 dan mengevaluasi apakah ketakutan tersebut berlangsung minimal enam bulan, memicu kekhawatiran meskipun kondisi aman, serta mengganggu aktivitas keseharian.
Penanganannya bisa mencakup
-
Terapi pemaparan (exposure therapy): Latihan bertahap menghadapi kesendirian dalam situasi yang aman, guna membangun toleransi terhadap ketakutan.
-
Terapi perilaku kognitif (CBT): Membantu mengganti pola pikir negatif dan mengembangkan strategi koping yang lebih sehat.
-
Obat-obatan: Dalam beberapa kasus, psikiater dapat meresepkan obat untuk meredakan gejala kecemasan yang kuat.
Baca Juga: Cara Jitu Hilangkan Fobia
Autophobia bukan sekadar takut sendiri sesaat, melainkan gangguan yang bisa sangat mengganggu bila tidak ditangani.
Melalui diagnosa tepat dan kombinasi terapi psikologis plus dukungan profesional, rasa takut terhadap kesendirian bisa dikelola agar tidak mengendalikan hidup kita.
Dinda NS (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








