Akurat Logo

Vaksin Influenza Trivalent Mulai Digencarkan, Ini Alasan dan Dampaknya

Winna Wandayani | 6 Mei 2026, 18:57 WIB
Vaksin Influenza Trivalent Mulai Digencarkan, Ini Alasan dan Dampaknya
Vaksin Influenza Trivalent Mulai Digencarkan (AKURAT.CO/Winna Wandayani)

AKURAT.CO Perlindungan influenza kembali jadi perhatian karena vaksinasi rendah dan risiko komplikasi tinggi. Karena itu, pencegahan perlu diperkuat, terutama bagi lansia dan penderita komorbid.

PT Kalbe Farma Tbk melalui PT Kalventis Sinergi Farma menghadirkan vaksin influenza trivalent yang mengikuti rekomendasi terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Vaksin ini ditujukan untuk melindungi dari tiga virus yang masih beredar, yaitu influenza A (H1N1), A (H3N2) dan B/Victoria.

"Vaksinasi adalah langkah perlindungan yang penting untuk mencegah komplikasi serta menekan risiko rawat inap," ujar Vidi Agiorno selaku Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma, saat konferensi pers di Jakarta, Senin (4/5/2026).

Data WHO menunjukkan influenza menyebabkan sekitar 290.000 hingga 650.000 kematian setiap tahun di seluruh dunia. Meski demikian, cakupan vaksinasi influenza pada orang dewasa di Indonesia masih sangat rendah, hanya sekitar 0,5 per 1.000 populasi.

Angka tersebut masih jauh tertinggal dibandingkan negara lain seperti Singapura, Jepang dan Korea Selatan yang memiliki cakupan vaksinasi lebih tinggi. Kesenjangan ini menunjukkan perlindungan terhadap influenza di Indonesia belum optimal.

Dampaknya terlihat pada meningkatnya angka rawat inap serta penurunan produktivitas masyarakat. Risiko ini terutama lebih besar pada lansia dan individu dengan penyakit penyerta.

"Pada pasien common cold, jarang terjadi deman dan sakit kepala. Sedangkan pada pasien influenza, sering kali demam tinggi secara tiba-tiba yang biasanya berakhir dalam 3-4 hari," tambah Prof. Iris Rengganis selaku Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI).

Ia menambahkan vaksinasi tahunan menjadi langkah utama untuk menekan kematian dan rawat inap akibat influenza. Pencegahan dinilai lebih efektif dibanding menunggu komplikasi terjadi.

Baca Juga: Tekan Penularan, Kemenkes Siapkan Vaksin Campak untuk Tenaga Kesehatan

Perubahan dari vaksin quadrivalent (empat strain) ke trivalent (tiga strain) didorong oleh perkembangan epidemiologi global. WHO tidak lagi mendeteksi peredaran virus influenza B/Yamagata sejak 2020.

Menurut Prof. Iris, perubahan ini tidak berarti perlindungan berkurang. Penyesuaian dilakukan agar vaksin lebih efektif sesuai dengan strain virus yang sedang beredar.

"Dengan vaksinasi tahunan, perlindungan terhadap galur virus yang sedang beredar dapat tetap optimal. Ini khususnya penting bagi dewasa dengan faktor risiko dan kelompok lansia," jelas Dr. Sukamto selaku Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI.

Ia juga menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat. Banyak orang menunda vaksinasi karena menganggap influenza tidak berbahaya, padahal pada kelompok tertentu bisa memicu komplikasi serius.

Selain dilakukan rutin setiap tahun, vaksin influenza disarankan diberikan setidaknya dua minggu sebelum bepergian, terutama ke negara dengan empat musim. Mobilitas tinggi di area publik meningkatkan risiko paparan virus.

Kelompok seperti lansia, individu dengan daya tahan tubuh rendah dan penderita komorbid menjadi yang paling rentan terhadap dampak infeksi.

Rendahnya cakupan vaksinasi menunjukkan perlunya edukasi yang lebih luas. Pemahaman masyarakat terhadap influenza sebagai penyakit serius masih terbatas.

Vidi Agiorno menyebut edukasi menjadi bagian penting dari upaya pencegahan. "Perlindungan kesehatan terbaik dimulai dari kesadaran dan pencegahan sejak dini," tutupnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.