Akurat
Pemprov Sumsel

Pesan Imam Al-Ghazali Agar Anak Rajin Belajar Sejak Awal Masuk Sekolah hingga Lulus

Fajar Rizky Ramadhan | 15 Juli 2025, 06:49 WIB
Pesan Imam Al-Ghazali Agar Anak Rajin Belajar Sejak Awal Masuk Sekolah hingga Lulus

AKURAT.CO Setiap tahun ajaran baru selalu membawa harapan baru. Para orang tua berharap anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang rajin belajar, disiplin, dan kelak menjadi orang yang sukses.

Namun, semangat anak-anak dalam belajar tidak selalu stabil. Kadang bersemangat di awal, lalu mulai mengeluh ketika pelajaran terasa sulit atau saat harus bangun pagi setiap hari.

Dalam suasana seperti ini, tidak cukup hanya memberi nasihat harian atau hadiah ketika anak berprestasi. Yang lebih penting adalah menanamkan nilai dan makna belajar yang lebih dalam—bahwa belajar bukan sekadar tugas, tapi juga bentuk pengabdian diri kepada Allah.

Salah satu sosok besar dalam sejarah Islam yang banyak berbicara tentang pentingnya belajar dan adab dalam menuntut ilmu adalah Imam Al-Ghazali.

Imam Al-Ghazali dikenal bukan hanya sebagai ulama besar, tapi juga sebagai pendidik yang memperhatikan bagaimana seharusnya seseorang menuntut ilmu sejak kecil.

Pesan-pesannya bisa menjadi pegangan yang kuat bagi anak-anak, sejak awal masuk sekolah hingga mereka menapaki jalan kelulusan dan kehidupan yang lebih luas.

Baca Juga: 5 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Orang Tua Agar Anak Mandiri dan Betah di Sekolah

Imam Al-Ghazali menekankan bahwa ilmu adalah cahaya. Beliau menyampaikan bahwa ilmu yang diperoleh dengan niat yang benar akan menjadi sebab datangnya hidayah. Bukan hanya untuk memperbaiki kehidupan di dunia, tetapi juga sebagai bekal akhirat.

Oleh karena itu, sejak hari pertama anak masuk sekolah, orang tua perlu menanamkan keyakinan bahwa belajar adalah bagian dari ibadah. Setiap huruf yang dipelajari, setiap pelajaran yang dipahami, bisa menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk kebaikan.

Dalam karya-karyanya, seperti Ihya Ulumuddin dan Ayyuhal Walad, Al-Ghazali juga berpesan agar seseorang tidak hanya mengejar ilmu untuk kepentingan dunia semata. Anak perlu diajarkan bahwa ilmu harus diamalkan.

Apa gunanya pintar matematika jika digunakan untuk menipu? Apa gunanya fasih bicara jika lidahnya digunakan untuk merendahkan orang lain? Maka, pendidikan yang sejati bukan hanya mencetak anak yang pandai, tapi juga berakhlak mulia.

Salah satu kutipan Imam Al-Ghazali yang patut diingat adalah:

من طلب العلم ليتشرف به بين الناس أو ليربح به على الأعداء فهو خاسر

Barang siapa menuntut ilmu demi kemegahan di hadapan manusia atau untuk menang berdebat melawan orang lain, maka ia merugi.

Inilah yang bisa menjadi bekal spiritual bagi anak dalam menjalani hari-hari sekolahnya. Bahwa belajar bukan soal siapa yang paling tinggi nilainya, tapi siapa yang paling tulus niatnya dan paling baik amalnya.

Dengan menanamkan prinsip ini sejak awal, anak tidak akan mudah putus asa saat menemui kesulitan, dan tidak akan sombong saat memperoleh prestasi.

Imam Al-Ghazali juga menekankan pentingnya menghormati guru. Menurutnya, ilmu tidak akan berkah jika tidak disertai dengan adab kepada guru dan teman.

Anak perlu belajar bahwa sikap santun, mendengar dengan baik, dan tidak memotong pembicaraan guru adalah bagian dari kunci keberhasilan dalam belajar.

Baca Juga: Doa untuk Anak Sekolah di Minggu Pertama Masuk Sekolah, Agar Belajarnya Rajin

Orang tua perlu memberi contoh dan mengingatkan anak bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kepintaran, tetapi juga oleh sikap dan perilaku.

Dengan menjadikan pesan-pesan Imam Al-Ghazali sebagai pedoman, orang tua dan anak bisa menjadikan perjalanan sekolah bukan sekadar rutinitas harian, melainkan bagian dari misi hidup yang luhur.

Belajar bukan hanya untuk lulus, tapi untuk menjadi manusia yang bermakna. Dan semangat itu harus dimulai sejak hari pertama anak menginjakkan kaki di sekolah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.