Akurat
Pemprov Sumsel

Kritik Serial Film Bidaah: Menyudutkan Simbol Keagamaan Sufi, Kampanyekan Pemahaman Agama Salafi-Wahabi

Fajar Rizky Ramadhan | 13 April 2025, 08:00 WIB
Kritik Serial Film Bidaah: Menyudutkan Simbol Keagamaan Sufi, Kampanyekan Pemahaman Agama Salafi-Wahabi

AKURAT.CO Serial film Bidaah asal Malaysia kini tengah viral, namun juga memantik kritik tajam dari berbagai kalangan karena narasinya yang dianggap menyudutkan simbol-simbol keagamaan yang selama ini diasosiasikan dengan tradisi tasawuf atau sufisme.

Lebih jauh lagi, serial ini dituding secara implisit mengampanyekan paham Salafi-Wahabi melalui penyuguhan konflik yang berpijak semata pada ayat Al-Qur'an dan hadis, tetapi dikemas secara hitam-putih tanpa pendekatan analitik, historis, maupun kontekstual.

Jika ditelusuri secara naratif, Bidaah menggambarkan tokoh karismatik bernama Walid yang memimpin sebuah sekte bernama “Jihad Ummah.”

Ia digambarkan sebagai sosok religius yang manipulatif, memaksakan ketaatan mutlak, dan membungkus semua tindakannya dengan ayat-ayat Al-Qur'an serta hadis. Penggambaran ini bisa jadi dimaksudkan untuk mengkritik penyalahgunaan agama.

Namun masalah muncul ketika representasi tersebut justru mendekati simbol-simbol tradisional sufistik seperti jubah panjang, zikir berjamaah, atau pemimpin kharismatik yang dihormati murid-muridnya—semua ini telah lama menjadi bagian dari khazanah tasawuf Islam yang sah dan kaya secara spiritual.

Baca Juga: Serial Film Bidaah: Antara Kritik Paham Keagamaan Eksklusif dan Penyudutan Agama Islam

Di sisi lain, Bidaah seolah menyajikan tafsir keagamaan yang rigid dan kering dari kompleksitas, khas pendekatan literal ala Salafi-Wahabi.

Tafsir yang dimaksud adalah pendekatan agama yang mengklaim bahwa hanya pemahaman tekstual terhadap Al-Qur'an dan hadis-lah yang benar, tanpa memerlukan dimensi kontekstual, maqashid (tujuan syariat), maupun ijtihad zaman kini.

Pendekatan ini secara metodologis bertentangan dengan semangat tradisi keilmuan Islam klasik yang kaya, inklusif, dan multidisipliner.

Para ulama tafsir seperti Imam Fakhruddin ar-Razi, al-Zamakhsyari, hingga Muhammad Abduh dalam tafsir modern, telah menunjukkan bahwa pemahaman Al-Qur’an tidak cukup dengan membaca teksnya saja, tetapi juga dengan menggali konteks sosial, budaya, sejarah, serta makna-makna filosofisnya.

Bidaah sama sekali tidak menyentuh aspek ini. Alih-alih, ia menempatkan agama hanya sebagai kumpulan doktrin kaku, dan menihilkan keberagaman tradisi Islam yang hidup sejak abad-abad awal.

Dalam dunia akademik, Sufisme tidak bisa dilepaskan dari sejarah Islam. Annemarie Schimmel, seorang sarjana Islam terkemuka dalam bukunya Mystical Dimensions of Islam, menjelaskan bahwa tasawuf adalah jantung spiritual Islam.

Ia menekankan kasih sayang, introspeksi diri, dan hubungan cinta dengan Tuhan, jauh dari karakter tiranik dan penuh kontrol seperti yang diperankan Walid.

Ketika tokoh seperti Walid muncul dan dikaitkan dengan simbol-simbol sufistik, maka narasi film ini tanpa sadar—atau justru dengan sengaja—menyerang tradisi spiritual Islam yang telah melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Jalaluddin Rumi, Imam al-Ghazali, dan Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Lebih parah lagi, pemahaman agama dalam Bidaah tampak mendorong satu model keberagamaan tunggal: literal, otoriter, dan anti-tafsir. Padahal, Islam tidak mengenal monopoli kebenaran tafsir.

Dalam ilmu ushul fiqh, dikenal istilah ikhtilaf al-fuqaha (perbedaan pendapat di antara para ahli hukum Islam) yang telah diakui dan dihormati dalam tradisi keilmuan.

Al-Qur’an itu sendiri membuka ruang interpretasi luas, sebagaimana disebut dalam QS. Ali Imran: 7, bahwa ada ayat-ayat yang muhkam (jelas) dan mutasyabihat (samar), yang pemahamannya memerlukan ilmu mendalam dan kehati-hatian.

Baca Juga: 5 Kesesatan Sekte Jihad Ummah dalam Serial Bidaah

Sayangnya, serial ini tidak menghadirkan keragaman tafsir atau tokoh agama yang memiliki sudut pandang berbeda. Tidak ada representasi ulama moderat, cendekiawan kritis, atau sufi yang menunjukkan kedalaman spiritual dan rasionalitas dalam memahami agama.

Hal ini menimbulkan kesan bahwa Bidaah bukan sekadar kritik terhadap sekte menyimpang, tetapi menjadi kendaraan untuk membenarkan satu aliran keagamaan tertentu—yakni Salafi-Wahabi—yang selama ini dikenal memusuhi praktik-praktik tasawuf dan menjadikan istilah "bid‘ah" sebagai senjata delegitimasi terhadap tradisi Islam non-literal.

Ini tentu menjadi masalah serius, terutama karena serial ini dikonsumsi oleh jutaan pengguna TikTok dan platform digital lainnya yang mayoritas adalah generasi muda dengan literasi agama yang mungkin belum matang.

Ketika simbol-simbol sufisme hanya digambarkan sebagai penipuan, manipulasi, dan kesesatan, maka generasi ini akan tumbuh dengan persepsi keliru tentang tradisi keislaman yang justru telah membentuk peradaban Islam selama berabad-abad.

Jika Bidaah hendak benar-benar menjadi kritik sosial keagamaan yang bertanggung jawab, maka ia seharusnya menyertakan narasi tandingan: tokoh ulama yang inklusif, pembela kebenaran dengan pendekatan ma'ruf, dan tokoh agama yang menunjukkan bahwa Islam bisa menjadi rahmat, bukan ancaman. Tanpa itu, film ini justru menyempitkan pemahaman agama menjadi semata-mata instrumen kekuasaan dan ketakutan.

Dan ironisnya, atas nama "membasmi bid‘ah," Bidaah justru memproduksi bid‘ah baru dalam representasi agama yang melawan semangat dialog, ilmu, dan kasih sayang. Sebuah ironi yang seharusnya tidak luput dari perhatian kita.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.