Akurat
Pemprov Sumsel

Sejarah Rebo Wekasan, Tradisi yang Diyakini untuk Tolak Bala dan Musibah di Rabu Terakhir Bulan Safar

Shalli Syartiqa | 28 Agustus 2024, 21:52 WIB
Sejarah Rebo Wekasan, Tradisi yang Diyakini untuk Tolak Bala dan Musibah di Rabu Terakhir Bulan Safar

 

AKURAT.CO Rebo Wekasan yang juga dikenal sebagai Rabu Pungkasan adalah Rabu terakhir di bulan Safar.

Menurut pengumuman dari Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), 1 Safar 1446 H jatuh pada Selasa (6/8/2024).

Dengan demikian, Rabu terakhir di bulan Safar tahun ini akan jatuh pada 4 September 2024, yang bertepatan dengan 29 Safar 1446 H.

Di beberapa bagian daerah di Indonesia terutama di Jawa, masyarakat melakukan ritual khusus pada hari ini untuk menolak bala atau musibah yang diyakini terjadi pada hari tersebut.

Lantas, bagaimana sejarah dari tradisi Rebo Wekasan yang masih dilakukan di beberapa daerah di nusantara?

Sejarah tradisi Rebo Wekasan

Tradisi Rebo Wekasan pertama kali diadakan pada masa Wali Songo yaitu pada zaman sembilan tokoh Islam yang dihormati di Pulau Jawa.

Baca Juga: Ridwan Kamil-Suswono Janji Pendidikan dan Kesehatan untuk Semua Anak di Jakarta

Pada masa itu, banyak ulama menyebut bahwa pada bulan Safar, Allah SWT menurunkan lebih dari 500 jenis penyakit.

Untuk mengantisipasi datangnya penyakit dan terhindar dari musibah, para ulama melakukan tirakatan dengan memperbanyak ibadah dan doa.

Kegiatan ini bertujuan agar Allah melindungi mereka dari segala penyakit dan bencana yang diyakini turun pada Rabu terakhir di bulan Safar.

Menurut laman Dinas Kebudayaan Yogyakarta, bulan Safar dianggap sebagai bulan penuh malapetaka atau bahaya.

Baca Juga: Situs Pemda, Militer Hingga Pendidikan Ini Diretas Judi Online

 

Tradisi ini mulai berkembang pada masa penyebaran Islam di Indonesia.

Pada saat itu, masyarakat Jawa meyakini bahwa Rabu terakhir di bulan Safar adalah hari naas, sebuah kepercayaan yang awalnya berasal dari tradisi Yahudi.

Para wali kemudian mengubah kepercayaan ini menjadi momen untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Peran Wali Songo sangat penting dalam pengembangan tradisi Rebo Wekasan. Sebagai contoh, di Desa Suci, Kabupaten Gresik, ada keyakinan bahwa Sunan Giri pernah menunjukkan sumber air saat musim kemarau.

Sunan Giri juga berpesan agar masyarakat mengadakan upacara adat sebagai ungkapan syukur, yang kemudian berkembang menjadi tradisi Rebo Wekasan.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.