Akurat
Pemprov Sumsel

Kalender Jawa Weton 8 Mei 2025 Tentang Apa? Bagaimana Hukum Meyakini Kalender Jawa Weton dalam Islam?

Fajar Rizky Ramadhan | 8 Mei 2025, 14:05 WIB
Kalender Jawa Weton 8 Mei 2025 Tentang Apa? Bagaimana Hukum Meyakini Kalender Jawa Weton dalam Islam?

AKURAT.CO Tanggal 8 Mei 2025, menurut perhitungan Kalender Jawa, jatuh pada hari Kamis Wage. Dalam tradisi Jawa, setiap hari memiliki pasangannya dengan lima pasaran: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Kombinasi ini disebut sebagai weton, dan telah lama menjadi bagian integral dari kebudayaan spiritual masyarakat Jawa.

Weton bukan sekadar penanda waktu, melainkan dipercaya memengaruhi karakter, nasib, jodoh, hingga keberuntungan seseorang.

Pada hari Kamis Wage, menurut kepercayaan tradisional, karakter orang yang lahir pada weton ini cenderung kalem, bertanggung jawab, namun kadang terlalu pendiam dan menyimpan perasaan.

Di sisi lain, dalam kepercayaan budaya, hari ini dianggap baik untuk kegiatan spiritual, tetapi tidak disarankan untuk memulai usaha besar atau perjalanan jauh.

Nilai neptu Kamis (8) dan Wage (4) menghasilkan jumlah 12, yang dalam tafsir tradisional bisa dihubungkan dengan sifat moderat, cenderung seimbang antara rasionalitas dan perasaan.

Baca Juga: Malam Jumat Ini Malam Keramat Apa? Cek Mitosnya di Sini

Namun, di balik kearifan lokal tersebut, muncul pertanyaan kritis yang tidak bisa diabaikan: Bagaimana pandangan Islam terhadap keyakinan semacam ini?

Apakah mempercayai atau bahkan menjadikan weton sebagai pedoman hidup merupakan bagian dari syirik, ataukah masih bisa ditoleransi sebagai bagian dari budaya?

Islam dan Tradisi: Titik Temu atau Titik Pisah?

Islam, sebagai agama yang sangat menekankan tauhid (pengesaan Allah), memiliki sikap tegas terhadap segala bentuk keyakinan yang mengarah pada tathayyur (percaya pada sial atau keberuntungan dari waktu, tempat, atau benda). Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada thiyarah (tathayyur), yang baik adalah fā’l (berharap kebaikan dari Allah).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam konteks ini, weton bisa masuk kategori tathayyur apabila diyakini dapat memengaruhi takdir, peruntungan, atau keputusan hidup seseorang secara absolut.

Keyakinan seperti ini menyalahi prinsip dasar akidah Islam yang menegaskan bahwa hanya Allah yang Maha Menentukan segala sesuatu.

Namun, kita juga tak bisa menafikan bahwa budaya memiliki nilai historis dan identitas. Kalender Jawa, termasuk sistem weton, pada dasarnya adalah produk kultural masyarakat Nusantara yang berkembang jauh sebelum Islam datang.

Setelah Islam masuk, terjadi proses akulturasi yang membaurkan nilai-nilai keislaman ke dalam kebudayaan lokal tanpa menghilangkan ciri khasnya.

Maka muncul bentuk-bentuk integrasi seperti perhitungan hari baik dalam selamatan, mitoni, atau ngunduh mantu, yang sering kali tetap diawali dengan doa-doa Islam.

Dalam hal ini, para ulama membedakan antara mengikuti budaya dan meyakini kekuatan metafisis dari budaya tersebut.

Bila weton sekadar dijadikan sebagai alat bantu sosial untuk merancang agenda keluarga atau adat, tanpa keyakinan akan adanya kekuatan supranatural di baliknya, maka hal ini dianggap sebagai urf (tradisi) yang dibolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat.

Namun, bila weton dipercaya menentukan nasib seseorang, menjadi dasar keputusan penting tanpa istikharah, atau bahkan dijadikan penentu jodoh dan rezeki secara mutlak, maka itu sudah masuk ranah aqidah yang bertentangan dengan tauhid. Ini menjadi garis batas yang penting dalam memahami interaksi antara Islam dan budaya lokal.

Jalan Tengah: Budaya yang Mencerahkan, Bukan Mengikat

Realitasnya, banyak masyarakat Muslim Jawa yang hidup berdampingan dengan tradisi weton, tanpa menjadikannya sebagai dogma. Mereka memperlakukan weton seperti kalender umum: sebagai sarana, bukan kebenaran mutlak.

Misalnya, orang tua mencocokkan weton anak dan calon menantu bukan untuk menolak jodoh, tetapi sebagai bentuk ikhtiar, dengan tetap mengembalikan semuanya kepada kehendak Allah. Dalam kasus seperti ini, weton lebih mirip “kalkulasi sosial” daripada keyakinan metafisis.

Baca Juga: Kalender Jawa Mei 2025: Lengkap Weton, Pasaran, dan Tanggal Hijriah

Islam tidak memusuhi budaya. Yang dilarang adalah taklid buta terhadap budaya yang menyimpang dari tauhid. Maka, yang dibutuhkan adalah sikap bijak dan kritis: menyaring mana yang bisa dipertahankan sebagai warisan leluhur yang indah, dan mana yang harus ditinggalkan karena berpotensi menyimpang dari prinsip keimanan.

Kesimpulannya, kanggal 8 Mei 2025, Kamis Wage, adalah bagian dari Kalender Jawa yang menyimpan nilai-nilai budaya lokal. Namun, bagi umat Islam, weton tidak boleh diyakini sebagai penentu nasib atau kebenaran mutlak yang bisa menggantikan kehendak Allah. Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi karena takdir dan usaha, bukan karena angka-angka weton.

Maka, memahami weton boleh, menghargainya sebagai warisan budaya juga sah. Tapi ketika bicara soal keyakinan, Islam meminta kita tegas: tidak ada kekuatan selain Allah, dan segala bentuk ramalan yang mengklaim tahu masa depan adalah kesalahan besar. Islam tak melarang kearifan lokal, tapi meluruskan arah agar budaya tidak menyesatkan, melainkan mencerahkan.

Wallahu A'lam.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.