Apakah Facelift Wajah Berbahaya untuk Kesehatan? Ini Risiko dan Efek Sampingnya

AKURAT.CO Facelift sering dianggap sebagai solusi instan untuk mendapatkan wajah yang lebih muda dan kencang. Namun, di balik hasil estetika yang menjanjikan, banyak orang mulai bertanya tentang apakah facelift berbahaya untuk kesehatan?
Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Secara medis, facelift bisa aman jika dilakukan dengan prosedur yang benar. Tapi, tetap ada risiko yang perlu kamu pahami sebelum memutuskan menjalani tindakan ini.
Apakah Facelift Berbahaya?
Secara umum, facelift tidak berbahaya jika dilakukan oleh dokter spesialis bedah plastik di fasilitas resmi. Namun, karena termasuk prosedur operasi, facelift tetap memiliki potensi komplikasi.
Baca Juga: BYD Seal Facelift Hadir dengan Suspensi Cerdas DiSus-C, Begini Cara Aktifkannya
Dikutip dari Mayo Clinic, facelift adalah tindakan bedah yang membawa risiko seperti operasi lainnya, mulai dari efek ringan hingga komplikasi serius.
Artinya, tingkat bahaya facelift sangat bergantung pada:
Kompetensi dokter
Kondisi kesehatan pasien
Teknik yang digunakan
Perawatan pasca operasi
Risiko dan Efek Samping Facelift
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa risiko facelift yang perlu kamu ketahui:
1. Hematoma (Penumpukan Darah)
Ini adalah komplikasi paling umum. Darah bisa menumpuk di bawah kulit dan menyebabkan pembengkakan serta tekanan.
2. Infeksi
Seperti operasi lainnya, facelift memiliki risiko infeksi jika luka tidak dirawat dengan baik atau prosedur tidak steril.
3. Kerusakan Saraf Wajah
Meski jarang, facelift bisa menyebabkan gangguan saraf yang berdampak pada ekspresi wajah, baik sementara maupun permanen.
4. Bekas Luka (Scarring)
Sayatan operasi akan meninggalkan bekas luka, meskipun biasanya disamarkan di garis rambut atau sekitar telinga.
5. Rambut Rontok di Area Operasi
Beberapa pasien mengalami kerontokan rambut di sekitar area sayatan, bisa sementara atau permanen.
Baca Juga: Jadi Cita-cita, Elma Theana Pilih Jalani Facelift di Korea
6. Reaksi terhadap Anestesi
Efek samping dari obat bius juga bisa terjadi, mulai dari ringan hingga komplikasi serius.
7. Risiko Langka tapi Serius
Dalam kasus tertentu, facelift bisa menyebabkan:
Kerusakan jaringan kulit (skin necrosis)
Pendarahan berat
Hasil wajah tidak simetris
Seberapa Besar Risiko Facelift?
Menurut penelitian medis yang dipublikasikan di PubMed, tingkat komplikasi facelift tergolong rendah, yakni sekitar 1,8 persen, dengan hematoma sebagai kasus yang paling umum terjadi.
Meski demikian, risiko tersebut dapat meningkat apabila prosedur dilakukan oleh tenaga yang tidak berlisensi, pasien memiliki kondisi kesehatan tertentu, atau tidak menjalani perawatan pascaoperasi dengan baik.
Faktor yang Meningkatkan Risiko
Beberapa kondisi yang dapat memperbesar risiko facelift antara lain:
Merokok (memperlambat penyembuhan)
Riwayat penyakit kronis
Usia lanjut
Gaya hidup tidak sehat
Faktor-faktor di atas bisa memengaruhi hasil operasi dan memperbesar kemungkinan komplikasi.
Kapan Facelift Jadi Berbahaya?
Facelift bisa menjadi sangat berbahaya jika dilakukan secara ilegal atau oleh orang yang bukan tenaga medis. Kasus yang terjadi di Indonesia baru-baru ini menunjukkan bahwa praktik semacam ini dapat menyebabkan luka parah, infeksi serius, hingga cacat permanen.
Hal tersebut sejalan dengan peringatan dari World Health Organization yang menegaskan bahwa tindakan medis tanpa kompetensi memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan pasien.
Jadi, sebelum memutuskan facelift, pastikan kamu memahami risikonya dan memilih tempat yang benar-benar terpercaya agar hasilnya tidak hanya memuaskan, tapi juga aman untuk kesehatan.
Baca Juga: Apa Itu Facelift? Ini Penjelasan Medis, Manfaat, dan Bahayanya
FAQ
1. Apakah facelift aman untuk semua orang?
Tidak. Tidak semua orang cocok menjalani facelift, terutama jika memiliki kondisi kesehatan tertentu.
2. Berapa lama pemulihan setelah facelift?
Pemulihan biasanya memakan waktu beberapa minggu, tergantung kondisi tubuh dan jenis prosedur.
3. Apakah hasil facelift permanen?
Tidak permanen, tetapi bisa bertahan bertahun-tahun tergantung gaya hidup dan perawatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








