Apa Itu Virus Ebola? Kenali Gejala dan Cara Penularannya

AKURAT.CO World Health Organization (WHO) kembali menyoroti wabah virus Ebola yang terjadi di Republik Demokratik Kongo. Organisasi kesehatan dunia tersebut bahkan menetapkan wabah ini sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional karena berisiko menyebar lebih luas.
Wabah terbaru Ebola diketahui disebabkan oleh galur Bundibugyo, salah satu jenis virus Ebola yang belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus yang disetujui. Kondisi ini membuat banyak negara meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran penyakit mematikan tersebut.
Apa Itu Virus Ebola?
Ebola adalah penyakit serius yang disebabkan oleh infeksi virus Ebola. Penyakit ini tergolong langka, tetapi memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi, terutama jika tidak ditangani dengan cepat.
Baca Juga: Waspada Hantavirus, Timwas DPR Minta Jemaah Haji Jaga Imunitas Tubuh
Virus Ebola pertama kali ditemukan pada tahun 1976 di wilayah yang kini menjadi Republik Demokratik Kongo. Para ahli meyakini virus ini awalnya menyebar dari hewan yang terinfeksi, terutama kelelawar pemakan buah.
Sejak pertama kali ditemukan, Ebola telah memicu berbagai wabah di sejumlah negara Afrika. Salah satu wabah paling mematikan terjadi pada 2018 hingga 2020 di Republik Demokratik Kongo dengan ribuan korban meninggal dunia.
Bagaimana Virus Ebola Menular?
Virus Ebola menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi, seperti darah, muntahan, air liur, keringat, urin, atau cairan tubuh lainnya.
Penularan juga dapat terjadi melalui benda yang telah terkontaminasi cairan tubuh pasien, termasuk pakaian, jarum suntik, hingga perlengkapan medis yang tidak steril.
Selain dari manusia ke manusia, Ebola juga bisa menular dari hewan yang terinfeksi kepada manusia. Kelelawar buah disebut sebagai salah satu hewan yang diduga menjadi sumber alami virus tersebut.
Apa Saja Gejala Virus Ebola?
Gejala Ebola biasanya muncul dalam waktu dua hingga 21 hari setelah seseorang terinfeksi virus. Pada tahap awal, gejalanya sering menyerupai flu sehingga sulit dikenali.
Baca Juga: 5 Drakor yang Pernah Dibintangi Kim Go Eun, dari Goblin hingga Yumi's Cells
Beberapa gejala awal virus Ebola meliputi:
Demam tinggi
Sakit kepala
Nyeri otot
Kelelahan
Sakit tenggorokan
Setelah kondisi memburuk, pasien dapat mengalami gejala lanjutan seperti:
Muntah
Diare
Ruam kulit
Gangguan fungsi organ tubuh
Perdarahan internal maupun eksternal
Pada sebagian kasus, perdarahan dapat muncul dari hidung, mulut, atau bagian tubuh lainnya akibat kerusakan sistem pembekuan darah.
Seberapa Berbahaya Virus Ebola?
Ebola dikenal sebagai salah satu penyakit dengan tingkat kematian tinggi. Menurut WHO, rata-rata tingkat kematian Ebola bisa mencapai sekitar 50 persen, tergantung jenis virus dan kondisi penanganan pasien.
Untuk wabah galur Bundibugyo yang saat ini menyebar di Republik Demokratik Kongo, angka kematian pada wabah sebelumnya tercatat sekitar 30 persen.
Meski begitu, WHO menegaskan risiko Ebola menjadi pandemi global seperti Covid-19 masih tergolong rendah. Namun, negara-negara tetangga Republik Demokratik Kongo tetap diminta meningkatkan pengawasan karena tingginya mobilitas penduduk dan aktivitas perdagangan lintas batas.
Apakah Ebola Sudah Ada Vaksinnya?
Saat ini sudah tersedia vaksin untuk beberapa jenis virus Ebola, terutama galur Zaire. Namun, belum ada vaksin maupun obat yang disetujui khusus untuk galur Bundibugyo yang kini mewabah di Afrika.
Baca Juga: Harkitnas 20 Mei 2026 Libur atau Tidak? Ini Daftar Tanggal Merah dan Long Weekend Resmi
Karena itu, penanganan utama Ebola masih berfokus pada isolasi pasien, pelacakan kontak erat, serta pencegahan penyebaran virus melalui pengawasan kesehatan yang ketat.
WHO menilai situasi wabah saat ini cukup kompleks karena terjadi di wilayah dengan mobilitas penduduk tinggi dan kondisi keamanan yang tidak stabil. Selain itu, banyak fasilitas kesehatan informal di wilayah terdampak yang membuat pengawasan penyakit menjadi lebih sulit.
Penyebaran kasus ke negara tetangga seperti Uganda juga meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya wabah di kawasan Afrika Timur.
Meski demikian, WHO menegaskan bahwa penutupan perbatasan dan pembatasan perjalanan secara total bukan langkah yang disarankan. WHO mendorong agar peningkatan pengawasan kesehatan dan deteksi dini untuk mencegah penyebaran virus secara lebih luas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








