Dipakai Nama Rumah Sakit di Jawa Barat, Istilah Welas Asih Pernah Digunakan dalam Sejarah Islam Klasik

AKURAT.CO Penggantian nama RSUD Al-Ihsan menjadi RSUD Welas Asih oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat menuai sorotan publik. Sebagian pihak mengkritik keputusan tersebut, menilai istilah “Welas Asih” sebagai bentuk pelemahan identitas keislaman rumah sakit tersebut.
Namun jika dilihat dari perspektif sejarah dan kebudayaan Islam, istilah “welas asih”—yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai rahmah—bukanlah konsep asing. Bahkan, istilah ini telah menjadi jantung moralitas dalam sejarah peradaban Islam klasik.
Secara bahasa, “welas asih” adalah terjemahan dari akar kata rahmah yang berarti kasih sayang, empati, dan kepedulian terhadap sesama.
Konsep ini tidak hanya terdapat dalam teks-teks keagamaan, tetapi juga secara nyata dipraktikkan dalam struktur sosial, kebijakan pemerintahan, hingga sistem pelayanan publik di masa lalu, termasuk dalam dunia medis.
Dalam sejarah Islam klasik, rumah sakit atau bimaristan bukan hanya tempat menyembuhkan penyakit, melainkan juga pusat kemanusiaan yang dibangun atas dasar nilai rahmah.
Para khalifah Abbasiyah, seperti Harun al-Rasyid dan Al-Ma’mun, membangun rumah-rumah sakit megah di Baghdad yang tidak hanya mengobati fisik, tetapi juga memperhatikan kesehatan mental, spiritual, dan sosial pasien—semua dalam bingkai kasih sayang.
Baca Juga: Arti Welas Asih dalam Perspektif Islam, Tidak Bertentangan dengan Nilai Agama
Sejarawan Ibn Abi Usaybi’ah dalam karyanya ‘Uyun al-Anba fi Tabaqat al-Atibba’ mencatat bagaimana para dokter di masa keemasan Islam dituntut untuk memiliki adab (etika) dan rahmah dalam memperlakukan pasien.
Para dokter seperti Al-Razi dan Ibnu Sina bukan hanya dikenal karena kepakarannya, tetapi juga karena kelembutan dan kepedulian terhadap pasien yang mereka rawat. Dalam hal ini, nilai “welas asih” menjadi bagian integral dari praktik pengobatan yang islami.
Di Kesultanan Utsmaniyah, sistem pelayanan publik yang berasaskan rahmah juga terlihat dalam pembangunan rumah sakit dan dapur umum (imaret). Banyak bangunan kesehatan yang dibangun atas wakaf dan dijalankan tanpa memungut biaya dari pasien miskin.
Nilai dasar yang mendasari semua itu adalah kasih sayang terhadap yang lemah, dan pelayanan kepada semua golongan tanpa memandang agama, status sosial, atau latar belakang budaya.
Lebih jauh, dokumen-dokumen klasik seperti Risalah fi al-Tibb karya Ali ibn Ridwan dan Adab al-Tabib karya Ishaq ibn Ali al-Ruhawi menyebut bahwa seorang dokter dalam Islam harus memiliki “qalb rahim” atau hati yang penuh belas kasih.
Artinya, welas asih bukan sekadar perasaan, tetapi sebuah prinsip kerja dan tanggung jawab moral dalam interaksi sosial. Semua ini menunjukkan bahwa istilah dan semangat welas asih memang telah melekat dalam sistem pelayanan publik Islam sejak abad pertengahan.
Jika ditarik ke konteks lokal, penggunaan istilah “welas asih” dalam bahasa Sunda atau Jawa sebenarnya merupakan bentuk pelokalan dari nilai-nilai Islam yang telah lebih dahulu hadir.
Umat Islam di Nusantara sejak awal menyerap nilai-nilai Islam ke dalam kerangka budaya setempat tanpa menghilangkan esensi ajarannya. Inilah yang menyebabkan dakwah Islam di Indonesia berlangsung damai dan berakar kuat di masyarakat.
Nama “Welas Asih” pada rumah sakit di Jawa Barat bukanlah sekadar pilihan bahasa. Ia adalah jembatan antara nilai Islam universal dengan ekspresi budaya lokal yang hidup dan membumi.
Pemilihan nama ini mengandung semangat pelayanan, kepedulian, dan tanggung jawab kepada masyarakat—semua merupakan nilai yang dijunjung tinggi dalam ajaran Islam.
Mengkritik istilah “welas asih” karena dianggap bukan berasal dari bahasa Arab adalah kekeliruan yang berakar dari pendekatan tekstual sempit.
Baca Juga: Dedi Mulyadi: Pemimpin yang Anti-Islam adalah yang Tidak Berpihak pada Kepentingan Rakyat
Islam tidak mewajibkan umatnya untuk mengekspresikan nilai-nilai keagamaannya dalam satu bahasa tertentu. Islam justru mendorong pembumian nilai melalui bahasa yang dapat dimengerti dan dirasakan oleh masyarakat luas.
Dengan demikian, penggunaan istilah “welas asih” pada rumah sakit milik pemerintah daerah bukanlah penghilangan identitas keislaman, melainkan penguatan nilai Islam dalam ekspresi lokal.
Sejarah Islam klasik sendiri telah mencatat bahwa nilai kasih sayang menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang sehat, adil, dan beradab. Kini, nilai itu hadir kembali dalam sebuah nama yang sederhana, namun sarat makna: Welas Asih.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









