Komisi VIII DPR RI Kritik Insiden Keterlambatan Bus Jemaah Haji di Muzdalifah: Bentuk Kegagalan dalam Perencanaan Operasional

AKURAT.CO Anggota Komisi VIII DPR RI, Dini Rahmania, mengkritik keras insiden keterlambatan bus pengangkut jemaah dari Muzdalifah ke Mina. Akibatnya, ribuan jemaah haji, termasuk dari Indonesia, terpaksa berjalan kaki sejauh 4 kilometer dalam kondisi kelelahan dan kepadatan massa.
Dini menilai peristiwa ini sebagai kegagalan dalam perencanaan operasional transportasi. Ia mengatakan, "Keterlambatan armada bus dari Muzdalifah ke Mina yang memaksa jemaah berjalan kaki dalam kondisi lelah dan padat adalah bentuk kegagalan dalam perencanaan operasional."
Menurutnya, ibadah haji memiliki tahapan penting yang membutuhkan ketepatan waktu dan kesiapan logistik. Ia mengingatkan bahwa risiko keselamatan jemaah bisa meningkat jika transportasi tidak tersedia tepat waktu.
"Padahal ini adalah rukun haji yang sangat vital, dan risiko keselamatan sangat besar jika transportasi tidak tersedia dengan tepat waktu," ucapnya.
Baca Juga: Kuota Haji 2026 Terancam Dipangkas 50 Persen, BP Haji Lakukan Negosiasi ke Saudi
Tak hanya soal transportasi, Dini juga mengungkap kekacauan dalam penempatan tenda di Arafah. Ia menyebutkan adanya pengusiran jemaah dari tenda akibat miskomunikasi antara penyelenggara dan pihak syarikah.
"Kondisi semrawut tidak hanya terjadi karena pemisahan hotel antarkloter, namun juga karena buruknya manajemen pengangkutan jemaah dari hotel ke Arafah. Bahkan kami menerima laporan adanya pengusiran jemaah dari tenda Arafah karena permasalahan penempatan dan koordinasi antarsyarikah," katanya.
Ia mendesak agar Kementerian Agama dan otoritas Arab Saudi meningkatkan kontrol serta mitigasi risiko dalam pelaksanaan ibadah haji. "Hal ini menunjukkan lemahnya kontrol dan mitigasi yang seharusnya dilakukan lebih awal oleh otoritas penyelenggara," tegasnya.
Dini juga menyoroti kualitas konsumsi jemaah. Ia mempertanyakan kesenjangan pelayanan makanan yang diterima jemaah di lapangan. "Bagaimana mungkin ada jemaah yang mendapat makanan siap saji standar catering, sementara yang lain hanya menerima pop mie instan?" ujar legislator dari Fraksi NasDem itu.
Ia menegaskan perlunya evaluasi total terhadap penyelenggaraan ibadah haji tahun 2025. "Kami di Komisi VIII DPR RI terus mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan haji tahun ini, termasuk perluasan pengawasan terhadap syarikah-syarikah yang bekerja sama dengan Indonesia," katanya.
Baca Juga: Kapan Rombongan Jemaah Haji Indonesia 2025 Mulai Pulang ke Tanah Air?
Kemenag Jelaskan Penyebab Jemaah Jalan Kaki
Menanggapi kejadian ini, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag, Hilman Latief, menjelaskan bahwa kemacetan menjadi penyebab utama keterlambatan bus.
"Pada saat itu di malam hari sampai Subuh proses pergerakan jemaah sangat bergantung sekali dengan kondisi lalu lintas yang sangat padat, baik karena jumlah armada bus yang ribuan jumlahnya antre menuju Mina, juga tidak sedikit jemaah yang melakukan jalan kaki di lokasi Mina sehingga pergerakan menjadi lebih lambat," kata Hilman di Makkah, Sabtu (7/6/2025).
Ia menambahkan, sebagian jemaah – khususnya lansia dan disabilitas – menggunakan skema murur, yaitu mabit dengan hanya melintas di Muzdalifah tanpa turun. Mereka telah terlebih dahulu tiba di Mina. Sementara itu, jemaah yang bermalam di Muzdalifah mulai dijemput sejak pukul 22.30 Waktu Arab Saudi.
Namun, kemacetan parah pada Jumat pagi membuat rotasi bus melambat. Jemaah yang belum terangkut pun akhirnya memilih berjalan kaki agar tidak tertinggal.
"Setelah pergerakan sebagian jemaah diangkut oleh bus ke Mina, proses perputaran menuju kembali ke Muzdalifah bus-bus yang sudah menjemput cukup lambat, sehingga jemaah menjadi khawatir terkait posisi mereka yang masih juga belum terjemput bus," jelas Hilman.
Meski demikian, petugas haji tetap mendampingi jemaah selama perjalanan menuju Mina dan mengarahkan mereka ke jalur yang lebih aman dan efisien.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









