Jemaah Haji Tertua Asal Indonesia Tiba di Tanah Suci: Mbah Sumbuk, 109 Tahun, dari Kebumen

AKURAT.CO Minggu pagi, 18 Mei 2025 waktu Arab Saudi, Bandara Internasional King Abdul Aziz di Jeddah menyambut kedatangan seorang tamu istimewa dari Indonesia. Dialah Mbah Sumbuk, jemaah haji asal Kebumen, Jawa Tengah, yang kini berusia 109 tahun. Ia tercatat sebagai jemaah haji tertua dari Indonesia pada musim haji 1446 Hijriah/2025 Masehi.
Mbah Sumbuk tergabung dalam kloter JKS-33 dari Embarkasi Jakarta-Bekasi dan didampingi oleh anaknya, Sukmi, yang berusia 56 tahun. Kehadiran Mbah Sumbuk menjadi perhatian karena usianya yang telah melewati satu abad, namun masih menunjukkan semangat untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Saat tiba di terminal haji, Mbah Sumbuk tampak haru. Di atas kursi roda yang membawanya masuk ke area kedatangan, ia mengucapkan syukur lirih, menandai betapa mendalam rasa bahagianya. “Alhamdulillah... Mbah tekan kéné,” ucapnya dengan suara pelan.
Baca Juga: 1 Dzulhijjah 2025 Kapan? Ini Puasa Sunah yang Dianjurkan di Bulan Dzulhijjah
Selama penerbangan dari Indonesia yang berlangsung sekitar sembilan jam, Mbah Sumbuk diketahui tidak banyak mengonsumsi makanan. Sesampainya di Jeddah, ia sempat mencari makanan tradisional kesukaannya: lemet, olahan khas dari singkong parut dan gula jawa.
Kehangatan juga tercipta saat Mbah Sumbuk bertemu dengan salah seorang petugas Media Center Haji (MCH) bernama Warijan.
Keduanya langsung terhubung dalam percakapan sederhana yang sarat makna, setelah diketahui bahwa Warijan juga berasal dari Kebumen. Dalam pertemuan singkat itu, Mbah Sumbuk menggenggam tangan Warijan dan memintanya ikut bersama ke Makkah.
Warijan dengan lembut menjelaskan bahwa tugasnya hanya di bandara, namun ia meyakinkan bahwa sesampainya di Makkah, akan ada banyak sesama warga Kebumen yang akan menemaninya.
Menyesuaikan dengan kebutuhan khusus para jemaah lanjut usia, petugas haji menyiapkan kendaraan khusus yang dilengkapi dengan lift hidrolik. Dengan begitu, kursi roda Mbah Sumbuk dapat langsung dinaikkan ke dalam bus tanpa harus dipindahkan.
Pelayanan khusus seperti ini menjadi perhatian utama panitia penyelenggara haji demi menjaga kenyamanan dan keselamatan seluruh jemaah, khususnya yang berusia lanjut.
Kehadiran Mbah Sumbuk menjadi simbol keteguhan dan harapan, bahwa panggilan ke Tanah Suci bisa diraih oleh siapa pun yang dikehendaki-Nya, terlepas dari usia maupun kondisi fisik. Ia membawa cerita tentang ketabahan, cinta kepada ibadah, serta ikatan spiritual yang melampaui batas usia dan raga.
Baca Juga: BP Haji Targetkan Pangkas Masa Tinggal Jemaah 5-10 Hari Mulai 2026
Pemerintah Indonesia melalui Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) terus mengupayakan layanan terbaik bagi seluruh jemaah, khususnya mereka yang termasuk dalam kategori berisiko tinggi.
Semangat Mbah Sumbuk menjadi inspirasi bagi banyak orang, sekaligus pengingat bahwa ibadah haji adalah perjalanan ruhani yang mampu menyentuh hati siapa saja.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










