Sederet Pendidikan dan Jalan Dakwah Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

AKURAT.CO Kabar duka datang dari dunia dakwah Indonesia. Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas wafat pada Kamis, (11/7/2024).
Almarhum meninggal pada usia 61 tahun. Ia wafat di rumah duka di Bogor, Jawa Barat setelah menunaikan ibadah haji. Informasi meninggalnya Ustadz Yazid tersebar di berbagai platform sosial media.
Mengutip dari berbagai sumber, pada awal dekade 1980-an Ustadz Yazid Jawas menimba ilmu di Ma’had al-‘Ulum al-Islamiyyah wal-’Arabaiyyah fi Indunisia atau lebih sering disebut LIPIA, di Jakarta.
Baca Juga: Profil Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Ulama Salafi yang Wafat Usai Ibadah Haji
Seperti diketahui, Ma’had tersebut berada di bawah naungan Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa’ud Riyadh.
Ustadz Yazid Jawas juga pernah belajar dengan seorang profesor dari Arab Saudi yang bernama Prof. Dr. Syaikh Abdurrazzaq, seorang dosen Universitas Jami’ah Al-Islamiyah di Madinah.
Selain itu, dia juga bermajelis di daurah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Usaimin di Unaizah, juga diizinkan mengikuti kelas khusus di majelis beliau.
Syaikh Usaimin sendiri merupakan tokoh dunia, seorang Ulama yang sangat terkemuka, mengajar pada Ma’had Ilmi di Unaizah, Fakultas Syari’ah dan Ushuluddin pada cabang Universitas Ibnu Su’ud di Qosim, Dekan Jurusan Aqidah dan Aliran-Aliran Kontemporer, anggota bagian pengajaran di Universitas Ibu Su’ud Qosim, bahkan merupakan anggota Hai’ah Kibaril Ulama’ (Majelis Ulama Besar Kerajaan Saudi Arabia).
Pada awal tahun 1990-an, Ustadz Yazid Jawas mengembangkan dakwah bersama Abu Nida, Ja'far Umar Thalib dan Yusuf Usman Baisa yang sama-sama alumni LIPIA dengan menggelar dauroh di pesantren Ibnu Qayyim Sleman Yogyakarta. Dauroh tersebut memperoleh dukungan dari DII.
Kemudian ia bersama Ja’far Umar Thalib diajak oleh Abu Nida untuk mendirikan Yayasan As-Sunnah pada 1992 bersamaan dengan membangun masjid di Degolan, Kaliurang, Yogyakarta.
Ia bersama Ja’far juga menjalankan pondok Pesantren al-Irsyad, Tengaran, Salatiga, Jawa Tengah atas dasar tugas dakwah dari LIPIA.
Semangatnya dalam menyebarkan ajaran salafi membuat pesantren tersebut menjadi salah satu mata rantai terpenting dalam jaringan penyebaran gerakan Salafi di Indonesia.
Tak hanya itu, pada 1994 ia juga menjabat sebagai direktur pertama majalah As-Sunnah. Hingga sebelum wafat, Ustadz Yazid terus menebar dakwah Salafi baik secara offline maupun online.
Latar belakang pendidikannya yang dipenuhi dengan ilmu dan ajaran Salafi membuat Ustadz Yazid dikenal sebagai tokoh ulama yang konsisten memberikan dakwah bermanhaj tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







