Profil Imam Al-Ghazali, Ulama Sufi yang Dikenal Miskin Namun Tersohor di Kalangan Ilmuan
Fajar Rizky Ramadhan | 22 Januari 2024, 09:10 WIB

AKURAT.CO Beliau bernama Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i. Namanya kadang diucapkan Ghazzali (dua z) artinya tukang pintal benang, karena pekerjaan ayah Al-Ghazali adalah tukang pintal benang.
Sedangkan yang lazim adalah Ghazali (satu z), diambil dari kata Ghazalah, nama kampung halamannya. Beliau lahir pada tahun 450 H/ 1058 M di desa Thus, wilayah Khurasan, Iran,dan meninggal di Thus pada 1111 M / 14 Jumadil Akhir 505 H dengan umur 52–53 tahun.
Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli fikir, filosof dan teolog muslim Persia yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Beliau dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan. Beliau adalah pemikir ulung Islam yang menyandang gelar “Pembela Islam” (Hujjatul Islam), “Hiasan Agama” (Zainuddin), “Samudra yang Menghanyutkan” (Bahrun Mughriq), dan lain-lain.
Beliau berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah. Beliau pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad.
Masa muda Al-Ghazali bertepatan dengan bermunculannya para cendekiawan, baik dari kalangan bawah, menengah, sampai elit. Kehidupan saat itu menunjukkan kemakmuran tanah airnya, keadilan para pemimpinnya, dan kebenaran para ulamanya.
Sarana kehidupan kala itu sangat mudah didapat, masalah pendidikan sangat diperhatikan, pendidikan dan biaya hidup para penuntut ilmu ditanggung oleh pemerintah dan pemuka masyarakat.
Walaupun ayah Al-Ghazali seorang buta huruf dan miskin, beliau amat memeperhatikan asalah pendidikan anak-anakanya. Sesaat sebelum meninggal, ia berwasiat kepada salah seorang sahabatnya yang sufi agar memeberikan pendidikan kepada kedua anaknya, Ahmad dan Al-Ghazali.
Kesempatan emas ini dimanfaatan oleh al-Ghazali untuk memperoleh pendidikan setinggi-tingginya. Mula-mula beliau belajar agama sebagai pendidikan dasar pada seorang ustad setempat, Ahmad bin Muhammad Razkafi. Kemudian beliau pergi ke Jurjan dan menjadi santri Abu Nasr Ismaili.
Setelah menamatkan studi di Thus dan Jurjan, Al-Ghazali melanjutkan dan meningkatkan pendidikannya di Naisabur dan bermukim di sana. Tak berapa lama kemudian, mulailah beliau mengaji kepada al-Juwain Imam Al Haramain hingga meninggalnya terakhir pada 478 H/1085 M.
Beberapa lain disebutkan, tapi kebanyakan tidak jelas. Yang jelas adalah Abu ‘Ali Al Farmadhi. Dari Naisabur pada 478 H/1085 M, beliau pergi ke kampus Nizam Al Mulk yang menarik banyak sarjana.
Di sana beliau diterima dengan kehormatan dan kemuliaan. Sebelum perpindahannya ke Bagdad, Al Ghazali mengalami fase skeptisisme, dan menimbulkan awal pencarian yang penuh semangat terhadap sikap intelektual yang lebih memuaskan dan cara hidup yang lebih berguna.
Pada 484 H/ 1091 H, Al Ghazali diutus oleh Nizam Al Mulk manjadi guru besar di Madrasah Nizhamiyyah yang didirikan di Bagdad. Beliau menjadi salah satu dari orang yang paling terkenal di Bagdad, dan selama empat tahun memberikan kuliah pada peserta yang jumlahnya mencapai lebih dari tiga ratus mahasiswa.
Pada saat yang sama, beliau menekuni kajian filsafat lewat bacaan pribadi dan menulis sejumlah buku. Namun, pada 488 H/ 1095 M beliau menderita penyakit jiwa yang membuatnya secara fisik tak dapat lagi member kuliah.
Motif-motif pengunduran diri Al Ghazali masih didiskusikan sampai saat ini. Alasan yang beliau berikan adalah untuk melaksanakan ibadah haji, namun ada yang mengatakan bahwa beliau ingin meninggalkan status guru besar dan kariernya secara keseluruhan sebagai ahli hukum dan teolog.
Sejak kepergiannya dari Bagdad, Al Ghazali telah menghabiskan waktu sekitar sepuluh sampai sebelas tahun untuk mengembara. Beliau menghabiskan beberapa waktu di Damaskus, lalu pergi ke Madinah dan Makkah lewat Jerussalem dan Hebron sambil melaksanakan haji pada 489 H/ November-Desember 1096 M.
Kemudian beliau kembali ke Damaskus dan pernah pula dilaporkan terlihat di Bagdad pada bulan Jumada Al-Tsaniyah 490 H/ Mei-Juni 1097 M, tetapi ini mungkin hanya singgah sejenak dalam rangkaian perjalanan ke kampung halamannya, Thus.
Pada periode pengunduran dirinya di Damaskus dan Thus, Al Ghazali hidup sebagai sufi yang miskin, selalu menyendiri, menghabiskan waktunya dengan meditasi dan pelatihan ruhaniah-ruhaniah lainnya.
Pada periode inilah beliau menulis Ihya Ulum Al-Din, karya besarnya tentang etika. Pada 499 H/ 1105-6 M, Fakr Al-Mulk, putra Nizam Al-Mulk, dan wazir Sanjar, penguasa Saljukiah di Khurasan, menekan Al Ghazali untuk kembali ke kerja akademik. Beliau menyerah atas penekanan ini, sebagian di dorong oleh kepercayaan bahwa beliau ditakdirkan untuk menjadi pembantu agama (mujaddid).
Pada bulan Dzulqadah/ Juli-Agustus 1106 M, al Ghazali mulai mengajar di Nizamiyah di Nasyabur dan tidak lama setelah itu menulis autobiografis Al-Munqidz min Al-Dhalal. Namun, sebelum meninggal beliau berhenti kembali mengajar dan kembali ke Thus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










