Profesor Prancis Sebut Islam Dianggap Musuh Nyata oleh Barat

AKURAT.CO Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama Al Jazeera English, akademisi asal Prancis Olivier Roy menyampaikan pandangan kritis mengenai relasi antara dunia Barat dan Islam.
Ia menegaskan bahwa “Islam tak lagi dianggap budaya tetapi musuh nyata,” menunjukkan bagaimana pergeseran persepsi telah menjadikan Islam sebagai ancaman yang diposisikan secara ideologis oleh Barat.
Olivier Roy, yang dikenal luas sebagai ilmuwan politik dan pakar studi Islam, merupakan profesor di European University Institute, Firenze, Italia.
Ia juga pernah menjabat sebagai direktur penelitian di CNRS (Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis) dan direktur studi di EHESS (Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Prancis).
Dalam dialog bersama Jamal Al-Shayyal, Direktur Al Jazeera 360 dalam program podcast Centre Stage, Roy menelusuri akar-akar historis dan ideologis dari narasi anti-Islam yang berkembang di Barat.
Menurut Roy, salah satu titik krusial dari relasi problematik ini adalah transformasi konsepsi orientalisme. Ia menyebutkan bahwa wacana Barat mengenai dunia Islam mengalami pergeseran tajam sejak masa kolonialisme.
Baca Juga: Islam Nusantara Dilirik Dunia, Inggris dan AS Minta Ustad dari Indonesia
Konsep-konsep seperti “kemajuan” dan “hak asasi manusia” menurutnya sering kali dijadikan dalih penjajahan modern yang dibungkus secara moralistik. Roy menyebut, “Konsep-konsep tersebut tidak netral, melainkan sarat kepentingan dan dijadikan alat pembenaran hegemoni.”
Perjalanan intelektual Roy bermula dari pengalamannya di Afghanistan. Pada tahun 1969, saat baru menyelesaikan sekolah menengah, ia melakukan perjalanan ke Kabul dan berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal. Ia melanjutkan eksplorasinya ke Asia Tengah, menjelajahi kota-kota kuno di Uzbekistan dan Tajikistan.
Pengalaman tersebut membentuk perspektifnya tentang dunia Islam, sebelum ia kembali ke Paris dan memperoleh gelar doktor filsafat serta mengajar di sejumlah institusi pendidikan tinggi di Prancis.
Beberapa karya penting Roy telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, antara lain al-Islam wa al-‘Ilmaniyyah (Islam dan Sekularisme), al-Jahl al-Muqaddas (Kebodohan yang Disucikan), Zaman Din Bila Tsaqafah (Zaman Agama Tanpa Budaya), al-Jihad wa al-Maut (Jihad dan Kematian), ‘Aulamat al-Islam (Globalisasi Islam), serta FasyL al-Islam as-Siyasi (Kegagalan Islam Politik).
Roy juga menyoroti bagaimana dalam banyak kebijakan luar negeri negara-negara Barat, Islam seringkali tidak dipandang sebagai entitas budaya yang beragam dan dinamis, melainkan disederhanakan sebagai ideologi yang monolitik dan mengancam. "Kekhawatiran terhadap radikalisme sering kali dilebih-lebihkan dan mengabaikan konteks sosial-politik tempat umat Islam berada," ujarnya.
Dialog ini menjadi penting di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama pasca konflik berkepanjangan di Timur Tengah dan kebijakan luar negeri beberapa negara besar yang cenderung bias terhadap komunitas Muslim. Menurut Roy, membingkai Islam sebagai ancaman semata justru memperdalam jurang ketidakpercayaan antara Timur dan Barat.
Dalam wawancara tersebut, ia juga menekankan bahwa masa depan identitas dan agama sangat bergantung pada bagaimana masyarakat global mampu berdialog dan membongkar stereotip yang telah lama dibentuk. “Perlu ada keberanian untuk mengakui bahwa banyak narasi dominan yang kita warisi merupakan warisan kolonial,” tuturnya.
Baca Juga: Benarkah KHGT Solusi Masalah Terbesar Umat Islam Dunia?
Wawancara penuh dengan Olivier Roy dapat diakses melalui podcast Centre Stage yang merupakan salah satu platform Al Jazeera English dalam menghadirkan pemikir global yang berpengaruh untuk membahas isu-isu paling mendesak di dunia kontemporer.
Dengan paparan ini, Roy kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu intelektual Barat yang berani menggugat persepsi dominan dan mengajak dunia untuk melihat Islam tidak sebagai musuh, melainkan sebagai bagian integral dari peradaban manusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







