Akurat
Pemprov Sumsel

Orang Tua Wajib Waspada, Paparan Suara Keras Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak

Ayu Rachmaningtyas | 3 Maret 2026, 12:25 WIB
Orang Tua Wajib Waspada, Paparan Suara Keras Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak
Pendengaran memiliki peran penting dalam tumbuh kembang anak. (Ilustrasi/Akurat.co)

AKURAT.CO Paparan suara keras dari penggunaan perangkat audio, musik dengan volume tinggi serta lingkungan bising masih menjadi faktor risiko utama gangguan pendengaran, khususnya pada anak.

Menurut Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, gangguan pendengaran masih belum menjadi perhatian utama masyarakat. Meskipun berdampak signifikan terhadap kualitas hidup, khususnya pada masa tumbuh kembang anak.

Pendengaran memiliki peran penting dalam tumbuh kembang anak, mulai dari perkembangan bahasa, kemampuan belajar, interaksi sosial, hingga produktivitas di usia dewasa. Karena itu, sebagian besar gangguan pendengaran dapat dicegah melalui deteksi dini dan penerapan perilaku mendengar yang aman.

"Gangguan pendengaran dapat terjadi sejak lahir hingga lanjut usia. Dan perlu ditangani secara serius melalui upaya pencegahan dan deteksi dini," kata Nadia, melalui keterangannya, Selasa (3/3/2026).

Berdasarkan data Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), hingga 31 Desember 2025, dari total 18.697.124 orang yang menjalani skrining pendengaran, sebanyak 337.056 orang atau 1,8 persen terdeteksi mengalami gangguan pendengaran.

Sementara itu, per 1 Maret 2026, dari 4.128.849 orang yang telah menjalani skrining pendengaran, ditemukan 51.215 orang atau 1,24 persen mengalami gangguan pendengaran.

Data ini menunjukkan bahwa gangguan pendengaran masih menjadi masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius melalui penguatan upaya pencegahan dan deteksi dini.

Maka, sebagai bentuk penguatan layanan kesehatan, pemeriksaan pendengaran telah menjadi bagian dari Program CKG, yang mencakup seluruh siklus kehidupan, mulai dari bayi baru lahir hingga lanjut usia.

Baca Juga: Pusat Kesehatan Pendengaran Jakarta Resmi Dibuka, Dorong Kesadaran Kesehatan Telinga Sejak Dini

"Masih banyak anak yang dianggap tidak fokus atau mengalami kesulitan belajar, padahal bisa jadi disebabkan oleh gangguan pendengaran. Oleh karena itu, pemeriksaan pendengaran secara berkala menjadi sangat penting," ujar Nadia.

Dalam Peringatan Hari Pendengaran Sedunia 2026, Kemenkes menekankan pentingnya peran keluarga, sekolah dan masyarakat untuk menjaga kesehatan pendengaran anak.

Kemenkes juga mengimbau masyarakat untuk menerapkan prinsip safe listening, khususnya dalam penggunaan perangkat audio pribadi.

"Kami mengimbau masyarakat untuk membatasi volume penggunaan earphone maksimal 60 persen dan durasi tidak lebih dari 60 menit tanpa jeda. Penggunaan yang berlebihan dan dalam jangka panjang berisiko menyebabkan gangguan pendengaran," jelas Nadia.

Perwakilan Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher Indonesia (Perhati-KL), Fikri Mirza Putranto, menyampaikan bahwa Indonesia telah berkomitmen menurunkan angka gangguan pendengaran hingga 50 persen pada tahun 2030. Sejalan dengan target global kesehatan pendengaran.

"Upaya penurunan gangguan pendengaran memerlukan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, organisasi profesi, tenaga kesehatan, dunia pendidikan hingga masyarakat," ujarnya.

Penyebab utama gangguan pendengaran meliputi infeksi telinga, gangguan bawaan sejak lahir, paparan bising, penggunaan perangkat audio pribadi secara berlebihan, serta budaya lingkungan yang bising.

Gangguan pendengaran pada anak kerap tidak terlihat secara fisik, namun berdampak pada kemampuan komunikasi, prestasi belajar dan interaksi sosial.

Baca Juga: Musik Terlalu Keras Bisa Rusak Pendengaran Anak

"Melalui Peringatan Hari Pendengaran Sedunia 2026, Kementerian Kesehatan berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan pendengaran semakin meningkat, sehingga gangguan pendengaran dapat dicegah dan ditangani lebih dini demi mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang sehat dan berkualitas," jelas Fikri.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.